Iqbal meninggal sebelum azan subuh selesai.
Guntoro tidak langsung percaya.
Ia masih menggenggam tangan anaknya ketika napas kecil itu berhenti di antara dua tarikan yang terlalu lemah. Semula, ia mengira Iqbal hanya tertidur. Tubuh anak itu memang sudah sangat lelah sejak malam. Demamnya naik turun seperti api yang dipermainkan angin. Sesekali Iqbal mengigau, menyebut bola, menyebut lapangan, menyebut ibunya, lalu kembali diam dengan bibir kering dan kening basah.
Guntoro duduk di sampingnya sepanjang malam.
Setiap beberapa menit, ia memeriksa napas anaknya dengan mendekatkan wajah ke hidung Iqbal. Ia mengganti kain kompres. Ia menyuapkan air sedikit-sedikit. Ia menggumamkan janji yang tidak tahu kepada siapa ditujukan.
“Besok kita ke rumah sakit, Bal. Bapak cari uang. Bapak pinjam. Bapak jual motor kalau perlu. Kamu tahan sedikit.”
Iqbal tidak menjawab.
Menjelang subuh, suara ayam pertama terdengar dari rumah tetangga. Angin dingin masuk melalui celah papan. Di kejauhan, musala mulai menyalakan pengeras suara. Ada bunyi batuk kecil dari Iqbal. Guntoro langsung mendekat.
“Bal?”
Mata Iqbal terbuka sedikit.
“Pak...”
“Iya, Nak. Bapak di sini.”
“Bolanya...”
Guntoro menahan napas. “Nanti Bapak belikan bola baru.”
Iqbal seperti ingin tersenyum, tetapi bibirnya hanya bergerak samar.
“Jangan... masuk semak...”
Setelah itu, dadanya naik pelan.
Turun.
Lama tidak naik lagi.
Guntoro menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
“Iqbal?”
Tidak ada jawaban.
Guntoro mengguncang bahunya pelan. “Bal.”
Tubuh kecil itu tidak membalas.
“Bal, jangan main-main.”
Tangannya naik ke hidung Iqbal. Tidak ada hangat napas di sana. Ia menempelkan telinga ke dada anaknya, mencari bunyi yang semalam masih ada meski lemah. Hanya sunyi. Sunyi yang sangat luas, seolah seluruh rumah mendadak kehilangan dinding dan berubah menjadi lubang gelap.
Azan subuh mulai terdengar.
Allahu akbar.
Guntoro mematung.
Tangannya masih berada di dada Iqbal.
Allahu akbar.
Baru pada panggilan kedua itu tubuhnya bergerak. Ia menarik Iqbal ke pangkuannya, memeluknya erat, seakan kalau ia cukup kuat memeluk, napas anak itu bisa kembali masuk ke tubuhnya.
“Bal...”
Suaranya pecah, tetapi masih kecil.
“Iqbal... bangun, Nak.”
Tidak ada gerakan.
Guntoro mengguncang tubuh anaknya lagi, kali ini lebih panik. “Bangun. Bapak sudah bilang kita ke rumah sakit. Bangun dulu. Jangan tidur begini. Bal!”
Tetangga sebelah mendengar teriakan itu.
Pintu rumah terbuka. Langkah orang berlari mendekat. Seorang ibu masuk lebih dulu, lalu seorang bapak tua. Mereka berhenti di ambang pintu ketika melihat Guntoro duduk di lantai dengan Iqbal di pangkuan.
Tidak ada yang langsung bicara.
Ada beberapa kesedihan yang membuat mulut manusia kehilangan fungsi.
Ibu tetangga itu mendekat perlahan. “Mas Guntoro...”
“Dia tidur,” kata Guntoro cepat. “Dia cuma tidur.”
Perempuan itu menutup mulutnya.
“Dia cuma tidur,” ulang Guntoro, matanya liar. “Badannya capek. Semalam panas. Nanti bangun. Dia mau main bola.”
Bapak tua itu menunduk. Suaranya rendah. “Innalillahi...”
“Jangan!” Guntoro menoleh tajam. “Jangan ngomong begitu.”
Bapak itu berhenti.
Tetapi kalimat itu sudah membuka pintu.
Dalam beberapa menit, kabar bergerak dari satu rumah ke rumah lain.
Iqbal meninggal.
Anak Guntoro.
Yang kemarin sakit.
Yang dulu sering main bola di lapangan belakang sekolah.
Yang pernah jatuh pingsan.
Kabar duka di desa tidak pernah berjalan sendiri. Ia membawa langkah, bisik, tangis, dan rasa bersalah yang kadang baru muncul setelah semuanya terlambat. Rumah Guntoro mulai didatangi orang. Perempuan-perempuan membawa kain. Lelaki-lelaki menunduk di halaman. Ada yang membaca doa. Ada yang hanya berdiri dengan mata merah.
Guntoro tidak melepas Iqbal sampai dua orang tua kampung membujuknya berkali-kali.
“Tor, harus dimandikan.”
“Sebentar.”
“Jenazah harus disiapkan.”
“Sebentar.”
“Tor...”
“Sebentar!”
Suaranya menggelegar, membuat beberapa orang mundur.
Lalu ia melihat wajah Iqbal.
Anaknya tampak lebih kecil setelah meninggal. Seperti semua kenakalan, keras kepala, dan angin yang dulu memenuhi tubuhnya sudah pergi, meninggalkan cangkang anak yang terlalu ringan. Bibirnya pucat. Kelopak matanya tertutup. Di pipinya masih ada sisa garis air mata atau keringat yang mengering.
Guntoro menunduk, mencium keningnya lama.
Panasnya sudah mulai pergi.
Itulah yang akhirnya membuat Guntoro menyerah.
Ia membiarkan para tetangga mengambil tubuh Iqbal dari pangkuannya.
Di SDN 1 Wisnu Bakti, kabar itu sampai ketika anak-anak baru selesai berbaris.
Pagi itu, halaman sekolah terasa muram sejak awal. Langit kelabu, tidak hujan, tetapi cahaya matahari tertahan awan tipis. Anak-anak berdiri dengan suara lebih pelan dari biasanya. Beberapa masih membicarakan video fitnah Bu Rara. Beberapa lain mulai mendengar kabar samar dari rumah.
Pak Damar menerima telepon saat hendak masuk kelas.
Wajahnya berubah.
Bu Lilis yang berdiri di dekatnya langsung bertanya, “Ada apa?”