Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #24

BAB 24: ANAK GUNTORO

Iqbal tidak pernah suka tidur siang.

Sejak kecil, tubuhnya seperti menyimpan terlalu banyak angin. Begitu matahari mulai miring sedikit saja, kakinya ingin berlari. Kalau ibunya dulu masih hidup, ia akan dikejar dari dapur sampai halaman sambil dimarahi karena belum mencuci kaki. Kalau Guntoro sedang di rumah, anak itu akan pura-pura patuh lima menit, lalu menghilang ke lapangan dengan bola kempis di tangan.

Beberapa hari terakhir, Iqbal tidak lagi seperti itu.

Awalnya hanya hal kecil yang mudah dianggap biasa. Sepulang sekolah ia lebih cepat duduk di teras, padahal biasanya baru mau pulang kalau bola sudah tidak terlihat di bawah cahaya sore. Saat Bu Rara masih mengajar seperti biasa, sebelum fitnah menutup sebagian pintu rumah warga, Iqbal pernah tampak pucat di pinggir lapangan. Ia tertawa ketika teman-temannya mengejeknya kalah lari, tetapi tawanya tidak sepanjang biasanya. Pernah pula ia duduk terlalu lama di bawah pohon setelah pelajaran olahraga, memegang lutut, bilang kepalanya muter sebentar.

Tidak ada yang langsung menaruh tanda merah pada kejadian itu.

Anak-anak sering lelah. Anak-anak sering lupa sarapan. Anak-anak yang bermain bola di lapangan belakang sekolah bisa saja jatuh, pusing, lalu bangun lagi begitu teman-temannya memanggil. Bahkan ketika Iqbal pernah hampir ambruk dan dibawa ke UKS, banyak orang masih menggenggam kemungkinan yang paling ringan: kurang makan, kepanasan, dehidrasi, terlalu banyak berlari.

Iqbal sendiri juga begitu. Ia selalu punya alasan untuk kembali ke bola.

Sekarang, siang itu, anak itu terbaring di tikar rumahnya.

Matanya terbuka, tetapi tidak benar-benar menatap apa pun. Napasnya pendek. Di lehernya ada keringat dingin yang membuat kerah kausnya lembap. Jari-jari tangan kanannya bergerak sesekali, bukan gerak anak yang sedang gelisah ingin main, melainkan getaran kecil yang membuat Guntoro menatapnya terlalu lama.

“Bal,” panggil Guntoro.

Iqbal menoleh lambat.

“Kamu mau minum?”

Iqbal menggeleng.

“Sedikit saja.”

“Pahit, Pak.”

“Air putih kok pahit.”

“Di mulut pahit.”

Guntoro diam.

Ia duduk di samping tikar dengan tubuh besar yang mendadak tampak tidak berguna. Lengan yang biasa dipakai mendorong orang, memukul meja, mengancam warga, kini hanya menggantung di lutut. Di luar rumah, suara anak-anak bermain terdengar sayup-sayup dari arah lapangan. Ada teriakan, ada tawa, ada bunyi bola ditendang mengenai batu.

Iqbal memejamkan mata.

Bibirnya bergerak pelan.

“Bolanya... jangan sampai masuk semak.”

Guntoro menunduk.

Anaknya masih memikirkan bola.

Rumah mereka tidak terlalu buruk dibanding rumah Fajar, tetapi jauh dari nyaman. Dindingnya papan, sebagian sudah diganti seng bekas. Di sudut ada karung beras setengah kosong, ember air, dan tumpukan pakaian yang belum sempat dicuci. Foto almarhumah istri Guntoro tergantung di dinding, bingkainya miring. Dalam foto itu, perempuan itu tersenyum kecil sambil memeluk Iqbal yang masih balita. Pipi Iqbal waktu itu bulat. Matanya jernih. Tangannya memegang mobil-mobilan plastik merah yang rodanya sudah hilang satu.

Guntoro jarang melihat foto itu lama-lama.

Hari itu, matanya berkali-kali kembali ke sana.

“Pak,” suara Iqbal nyaris seperti bisikan.

“Iya?”

“Besok boleh sekolah?”

Guntoro meremas lututnya sendiri. “Kalau sudah enakan.”

“Kalau tidak enakan?”

“Ya enakan dulu.”

Iqbal membuka mata sedikit. “Saya mau ikut latihan bola.”

“Bola terus isi kepalamu.”

Iqbal tersenyum lemah. “Kalau isi kepala bola, gampang ditendang.”

Biasanya Guntoro akan tertawa, mungkin menjitak pelan kepala anaknya. Biasanya Iqbal akan pura-pura kesakitan lalu tertawa keras. Tetapi hari itu, lelucon kecil itu jatuh di lantai dan tidak pecah menjadi tawa.

Guntoro mengambil gelas. “Minum.”

Iqbal mencoba bangun. Tubuhnya bergerak, lalu berhenti. Wajahnya meringis.

Guntoro cepat-cepat menopang punggungnya. Kulit anak itu terasa panas sekaligus dingin, seperti tubuh yang bingung harus demam atau menggigil. Saat gelas ditempelkan ke bibirnya, tangan Iqbal bergetar. Air tumpah sedikit ke dagu.

“Pelan,” kata Guntoro.

Iqbal minum dua teguk, lalu memalingkan wajah.

“Sudah.”

“Sedikit lagi.”

“Mual, Pak.”

Guntoro meletakkan gelas. Ia ingin marah, bukan kepada Iqbal, tetapi kepada sesuatu yang tidak terlihat. Kepada panas yang tidak turun. Kepada batuk kecil yang datang dan pergi. Kepada tubuh anaknya yang beberapa hari terakhir makin sulit diajak berdiri. Kepada dirinya sendiri yang tahu cara membuat orang takut, tetapi tidak tahu cara membeli kesembuhan.

Ia berdiri, berjalan ke luar rumah, lalu menyalakan rokok.

Belum sempat diisap, ia mematikannya lagi.

Iqbal tidak suka bau rokok kalau sedang mual.

Guntoro menatap puntung rokok di jarinya, lalu melemparkannya ke tanah.

Sodik datang menjelang sore, membawa motor dengan suara knalpot kasar. Bewok ikut di belakang, turun sambil mengunyah kacang. Mereka biasanya masuk rumah Guntoro tanpa banyak basa-basi. Hari itu, Sodik berhenti di halaman ketika melihat wajah Guntoro.

“Anakmu gimana?”

“Masih lemas.”

Bewok melongok ke dalam rumah. “Dibawa ke mantri?”

“Sudah. Dikasih obat. Katanya kalau makin parah dibawa ke rumah sakit besar.”

Sodik menggaruk leher. “Rumah sakit besar itu mahal, Tor.”

“Aku tahu.”

“Kalau butuh motor, pakai punyaku dulu,” kata Sodik, tidak selantang biasanya.

Guntoro menatapnya. Di wajah Sodik tidak ada pengetahuan besar tentang penyakit, tidak ada perhitungan jauh tentang apa yang bisa terbuka dari rumah sakit. Yang ada hanya rasa tidak enak melihat anak teman sendiri terbaring lemah.

Bewok menunduk, lalu berkata pelan, “Kalau mau minta ke Pak Hermawan, ngomongnya baik-baik. Jangan datang kayak mau gebrak meja.”

“Aku memang mau minta bantuan.”

“Ya itu. Minta. Jangan nagih.”

Guntoro menahan napas. Di dalam rumah, Iqbal batuk kecil. Batuk itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Guntoro menoleh.

“Kalian tunggu di sini,” katanya.

Sodik mengernyit. “Sekarang?”

“Sekarang.”

“Tor, dia mungkin ada tamu.”

“Anakku tidak bisa menunggu jadwal tamunya.”

Tidak ada yang membantah lagi.

Rumah Pak Hermawan selalu terasa seperti bukan bagian dari Desa Wisnu Bakti.

Pagar besinya tinggi. Halamannya bersih. Rumputnya dipotong rapi. Lampu taman menyala bahkan sebelum gelap benar. Di teras, pot-pot tanaman tertata dengan jarak yang hampir sama, seolah kemiskinan desa tidak diizinkan masuk sampai ke tanahnya.

Guntoro berdiri di depan pagar dengan kaus kusut dan sandal penuh debu. Ia menekan bel sekali. Satpam kecil yang biasa menjaga membuka setelah melihat wajahnya.

“Pak Hermawan ada?”

“Ada tamu, Pak.”

“Bilang Guntoro datang.”

Satpam itu ragu, tetapi akhirnya masuk.

Beberapa menit kemudian, Guntoro dipersilakan ke teras samping, bukan ruang tamu utama. Ia tahu bedanya. Orang seperti Pak Jarot masuk ruang tamu. Relasi pejabat masuk ruang tamu. Guru-guru saat acara sekolah mungkin disambut di ruang depan. Guntoro, yang biasa diberi perintah kasar, diterima di samping rumah, di dekat pot dan keran air.

Lihat selengkapnya