Video Guntoro tidak langsung meledak di Desa Wisnu Bakti.
Setidaknya, tidak pada mulanya.
Di desa itu, kabar besar sering kali harus melewati pintu-pintu kecil: grup warga, status ponsel, warung kopi, obrolan setelah salat, ibu-ibu yang membeli cabai, anak-anak yang menguping orang tua. Tetapi malam ketika Guntoro mengirim pengakuannya, pintu-pintu kecil itu seperti tiba-tiba dikunci dari dalam.
Beberapa orang menerima video itu, menontonnya sampai selesai, lalu duduk lama tanpa tahu harus melakukan apa. Ada yang langsung menghapus karena takut. Ada yang hendak membagikan ulang, tetapi tangannya berhenti di atas layar ketika ingat nama Hermawan, nama Pak Jarot, nama Guntoro, dan semua orang yang selama ini bisa membuat hidup warga kecil mendadak lebih sulit.
Di grup warga, video itu sempat muncul selama tujuh menit.
Hanya tujuh menit.
Cukup bagi beberapa orang melihat wajah Guntoro yang kusut di depan lapangan gelap. Cukup untuk mendengar kalimat, “Video yang menuduh Bu Rara itu bohong.” Cukup untuk membuat dua ibu menangis diam-diam karena mereka ingat ikut menyebarkan fitnah semalam. Cukup untuk membuat seorang bapak mematikan rokoknya dan berkata pelan, “Kalau ini benar, kita semua berdosa.”
Lalu video itu hilang.
Admin grup menulis pesan singkat:
Mohon tidak menyebarkan video yang belum jelas kebenarannya. Jangan memperkeruh suasana menjelang acara sekolah.
Tak lama kemudian, muncul pesan lain.
Video Guntoro hanya dendam pribadi karena anaknya meninggal. Jangan mudah terprovokasi.
Lalu pesan lain lagi.
Pihak keluarga Pak Hermawan sudah banyak membantu desa. Jangan menuduh tanpa bukti resmi.
Kata “bukti resmi” tiba-tiba menjadi tembok.
Warga yang selama ini tidak pernah memikirkan bukti saat menonton sebelas detik fitnah Bu Rara, kini mendadak meminta bukti resmi untuk video pengakuan yang panjang, jelas, dan penuh nama. Kebenaran sering kalah bukan karena tidak punya suara, tetapi karena kebohongan lebih dahulu membeli pengerasnya.
Pagi itu, Pak Hermawan sarapan di meja makan yang bersih.
Di hadapannya ada roti panggang, telur setengah matang, potongan buah, dan kopi hitam tanpa gula. Putri duduk di sisi meja, buku latihan Cerdas Cermat terbuka, tetapi matanya beberapa kali melirik ponsel ayahnya yang terus bergetar.
Hermawan membaca satu pesan, lalu satu lagi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Hanya ibu jarinya yang mengetuk pinggir cangkir dua kali, kebiasaan kecil yang Putri kenali sebagai tanda ayahnya sedang kesal.
“Papa banyak urusan?” tanya Putri.
Hermawan mengangkat wajah. Senyumnya langsung muncul, rapi seperti kemeja yang ia pakai.
“Sedikit urusan kantor.”
“Masalah video itu?”
Sendok kecil di tangan Hermawan berhenti.
“Video apa?”
Putri menelan ludah. Ia tidak yakin harus menyebutnya atau tidak. Semalam, ia melihat sekilas potongan video Guntoro di status seorang teman sebelum hilang. Ia tidak menonton sampai selesai, tetapi cukup mendengar nama Bu Rara disebut. Cukup melihat wajah Guntoro yang bukan seperti orang marah biasa. Wajah itu seperti orang yang kehilangan sesuatu dan menemukan kesalahan di tangannya sendiri.
“Yang katanya... Pak Guntoro bicara.”
Hermawan meletakkan sendok.
“Putri,” katanya lembut, “kamu fokus pada lombamu. Jangan isi kepala dengan urusan orang dewasa yang penuh drama.”
“Tapi dia ayahnya Iqbal.”
“Iya. Dan orang yang sedang berduka bisa mengatakan banyak hal tanpa berpikir jernih.”
Putri menatap telur di piringnya. Kuningnya masih lembek, berkilau terkena cahaya pagi. Entah kenapa ia teringat makam kecil Iqbal. Tanah basah. Wajah Guntoro. Anak-anak sekolah yang menabur bunga.
“Dia bilang Bu Rara difitnah,” kata Putri pelan.
Hermawan tidak langsung menjawab.
Udara di ruang makan berubah tipis.
“Dan kamu percaya?”
Putri mengangkat wajah cepat. “Aku tidak bilang percaya.”
“Tapi kamu membawa kalimat itu ke meja makan.”
Nada Hermawan tetap halus, tetapi Putri merasa tubuhnya mengecil. Ini cara ayahnya marah: tidak keras, tidak membentak, tetapi membuat setiap kata terasa seperti penilaian.
Putri menunduk. “Maaf, Pa.”
Hermawan mengambil tisu, menyeka sudut bibirnya, lalu berkata dengan suara lebih lembut, “Papa tahu kamu anak pintar. Anak pintar tidak mudah digiring opini. Besok atau lusa, semua orang akan lupa video itu. Yang akan mereka ingat adalah siapa yang menang Cerdas Cermat.”
Putri diam.
Hermawan mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu mau menang, kan?”
“Iya.”
“Bagus. Karena sekolah itu butuh contoh. Anak-anak desa itu butuh melihat standar yang lebih tinggi. Jangan biarkan dirimu terganggu oleh Fajar, Bu Rara, atau orang-orang yang memakai kemiskinan sebagai panggung.”
Ada bagian dari Putri yang ingin mengangguk cepat seperti biasa.
Namun nama Iqbal masih bergetar di belakang kepalanya.
Ia melihat lagi Guntoro di pemakaman. Seorang ayah yang memegang tanah makam anaknya.
Apakah itu panggung?
“Putri.”
Ia tersentak. “Iya, Pa.”
“Menanglah dengan bersih. Jawab soal sebaik mungkin. Papa akan datang. Beberapa relasi Papa juga mungkin ikut melihat. Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan bahwa kamu tetap bersinar di mana pun ditempatkan.”
Putri mengangguk.
Kalimat itu seharusnya membuatnya bangga. Relasi ayahnya datang. Orang-orang penting melihat. Ia bisa membuktikan dirinya lebih unggul dari Fajar dan semua anak desa yang pernah ia remehkan.
Tetapi pagi itu, kebanggaan itu terasa seperti baju indah yang bagian dalamnya gatal.
Hermawan berdiri, mengancingkan jas tipisnya. “Papa ada urusan sebentar dengan Pak Jarot. Kamu belajar.”
Putri menatap punggung ayahnya pergi.
Di meja, ponselnya sendiri bergetar. Pesan dari Sari.
Put, video Pak Guntoro benar nggak?
Putri menatap layar itu lama.
Lalu ia mengetik:
Tidak tahu.
Ia hampir menambahkan: Papa bilang jangan percaya.
Tetapi ia menghapus kalimat itu.
Sementara itu, di kantor kelurahan, Pak Jarot menyeka keringat di pelipisnya meski kipas angin berputar tepat di atas kepala.
Hermawan duduk di hadapannya dengan wajah tenang. Terlalu tenang untuk kabar yang membuat Jarot sejak subuh tidak bisa duduk diam.
“Video itu harus berhenti,” kata Hermawan.
“Sudah saya minta admin grup hapus.”
“Minta?” Hermawan mengulang pelan. “Pak Jarot, ini bukan saatnya meminta. Ini saatnya memastikan.”
Pak Jarot tertawa kering. “Maksud saya, sudah saya pastikan. Admin takut, kok. Warga juga saya kasih pengertian.”
“Pengertian tidak cukup.”