Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #23

BAB 23: JANJI PUKUL TIGA SORE

Fajar tidak langsung menuruti pesan Bu Rara.

Ia mencoba.

Sungguh, ia mencoba.

Hari pertama setelah menerima buku titipan itu, ia duduk di bangku semen bawah pohon mangga dan mengerjakan lima soal seperti yang tertulis di halaman pertama. Ia tidak lebih. Tidak kurang. Pensil pendeknya bergerak pelan, kadang berhenti lama di atas kertas, kadang mengetuk meja seperti sedang mencari jalan keluar dari kepalanya sendiri.

Akar menyerap air dan zat hara.

Batang menyalurkan air.

Daun membuat makanan.

Ia menulis jawaban itu dengan huruf yang belum cantik, tetapi tidak berantakan. Setiap kali salah, ia menghapus sampai kertasnya hampir berlubang. Setiap kali benar, ia tidak tersenyum besar. Hanya menarik napas kecil, lalu melihat tulisan Bu Rara di pojok halaman.

Pelan-pelan bukan berarti berhenti.

Kalimat itu membuatnya bertahan sampai soal kelima.

Namun setelah itu, ketika bel pulang berbunyi dan anak-anak mulai berhamburan ke halaman, ketenangannya retak lagi.

Bu Rara tidak ada.

Ia tidak melihat langkah gurunya di lorong. Tidak mendengar suaranya memanggil Rizal agar tidak berlari. Tidak melihat tas kainnya di meja guru. Tidak ada bau minyak kayu putih tipis yang kadang menempel di lengan bajunya setelah pulang dari rumah sakit.

Sekolah terasa seperti mulut yang kehilangan suara.

Fajar memasukkan buku catatan ke tas, lalu berjalan pulang dengan kepala penuh pikiran. Di rumah, Pak Joko sedang tidur. Bilqis duduk di dekat pintu, menggambar di tanah dengan ranting.

“Mas,” katanya begitu Fajar masuk halaman. “Bu Rara kapan datang?”

Fajar melepas tas dari bahu. “Belum tahu.”

“Kenapa belum tahu terus?”

“Karena memang belum tahu.”

Bilqis menatapnya. Wajah kecilnya tampak kecewa, tetapi ia tidak marah. Anak itu sudah terlalu sering belajar menerima jawaban yang tidak memuaskan. Obat mahal. Beras kurang. Bapak belum sembuh. TK nanti dulu. Bu Rara belum tahu kapan datang.

Ia kembali menggores tanah dengan ranting.

Gambarnya kali ini seorang perempuan berambut panjang sedang berdiri di samping anak kecil.

“Ini siapa?” tanya Fajar.

“Bu Rara.”

“Yang kecil?”

“Saya.”

“Kenapa tanganmu panjang sekali?”

“Biar bisa pegang Bu Rara walau jauh.”

Fajar terdiam.

Ia ingin menegur gambar itu, ingin bilang tangan manusia tidak sepanjang itu. Tetapi kalimat Bilqis membuat mulutnya kering. Ia masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa, mengganti baju, lalu membantu ayahnya minum obat ketika Pak Joko terbangun.

Sore itu ia tetap belajar.

Sesuai pesan.

Tetapi matanya berkali-kali melirik ke jalan.

Tidak ada Bu Rara.

Malam harinya, setelah Bilqis tidur dan Pak Joko terbatuk-batuk sampai lelah, Fajar membuka buku catatan lagi. Di halaman kedua, ada tulisan Bu Rara:

Hari 2: Ulangi pecahan. Jangan takut pada angka. Angka hanya keras di awal.

Fajar membaca kalimat itu lama.

Lalu ia menutup buku.

Ia tidak takut pada angka.

Ia takut pada orang.

Pada Sodik dan Bewok. Pada orang-orang yang bisa memotong kebaikan menjadi fitnah. Pada warga yang semalam berteriak di rumah Bu Rara. Pada mereka yang mungkin sekarang tahu bahwa Bu Rara disembunyikan entah di mana.

Ia takut karena tidak tahu.

Dan bagi Fajar, ketidaktahuan selalu lebih menyiksa daripada lapar.

Keesokan paginya, ia memperhatikan Ibu Sintang sejak kepala sekolah itu turun dari motornya.

Ibu Sintang datang lebih pagi dari biasanya. Ia memakai kebaya sederhana warna abu tua dan membawa tas kain hitam. Wajahnya tenang, tetapi Fajar melihat sesuatu yang berbeda dari cara ia berjalan: tidak lambat, tidak terburu, tetapi terlalu hati-hati. Seperti orang yang tahu ada mata mengawasi dari tempat yang tidak kelihatan.

Fajar berdiri di dekat kelas, pura-pura mengikat tali sepatu yang sebenarnya tidak bertali.

Ibu Sintang masuk ke ruang kepala sekolah.

Beberapa menit kemudian, Pak Damar menyusul. Lalu Bu Lilis. Mereka berbicara di dalam cukup lama. Pintu tertutup. Dari luar, Fajar hanya mendengar potongan suara yang tidak jelas.

“...catatan...”

“...jangan sampai...”

“... Pak Jarwo...”

Nama itu membuat telinga Fajar menegang.

Pak Jarwo.

Polisi yang membawa Bu Rara pergi. Polisi yang menurut Ibu Sintang membantu karena hukum dan bukti. Fajar belum tahu apakah ia harus percaya sepenuhnya. Orang dewasa sering punya kalimat bagus, tetapi hidupnya mengajarkan bahwa yang bagus di mulut belum tentu sampai di tangan.

Namun kalau Bu Rara bersamanya, berarti mungkin orang itu baik.

Mungkin.

Saat jam istirahat, Ibu Sintang keluar dari ruang kepala sekolah dan berjalan ke arah belakang kantor. Fajar sedang duduk di bawah pohon mangga dengan buku catatan terbuka. Begitu melihat kepala sekolah itu, ia menunduk seolah membaca.

Ibu Sintang melewatinya.

Di tangannya ada tas kain hitam yang sama, kini tampak lebih penuh.

Fajar menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu berdiri.

Rizal yang duduk di sebelahnya langsung berbisik, “Mau ke mana?”

“Buang air.”

“Buku catatanmu dibawa buang air?”

Fajar melihat tangannya sendiri. Ia masih memegang buku.

Ia cepat-cepat memasukkannya ke tas. “Jaga tas saya.”

“Jar.”

Fajar berhenti.

Rizal menatapnya dengan wajah yang jarang serius. “Jangan bodoh.”

“Saya cuma mau lihat.”

“Itu kalimat orang bodoh sebelum benar-benar bodoh.”

Fajar tidak menjawab.

Ia berjalan menjauh.

Rizal menghela napas panjang, lalu bergumam, “Anak ini kalau keras kepala bisa ngalah-ngalahin batu nisan.”

Ibu Sintang tidak pergi jauh saat itu. Ia hanya menuju gudang samping sekolah untuk mengambil beberapa berkas lama bersama penjaga sekolah. Fajar kecewa, tetapi juga lega karena belum ketahuan. Ia kembali ke kelas sebelum bel masuk, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun sejak hari itu, ia mulai mengamati.

Tidak terang-terangan. Fajar sudah terlalu sering hidup sebagai anak yang harus peka terhadap suasana. Ia tahu cara melihat tanpa kelihatan melihat. Ia tahu cara mendengar tanpa menoleh. Ia tahu kapan harus menunduk agar orang dewasa mengira ia tidak peduli.

Hari pertama, Ibu Sintang pulang lewat jalan utama seperti biasa.

Hari kedua, ia pulang agak sore, tetapi hanya ke rumahnya.

Hari ketiga, setelah sekolah sepi dan langit mulai condong, Ibu Sintang mengeluarkan sepeda dari samping kantor.

Bukan motor.

Sepeda.

Fajar yang sedang menyapu kelas sebagai hukuman ringan karena terlambat mengumpulkan tugas, melihat dari balik jendela. Ia berhenti menyapu.

Sepeda Ibu Sintang tua, tetapi terawat. Keranjangnya kecil, dicat hitam, dan di dalamnya ada tas kain. Kepala sekolah itu memakai kerudung luar yang lebih gelap dari biasanya. Ia berbicara sebentar dengan Pak Damar di teras kantor. Pak Damar tampak ragu, tetapi Ibu Sintang menggeleng.

Lalu ia berangkat.

Fajar merasakan dadanya memukul.

Ia tahu.

Entah bagaimana, ia tahu.

Ibu Sintang tidak sedang pulang biasa.

Ia menyandarkan sapu ke dinding, mengambil tas, lalu keluar lewat pintu samping kelas. Rizal yang sedang menunggu di halaman melihatnya.

“Jar?”

“Bilang Pak Damar saya ke kamar mandi.”

“Dengan tas?”

Fajar tidak berhenti.

Rizal menepuk jidat sendiri. “Ya Allah, anak ini benar-benar mau jadi masalah berjalan.”

Fajar menjaga jarak cukup jauh dari Ibu Sintang.

Awalnya ia berjalan cepat. Lalu saat jarak melebar, ia berlari kecil. Jika Ibu Sintang menoleh, ia bersembunyi di balik pohon, pagar bambu, gerobak kosong, atau dinding rumah warga. Tubuhnya kecil dan terbiasa bergerak tanpa menimbulkan suara. Di pasar, ia menyelinap di antara ibu-ibu yang pulang belanja. Di dekat warung, ia pura-pura berhenti melihat jajanan. Ketika Ibu Sintang melintasi pertigaan menuju jalan yang lebih sepi, Fajar mulai merasa takut.

Jalan itu bukan jalan pulang kepala sekolah.

Di kiri kanan, rumah warga makin jarang. Sawah terbentang, sebagian hijau, sebagian kering. Angin sore membawa bau lumpur, rumput, dan asap bakaran sampah dari kejauhan. Matahari turun perlahan, membuat bayangan pohon kelapa memanjang di tanah.

Fajar terus mengikuti.

Kakinya mulai pegal.

Ia belum makan siang benar. Hanya sisa roti pemberian Ibu Sintang kemarin dan air putih. Perutnya beberapa kali berbunyi, tetapi ia mengabaikannya. Ia teringat Bilqis di rumah, Pak Joko yang harus minum obat sore, dan rasa bersalah segera datang. Ia seharusnya pulang. Seharusnya menjaga ayahnya. Seharusnya tidak menambah masalah.

Lihat selengkapnya