Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #26

BAB 26: PENGAKUAN ORANG YANG BERDOSA

Malam setelah pemakaman Iqbal, Guntoro tidak sanggup langsung pulang ke rumahnya.

Ia sempat berdiri lama di depan pintu, menatap tikar kosong tempat anaknya terakhir berbaring. Bantal kecil masih ada di sana. Kipas kardus buatan tangan yang semalam dipakai mengusir gerah masih tergeletak di sampingnya. Gelas yang belum habis diminum Iqbal berada dekat dinding, airnya tinggal separuh, permukaannya menangkap cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan.

Rumah itu penuh oleh suara yang seharusnya ada, tetapi kini tinggal bekasnya.

Tidak ada batuk kecil.

Tidak ada rengekan minta bola.

Tidak ada langkah kaki yang berlari ke luar begitu mendengar teman-temannya memanggil dari lapangan.

Hanya nyamuk, detak jam murah di dinding, dan napas Guntoro yang kasar.

Ia masuk sebentar, mengambil jaket lusuh dari paku, lalu berhenti di depan foto istrinya. Perempuan dalam foto itu tersenyum sambil memeluk Iqbal kecil. Mobil-mobilan merah di tangan Iqbal tampak jelas, meski warna foto sudah mulai pudar.

“Jaga dia,” bisik Guntoro.

Ia tidak tahu apakah kalimat itu doa, permintaan maaf, atau hanya suara orang yang sudah terlalu hancur untuk diam.

Di luar, Sodik menunggu di dekat motor. Bewok duduk di bangku bambu, wajahnya kusut. Sejak pemakaman tadi, Bewok tidak banyak bicara. Mulut yang biasanya ringan melempar candaan seolah kehilangan keberanian di depan makam kecil Iqbal.

“Tor,” kata Sodik pelan. “Mau ke mana?”

Guntoro memasang jaket. “Rumah Pak Joko.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Sudah malam.”

“Makanya orang-orang tidak banyak lihat.”

Bewok berdiri. “Aku ikut.”

Guntoro menatapnya.

Bewok mengangkat kedua tangan. “Bukan buat ngawasi. Aku... aku ikut saja.”

Sodik menghela napas. “Kalau Pak Hermawan tahu—”

Guntoro menoleh tajam.

“Jangan sebut nama itu di depan saya malam ini.”

Sodik terdiam.

Guntoro menyalakan motor. Suaranya pecah membelah halaman yang masih menyimpan bau bunga tabur dan tanah basah dari sandal orang-orang yang datang melayat. Ia tidak menunggu mereka naik. Sodik akhirnya mengambil motornya sendiri. Bewok naik di belakang Sodik.

Mereka bergerak melewati jalan desa yang gelap.

Lampu-lampu rumah sebagian sudah padam. Beberapa orang masih duduk di teras, membicarakan kematian Iqbal dengan suara rendah. Ketika motor Guntoro lewat, percakapan mereka berhenti sebentar. Dulu orang berhenti bicara karena takut pada Guntoro. Malam itu, mereka berhenti karena tidak tahu cara memandang ayah yang baru mengubur anaknya.

Guntoro tidak peduli.

Di kepalanya hanya ada satu garis lurus: Pak Joko.

Ia harus bertanya sendiri.

Ia harus mendengar sendiri.

Rumah Fajar tampak lebih rapuh di malam hari. Dinding kayunya seperti menyerap gelap. Dari celah papan, cahaya lampu kecil keluar tipis. Di halaman, beberapa karung rongsokan ditumpuk di bawah terpal. Ada bau besi tua, tanah lembap, obat gosok, dan asap dapur yang hampir padam.

Guntoro mematikan motor di ujung halaman.

Sodik dan Bewok berhenti agak jauh.

“Jangan ikut masuk,” kata Guntoro.

Sodik membuka mulut, tetapi menutupnya lagi.

Guntoro berjalan ke pintu.

Ia mengetuk pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Dari dalam terdengar suara Fajar. “Siapa?”

Guntoro tidak langsung menjawab.

Nama sendiri terasa berat di mulutnya.

“Guntoro.”

Hening.

Lalu suara barang bergerak. Langkah kecil. Pintu terbuka sedikit. Fajar berdiri di baliknya, tubuhnya tegang, matanya langsung keras begitu melihat siapa yang datang.

“Bapak mau apa?”

Guntoro menatap anak itu.

Fajar masih kecil. Kelas lima. Kurus. Mata merah karena kurang tidur. Namun malam itu ia berdiri di depan pintu seperti pagar terakhir untuk rumahnya.

“Bapakmu ada?”

“Sedang istirahat.”

“Saya mau bicara.”

“Bapak saya sakit.”

“Saya tahu.”

“Kalau mau menakut-nakuti, cari orang lain.”

Kalimat itu pelan, tetapi tajam.

Guntoro menerima tusukan itu tanpa marah. Mungkin dulu ia akan membentak. Mungkin dulu ia akan mendorong pintu. Mungkin dulu ia akan membuat anak seperti Fajar menunduk hanya dengan menaikkan suara.

Malam itu, ia hanya berkata, “Anak saya mati hari ini.”

Wajah Fajar berubah sedikit.

Bukan melunak sepenuhnya.

Tetapi luka mengenali luka.

“Saya tahu,” kata Fajar.

“Saya tidak datang untuk menakut-nakuti.”

“Lalu?”

“Saya mau tanya tentang penyakit bapakmu.”

Fajar menatapnya lama.

Dari dalam, suara Pak Joko terdengar lemah. “Jar... siapa?”

Fajar tidak menoleh. “Pak Guntoro.”

Ada jeda.

Lalu Pak Joko berkata, “Biarkan masuk.”

Fajar membuka pintu lebih lebar, tetapi tubuhnya tetap berada di sisi pintu, seolah siap menahan jika sesuatu terjadi.

Guntoro masuk.

Rumah itu sempit. Terlalu sempit untuk tubuhnya yang besar dan rasa bersalah yang ikut masuk bersamanya. Pak Joko terbaring di atas tikar, punggung ditopang bantal. Wajahnya pucat, pipinya cekung, tetapi matanya masih hidup. Bilqis tidur di sudut, tubuh kecilnya meringkuk memeluk kain. Di dinding, kertas jadwal obat tulisan Rara masih tertempel.

Guntoro melihat tulisan itu.

Huruf rapi.

Pagi. Siang. Malam.

Ia menelan sesuatu yang pahit.

Perempuan yang ia bantu fitnah ternyata menulis jadwal obat untuk laki-laki sakit ini.

Pak Joko mencoba duduk lebih tegak. Fajar segera membantu.

“Tidak usah, Pak,” kata Guntoro.

Pak Joko tetap duduk sedikit. “Orang datang malam-malam biasanya membawa kabar buruk atau utang. Saya tidak punya tenaga untuk dua-duanya.”

Guntoro hampir tersenyum, tetapi wajahnya tidak sanggup.

“Saya mau tanya,” katanya.

Pak Joko menatapnya. “Tentang apa?”

“Gejala Bapak.”

Lihat selengkapnya