Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #28

BAB 28: PANGGUNG UNTUK PUTRI

Pagi lomba Cerdas Cermat datang dengan wajah yang terlalu rapi.

Sejak subuh, halaman SDN 1 Wisnu Bakti sudah dibersihkan. Daun-daun kering disapu ke sudut, pot bunga yang biasanya miring diluruskan, dan bangku-bangku panjang dipindahkan ke depan aula kecil. Spanduk yang kemarin masih agak miring kini terbentang di atas pintu aula, warnanya cerah seperti tidak tahu apa-apa tentang makam Iqbal, tentang rumah Rara yang dikepung, tentang tanah mati di belakang sekolah.

Selamat Datang Peserta Seleksi Cerdas Cermat SDN 1 Wisnu Bakti.

Di bawah tulisan itu ada gambar anak-anak tersenyum memegang buku.

Fajar menatap spanduk itu dari ujung halaman.

Tangannya dingin, meski matahari belum benar-benar tinggi.

Seragamnya sudah disetrika semampu Bilqis. Ada garis lipatan yang tidak lurus di lengan, tetapi bersih. Sepatunya mengilap sedikit karena digosok dengan kain basah, meski bagian sol tetap menyimpan tanah yang sulit hilang. Rambutnya disisir, tetapi beberapa helai tetap jatuh ke dahi. Di dalam tasnya ada buku catatan Bu Rara, pensil, dan selembar kertas kecil yang sudah ia baca berkali-kali.

Kalau takut, jangan lari dari soal. Tarik napas. Baca ulang. Ingat: kamu tidak sedang membuktikan diri kepada orang yang menghina. Kamu sedang menjaga api kecil yang sudah kamu rawat sendiri.

Fajar memasukkan tangannya ke saku, meremas kertas itu.

Di rumah tadi pagi, Pak Joko memaksakan diri duduk saat Fajar hendak berangkat. Wajahnya pucat, tapi matanya lebih terang dari biasanya.

“Jar,” katanya, “kalau nanti lupa jawaban, jangan panik.”

Fajar mengangguk.

“Kalau kalah, pulang.”

Fajar menatap ayahnya.

Pak Joko tersenyum lemah. “Maksud Bapak, pulang tetap sebagai anak Bapak. Bukan sebagai orang gagal.”

Bilqis yang duduk di sampingnya langsung menyela, “Tapi Mas Fajar harus menang.”

“Lho,” Pak Joko menoleh, “tadi Bapak sedang bijaksana.”

“Menang dulu, bijaksana belakangan.”

Fajar hampir tertawa.

Bilqis memberikan sepotong kecil kertas bergambar. Gambarnya kali ini bukan daun yang seperti ikan, melainkan anak laki-laki kurus berdiri di atas panggung, memegang piala yang lebih besar dari tubuhnya.

“Ini buat Mas,” kata Bilqis.

“Pialanya kegedean.”

“Biar kelihatan dari jauh.”

Fajar menyimpan gambar itu di dalam buku.

Sebelum pergi, ia mencium tangan ayahnya. Pak Joko menahan tangannya sebentar.

“Bapak bangga sebelum kamu jawab soal pertama.”

Kalimat itu terus tinggal di dada Fajar sampai ia sampai di sekolah.

Namun begitu melihat halaman yang makin ramai, rasa bangga itu dikerumuni takut.

Anak-anak berlarian membawa kursi. Guru-guru sibuk mengatur daftar hadir. Ibu-ibu wali murid mulai berdatangan dengan baju terbaik mereka. Beberapa warga yang kemarin ikut bicara buruk tentang Bu Rara kini datang seperti tidak pernah memegang ponsel untuk menyebarkan fitnah. Mereka duduk di pinggir halaman, berbisik, menatap Fajar, lalu menatap aula.

Di dekat aula, Putri berdiri bersama Sari dan beberapa teman.

Putri memakai seragam yang sangat rapi. Pita rambutnya putih bersih. Sepatunya mengilap. Di dadanya terpasang nomor peserta. Wajahnya tenang, dagunya sedikit terangkat. Ia tampak seperti seseorang yang memang sudah disiapkan untuk menang sejak sebelum lomba dimulai.

Fajar melihatnya.

Putri juga melihat Fajar.

Tidak ada ejekan langsung. Tidak ada senyum meremehkan yang biasa. Namun tatapan Putri cukup mengatakan banyak hal: hari ini adalah panggungku.

Fajar menunduk ke sepatunya.

“Jar.”

Rizal muncul di sampingnya, membawa sebotol air mineral yang tutupnya sudah penyok.

“Minum.”

“Saya tidak haus.”

“Biasanya orang yang bilang tidak haus itu nanti suaranya bunyi kayak pintu rusak pas jawab soal.”

Fajar menerima botol itu. Ia minum sedikit. Airnya terasa hangat karena sudah lama dibawa Rizal, tetapi cukup membantu tenggorokannya.

“Kamu gugup?” tanya Rizal.

“Tidak.”

“Bohong.”

“Iya.”

Rizal mengangguk puas. “Bagus. Kalau mengakui gugup, berarti belum gila.”

Fajar menatap aula. Di dalamnya, meja peserta sudah disusun. Ada bel kecil di tengah meja. Di depan, meja juri. Di belakang, kursi untuk tamu. Di sudut ruangan, papan skor berdiri menunggu angka. Setiap benda tampak seperti punya mata.

“Bu Rara datang?” tanya Fajar pelan.

Rizal ikut melihat sekeliling. “Aku belum lihat.”

Fajar tidak menjawab.

Ia sudah tahu kemungkinan besar Bu Rara tidak akan muncul. Ibu Sintang sudah bilang situasi belum aman. Pak Damar juga memberi tanda supaya ia fokus. Tetapi bagian kecil dalam dirinya tetap berharap gurunya akan berdiri di suatu tempat, mungkin dekat jendela, mungkin di belakang kerumunan, mungkin hanya sebentar.

Ia butuh melihat satu kali saja.

Satu kali untuk memastikan bahwa janji pukul tiga sore tidak berakhir di ruang kosong.

Di rumah tua, Rara berdiri di depan cermin kecil yang retak di sudutnya.

Ia mengenakan kerudung warna gelap milik Ibu Sintang, masker kain, dan kacamata besar tanpa lensa yang dipinjam dari lemari lama. Rambutnya disembunyikan. Wajahnya tampak berbeda, lebih tua sedikit, lebih lelah. Di atas meja, ada tas kecil berisi ponsel, flashdisk, dan buku catatan.

Ibu Sintang berdiri di belakangnya, tangan dilipat.

“Ini ide buruk,” kata kepala sekolah itu.

Rara tidak menoleh. “Saya tahu.”

“Kalau kamu tahu, kenapa tetap dilakukan?”

“Karena Fajar akan berdiri di sana sendirian.”

“Dia tidak sendirian. Ada Pak Damar. Ada Bu Lilis. Ada saya.”

“Dia mencari saya.”

Ibu Sintang diam.

Itu yang membuat Rara tahu alasannya benar.

Pak Jarwo masuk dari pintu depan. Ia memakai baju biasa, topi lusuh, dan membawa jaket. Wajahnya tidak setuju, tetapi ia sudah kalah dalam perdebatan yang belum dimulai.

“Saya hanya izinkan kamu masuk sebentar,” katanya. “Duduk di pojok. Tidak bicara. Tidak membuka masker. Kalau situasi berubah, kamu keluar lewat pintu samping.”

Rara mengangguk.

“Kalau ada yang mengenali?”

“Saya keluar.”

“Kalau Hermawan melihat?”

Rara menarik napas. “Saya keluar.”

Pak Jarwo menatapnya tajam. “Jangan jadi pahlawan di waktu yang salah.”

Rara menunduk sebentar. “Saya hanya ingin murid saya tahu bahwa saya tidak meninggalkannya.”

Lihat selengkapnya