Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #21

BAB 21: RUMAH PERSEMBUNYIAN

Rumah tua itu tidak langsung menerima Rara sebagai penghuni.

Begitu pintu ditutup, ruangan terasa seperti menahan napas panjang yang sudah bertahun-tahun tidak dilepaskan. Bau debu, kayu lapuk, dan kain lama memenuhi udara. Di sudut ruang depan, kursi rotan mengeluarkan bunyi berderit ketika Rara duduk. Di dinding, foto hitam-putih keluarga Ibu Sintang tergantung miring, wajah-wajah di dalamnya tampak memandang ke arah mereka dengan mata yang pudar oleh waktu.

Di luar, angin melewati pohon sawo tua. Daunnya bergesekan pelan, seperti bisik-bisik orang yang tidak ingin terdengar.

Rara memegang gelas air dengan kedua tangan.

Air itu sudah tidak dingin, tetapi tangannya tetap gemetar.

Ibu Sintang berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan. Pak Jarwo memeriksa pintu belakang, lalu berjalan ke ruang samping, memastikan tidak ada orang lain di dalam rumah. Langkah sepatunya terdengar berat di lantai kayu.

Rara menatap gelasnya.

Di layar ponsel yang tergeletak di meja, pesan Fajar masih terbuka.

Bu, saya percaya Ibu.

Kalimat itu seperti tangan kecil yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya.

Namun di luar kalimat itu, dunia terasa runtuh.

Nama baiknya dihancurkan. Rumah neneknya didatangi massa. Keluarga Fajar diseret dalam fitnah. Pak Joko yang sakit dipermalukan. Bilqis, yang tidak tahu apa-apa, ikut terancam oleh mulut orang dewasa. Dan dirinya kini duduk di rumah asing seperti orang buron, padahal yang ia lakukan hanya mengajar, membantu keluarga miskin, dan merekam sesuatu yang sejak awal seharusnya tidak pernah ada di belakang sekolah.

Pak Jarwo kembali ke ruang depan.

“Aman untuk sementara,” katanya.

Ibu Sintang mengangguk. “Lampu depan jangan dinyalakan.”

“Tidak usah. Dari jalan, rumah ini kelihatan kosong.”

Rara mengangkat wajah. “Pak, saya harus ke kantor polisi untuk menjelaskan fitnah itu.”

Pak Jarwo menatapnya. “Nanti.”

“Kalau nanti, orang-orang makin percaya.”

“Kalau sekarang, kamu masuk ke tempat yang belum tentu bisa melindungimu dari narasi yang mereka buat.”

Rara menelan ludah. “Tapi Bapak polisi.”

“Saya polisi,” jawab Pak Jarwo tenang. “Bukan sulap.”

Kalimat itu membuat ruangan diam.

Pak Jarwo menarik kursi kayu, duduk di seberang Rara. Ia melepas topinya dan meletakkannya di meja. Di bawah cahaya lampu kecil, wajahnya tampak lebih tua daripada saat berdiri di depan massa. Ada garis-garis lelah di sekitar matanya. Bukan lelah karena kurang tidur semalam saja. Itu lelah orang yang terlalu sering menyaksikan kebenaran datang terlambat.

“Kita mulai dari awal,” katanya. “Saya perlu tahu semuanya. Bukan hanya video fitnah malam ini. Mulai dari Pak Joko, video limbah, ancaman, sepeda, sampai orang-orang yang kamu lihat.”

Rara menatap Ibu Sintang.

Kepala sekolah itu duduk perlahan di kursi samping. “Ceritakan. Di sini tidak ada yang perlu kamu lindungi dengan diam.”

Rara ingin langsung bicara, tetapi tenggorokannya kering.

Ia minum sedikit. Air itu terasa hambar, tetapi cukup membuat suaranya kembali.

Maka Rara bercerita.

Tentang Fajar yang datang pukul sembilan tiga puluh dengan baju lusuh dan wajah takut. Tentang guru-guru yang sudah menyerah. Tentang Putri yang menghina Fajar. Tentang tantangan Cerdas Cermat yang awalnya keluar dari emosi, tetapi kemudian berubah menjadi janji untuk memberi Fajar kesempatan. Tentang rumah Fajar yang hampir roboh, Bilqis yang terlalu kecil untuk menjaga ayah sakit, dan Pak Joko yang tubuhnya melemah seolah ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam.

Ia bercerita tentang klinik, rujukan rumah sakit, surat keterangan tidak mampu, dan Pak Jarot yang tersenyum sambil meminta agar dugaan penyebab penyakit Pak Joko tidak disebarkan.

Saat mendengar nama Pak Jarot, mata Pak Jarwo menyipit sedikit.

Tetapi ia tidak memotong.

Rara melanjutkan.

Tentang Iqbal yang jatuh di lapangan. Tentang bau asam di belakang sekolah. Tentang tanah mati, wadah aki pecah, air berlapis minyak, bekas roda truk, uji keasaman sederhana, dan Ibu Sintang yang memintanya mencatat fakta, bukan tuduhan. Tentang laporan yang tidak menjadi laporan. Tentang malam saat ia merekam truk membuang cairan gelap. Tentang video yang menyebar, lalu Pak Hermawan datang membawa bantuan, sembako, buku, dan senyum dermawan.

Nama Pak Hermawan membuat Pak Jarwo akhirnya bergerak sedikit. Jarinya mengetuk meja sekali.

“Lanjut,” katanya.

Rara bercerita tentang Sodik dan Bewok yang menghentikannya di jalan. Tentang sepeda jengki peninggalan neneknya yang bannya disayat. Tentang pesan ancaman. Tentang Pak Joko pulang rawat jalan. Tentang bimbingan belajar di rumah Fajar. Tentang video sebelas detik yang memotong semuanya menjadi fitnah.

Ketika selesai, Rara merasa tubuhnya kosong.

Seolah cerita itu bukan keluar dari mulutnya, melainkan dari luka yang baru dibuka.

Pak Jarwo tidak langsung bicara. Ia menunduk, mencatat beberapa nama di buku kecil: Jarot, Hermawan, Sodik, Bewok, Guntoro, area pembuangan, truk malam, video, ancaman, sepeda disayat.

“Guntoro?” tanya Rara pelan ketika melihat nama itu.

Pak Jarwo mengangkat mata. “Sodik dan Bewok sering ikut orang bernama Guntoro. Di desa ini, kalau ada pekerjaan kotor yang tidak ingin terlihat resmi, nama itu sering berada di dekatnya.”

Ibu Sintang menarik napas panjang.

Rara menatap kepala sekolah itu. “Ibu tahu?”

Ibu Sintang tidak segera menjawab.

Ia menatap foto hitam-putih di dinding, lalu menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. Tangan itu sudah tidak muda. Urat-uratnya terlihat di bawah kulit. Jari-jarinya sedikit bengkok, mungkin karena terlalu lama memegang kapur, buku absen, map sekolah, dan beban yang tidak pernah tertulis di laporan dinas.

“Saya tahu ada sesuatu yang salah sejak lama,” katanya akhirnya. “Tapi tahu dan mampu membuktikan itu dua hal yang berbeda.”

Rara menunggu.

Ibu Sintang melanjutkan, suaranya rendah.

“Dulu halaman belakang sekolah masih hidup. Anak-anak bisa menanam kacang hijau di botol bekas, dan tumbuh. Pohon singkong di belakang pagar masih besar. Air parit memang tidak jernih, tapi tidak berbau seperti sekarang. Lalu beberapa tahun terakhir, tanah berubah. Daun cepat menguning. Rumput mati. Anak-anak lebih sering pusing kalau main terlalu lama di belakang.”

“Kenapa tidak ditutup dari dulu, Bu?”

Pertanyaan itu keluar pelan, tetapi tetap menyakitkan.

Ibu Sintang menerimanya tanpa membela diri.

Lihat selengkapnya