Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #22

BAB 22: BUKU TITIPAN BU RARA

Pagi itu, Fajar datang ke sekolah dengan mata yang belum selesai tidur.

Seragamnya sudah dicuci, tetapi belum benar-benar kering ketika dipakai. Di bagian bahu masih ada rasa lembap yang dingin setiap kali angin lewat. Rambutnya disisir dengan tangan, tidak rapi, tetapi lebih baik daripada hari-hari ketika ia datang seperti baru berlari dari ujung dunia. Di dalam tas kainnya ada buku pelajaran, satu pensil pendek, dan kantong plastik kecil berisi obat Pak Joko yang harus ia ambil di puskesmas sepulang sekolah.

Di rumah, Pak Joko batuk lebih sering sejak subuh.

Bilqis tidak menangis, tetapi ia duduk terlalu dekat dengan ayahnya, memegang kipas kardus seperti prajurit kecil yang diberi tugas menjaga benteng. Ketika Fajar hendak berangkat, adiknya hanya bertanya, “Mas, Bu Rara nanti datang?”

Fajar tidak bisa menjawab.

Ia hanya berkata, “Jangan lupa Bapak minum air.”

Bilqis mengangguk, tetapi matanya tetap menunggu jawaban yang tidak diberikan.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, pertanyaan itu ikut berjalan di samping Fajar.

Bu Rara nanti datang?

Kemarin malam, setelah pesan terakhir dari Bu Rara masuk, Fajar membaca kalimat itu berkali-kali sampai huruf-hurufnya seperti menempel di kepala.

Ibu sedang dijaga orang baik. Kamu juga harus jaga dirimu.

Dijaga orang baik.

Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang. Tetapi justru semakin ia pikirkan, semakin dadanya terasa sesak. Orang yang aman tidak perlu dijaga. Orang yang baik-baik saja tidak perlu bersembunyi. Orang yang tidak dikejar tidak perlu menulis pesan seperti itu.

Di halaman sekolah, suasana terasa aneh.

Anak-anak tetap datang, tetapi suara mereka tidak selepas biasanya. Beberapa berbisik ketika Fajar lewat. Ada yang menatapnya lalu cepat-cepat memalingkan wajah. Ada yang pura-pura tidak melihat. Video fitnah itu tidak hanya menempel pada Bu Rara. Ia juga menempel pada rumah Fajar, pada nama ayahnya, pada kemiskinan mereka, pada pintu rumah yang semalam terbuka karena udara pengap dan bukan karena dosa apa pun.

Rizal datang mendekat dengan langkah ragu.

“Jar.”

Fajar menoleh. “Apa?”

“Kamu... tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu terdengar canggung. Rizal biasanya tidak begitu. Ia lebih suka bercanda daripada menyentuh hal yang sakit.

Fajar mengangkat bahu. “Biasa.”

“Kalau biasa, mukamu jangan kayak papan tulis habis kehujanan.”

Fajar hampir tersenyum, tetapi tidak jadi.

Rizal melihat sekeliling, lalu menurunkan suara. “Aku tidak percaya video itu.”

Fajar menatapnya.

“Aku tahu Bu Rara. Dia galak kalau kita salah, tapi bukan orang begitu.” Rizal menggaruk kepala. “Dan aku tahu kamu juga pasti ada di rumah.”

“Saya ada,” kata Fajar pelan. “Bilqis juga ada. Bapak cuma dibantu duduk.”

“Aku tahu.”

“Kamu tidak tahu. Kamu tidak lihat.”

“Tapi aku percaya.”

Kalimat itu membuat Fajar terdiam.

Percaya.

Kata itu sederhana, tetapi pagi itu terdengar seperti barang langka.

Sebelum Fajar sempat menjawab, bel masuk berbunyi. Anak-anak bergerak ke kelas. Fajar berjalan bersama Rizal, tetapi langkahnya berat. Ia melihat bangku guru di depan kelas. Kosong. Biasanya Bu Rara datang dengan tas kain, wajah lelah, dan senyum kecil yang tidak pernah benar-benar lebar tetapi cukup membuat kelas terasa ada yang menjaga.

Hari itu, yang masuk adalah Pak Damar.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, Pak,” jawab anak-anak, tidak serempak.

Pak Damar meletakkan buku di meja. Matanya sempat berhenti pada Fajar, lalu bergerak ke seluruh kelas.

“Bu Rara hari ini ada urusan,” katanya. “Untuk sementara, Bapak yang mendampingi pelajaran kalian.”

Tidak ada yang bertanya keras-keras.

Tetapi semua orang bertanya dalam diam.

Putri duduk di baris depan, punggungnya tegak seperti biasa. Namun wajahnya tidak setenang hari-hari sebelumnya. Sejak video fitnah itu menyebar, ia tampak seperti orang yang ingin bicara tetapi tidak tahu harus berdiri di sisi mana. Di rumahnya, mungkin Pak Hermawan sudah mengatakan sesuatu. Mungkin ayahnya menyebut Bu Rara pembuat gaduh. Mungkin ia diminta tidak ikut campur. Mungkin ia percaya. Mungkin juga ada bagian kecil di dirinya yang mengingat cara Bu Rara pernah menegurnya tanpa mempermalukan sepenuhnya.

Fajar tidak peduli.

Atau ia ingin tidak peduli.

Pelajaran berjalan seperti berjalan di atas kaca tipis. Pak Damar menjelaskan matematika, tetapi Fajar sulit menangkap. Angka-angka di papan tulis kabur, bukan karena matanya bermasalah, melainkan karena pikirannya terus berlari ke rumah tua yang entah di mana. Setiap kali pintu kelas berderit, ia menoleh. Setiap suara motor berhenti di halaman, dadanya berdebar. Setiap guru lewat di lorong, ia berharap sosok yang muncul adalah Bu Rara.

Namun Bu Rara tidak datang.

Menjelang istirahat, Bu Lilis masuk membawa tumpukan lembar latihan. Ia tidak seperti biasanya yang langsung bercanda. Wajahnya lebih hati-hati, seolah seluruh sekolah kini menjadi tempat dengan banyak kaca pecah.

“Ini latihan dari Bu Rara,” katanya.

Fajar langsung mengangkat wajah.

Bu Lilis membagikan lembar itu satu per satu. Ketika sampai di meja Fajar, ia menaruh lembar latihan sedikit lebih lama.

“Kerjakan pelan-pelan,” katanya lembut.

Fajar menatap kertas itu.

Di pojok kanan atas, ada tulisan tangan Bu Rara.

Fajar, jangan berhenti di soal yang sulit. Lewati dulu, kembali lagi nanti. Sama seperti hidup.

Tulisan itu rapi, tetapi ada bagian huruf yang sedikit miring, seperti ditulis dalam keadaan tergesa atau kurang tidur.

Fajar menyentuh ujung kertas itu dengan jari.

Sesuatu di dadanya bergerak.

Ia ingin bertanya kepada Bu Lilis di mana Bu Rara. Ingin meminta alamat. Ingin tahu apakah gurunya terluka. Apakah masih menangis. Apakah makan. Apakah tidur. Tetapi Bu Lilis sudah berjalan ke bangku lain, dan Pak Damar berdiri di depan kelas dengan wajah yang jelas berkata bahwa pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab di ruang terbuka.

Fajar menunduk ke lembar latihan.

Soal pertama tentang pecahan.

Ia bisa.

Soal kedua tentang gagasan utama.

Ia ragu, tetapi mencoba.

Soal ketiga tentang bagian tumbuhan.

Ia tahu.

Akar menyerap air dan zat hara, serta menopang tumbuhan.

Tangannya menulis pelan. Hurufnya masih miring, tetapi lebih tertata daripada dulu. Di luar kelas, suara anak-anak dari kelas lain terdengar, bercampur bunyi sapu lidi di halaman. Hidup sekolah berjalan, meski satu orang yang membuat Fajar mulai percaya pada sekolah sedang disembunyikan dari dunia.

Saat istirahat, Fajar tidak ke kantin. Ia tetap duduk di kelas, menatap lembar latihan yang separuh terisi. Rizal datang membawa dua tusuk cilok.

“Satu untukmu.”

“Saya tidak punya uang.”

“Siapa minta uang? Ini utang moral.”

Fajar menatapnya. “Apa itu?”

“Aku juga tidak tahu. Kedengarannya keren.”

Fajar menerima satu tusuk cilok. Ia menggigit pelan. Bumbu kacangnya pedas dan sedikit asam, membuat lidahnya terasa hidup lagi.

Rizal duduk di bangku sebelah. “Kamu mau cari Bu Rara?”

Fajar berhenti mengunyah.

“Kelihatan dari mukamu,” lanjut Rizal. “Mukamu itu kalau punya rencana selalu jadi lebih keras.”

“Saya tidak punya rencana.”

“Berarti sedang membuat.”

Fajar diam.

Lihat selengkapnya