Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #29

BAB 29: JAWABAN FAJAR

Jawaban benar itu belum membuat Fajar menang.

Papan skor masih tampak kejam.

Putri tetap jauh di depan, duduk tegak dengan dagu terangkat, seolah angka-angka di papan hanya sedang berjalan sesuai takdirnya. Di baris penonton, beberapa orang masih bertepuk untuknya dengan keyakinan yang belum goyah. Pak Hermawan kembali tersenyum, meski senyum itu lebih tipis daripada tadi. Ia membetulkan posisi jam tangannya, lalu berbisik kepada lelaki di sebelahnya.

“Anak-anak kadang mendapat keberuntungan kecil.”

Lelaki itu tertawa pelan.

Fajar mendengar.

Dulu, kalimat seperti itu cukup untuk membuat kepalanya runtuh. Keberuntungan kecil. Seolah setiap jawaban benar yang keluar dari mulutnya bukan hasil dari malam-malam mengantuk di bangsal, bukan hasil mengulang pecahan saat perut lapar, bukan hasil tulisan Bu Rara di kertas lusuh, bukan hasil menahan rasa malu ketika salah di depan kelas.

Ia menatap meja.

Di bawah telapak tangannya, kayu meja terasa kasar. Ada bekas goresan nama murid lama. Ada noda tinta yang tidak hilang. Di dekat bel, ujung jarinya masih sedikit gemetar, tetapi napasnya mulai lebih teratur.

Tarik napas.

Baca ulang.

Jangan lari dari soal.

Di pojok ruangan, Bu Rara masih duduk dengan penyamaran. Ia tidak bergerak mencolok. Hanya matanya yang terus menahan Fajar agar tetap berada di tempatnya.

Juri membalik kertas soal.

“Kita lanjutkan babak pertama. Soal berikutnya. Dalam sebuah paragraf, kalimat utama biasanya berisi...”

Putri menekan bel.

“Gagasan pokok.”

“Benar.”

Tepuk tangan kembali terdengar.

Fajar tidak panik.

Ia tahu Putri cepat. Ia tahu Putri pintar. Mengingkari itu hanya membuatnya bodoh dengan cara lain. Bu Rara pernah berkata, lawan yang kuat tidak perlu dibenci untuk dikalahkan; cukup dipahami supaya kita tahu bagaimana berdiri.

Soal berikutnya.

“Jika sebuah benda bergerak karena didorong atau ditarik, maka dorongan atau tarikan itu disebut...”

Fajar menekan bel.

“Gaya.”

“Benar.”

Rizal menepuk paha sendiri. “Nah!”

Pak Damar menatap Rizal tajam, tetapi sudut mulutnya naik.

Papan skor berubah.

Putri: 90.

Fajar: 40.

Masih jauh.

Tetapi tidak sedingin tadi.

Putri menoleh sekilas. Matanya tajam, tapi di balik tajam itu ada sesuatu yang mulai retak. Ia tidak menyangka Fajar bisa kembali setelah tertinggal sejauh itu. Biasanya anak yang sudah dipermalukan akan diam. Biasanya orang miskin yang sudah ditertawakan akan menunduk. Biasanya Fajar yang dulu datang terlambat hanya akan menerima kata bodoh sebagai nasib.

Namun Fajar hari ini tidak menunduk lama.

Putri meremas pensilnya.

Di kepalanya terngiang suara ayahnya pagi tadi.

Yang akan mereka ingat adalah siapa yang menang Cerdas Cermat.

Ia harus menang.

Bukan ingin.

Harus.

Babak pertama selesai dengan Putri tetap unggul. Peserta lain tersingkir secara nilai. Tinggal Putri dan Fajar yang masuk babak penentuan. Anak-anak di aula mulai berbisik lebih keras. Beberapa yang tadinya yakin Putri akan menang mudah kini duduk lebih tegak. Mereka mencium perubahan kecil di udara, seperti saat mendung tiba-tiba bergerak dan orang mulai bertanya apakah hujan akan turun.

Ibu Sintang berdiri sejenak, memberi jeda sebelum babak kedua.

“Anak-anak, minum dulu. Tarik napas. Ini bukan perang, ini lomba.”

Rizal berbisik kepada temannya, “Kalau bukan perang, kenapa jantungku seperti dikejar kambing?”

Fajar mendengar dan hampir tersenyum.

Ia mengambil air mineral kecil dari bawah meja. Saat membuka tutupnya, tangannya masih sedikit bergetar. Air masuk ke tenggorokannya, hangat, tetapi membuat kepalanya lebih terang.

Putri tidak minum.

Ia duduk tegak, mata lurus ke depan. Pak Hermawan berdiri dari kursi tamu dan berjalan mendekati meja peserta. Semua orang memberi ruang, seolah ia punya hak khusus untuk berada di mana pun.

“Putri,” katanya lembut.

Putri menoleh.

“Papa bangga. Tetap tenang. Kamu sudah unggul.”

Putri mengangguk.

“Jangan biarkan tekanan kecil mengganggu. Kamu tahu kualitasmu.”

“Iya, Pa.”

Hermawan menyentuh bahunya. Gerakannya tampak penuh kasih. Dari luar, itu pemandangan ayah mendukung anaknya. Tetapi Putri merasakan beban di telapak tangan itu. Bukan sekadar dukungan. Itu perintah halus agar ia tidak mempermalukan nama keluarga.

Hermawan melirik Fajar.

Tatapannya ramah, tetapi dingin di dasar.

“Semangat juga, Fajar. Kamu sudah cukup mengejutkan.”

Cukup.

Kata itu lebih merendahkan daripada ejekan.

Fajar menatapnya, lalu menunduk sopan. “Terima kasih, Pak.”

Hermawan tersenyum, kembali ke kursinya.

Di pojok ruangan, Rara menggigit bagian dalam bibir. Ia ingin berdiri, ingin mengatakan bahwa anak itu tidak “cukup” apa pun, bahwa Fajar sedang memikul sesuatu yang tidak pernah dilihat orang-orang di kursi depan. Tetapi ia tetap diam.

Pak Jarwo, yang berdiri di dekat pintu samping dengan pakaian biasa, menatap Hermawan dari jauh. Ia tampak seperti warga biasa, tetapi matanya terus bekerja. Ponselnya bergetar beberapa kali. Ia membacanya singkat, lalu memasukkannya lagi ke saku.

Babak kedua dimulai.

“Babak ini adalah babak cepat-tepat. Nilai benar dua puluh. Salah dikurangi sepuluh. Harap peserta berhati-hati.”

Kata dikurangi sepuluh membuat beberapa anak berseru pelan.

Fajar mengusap telapak tangannya ke celana.

Salah tidak lagi hanya berhenti. Salah bisa menariknya mundur.

Juri membaca soal pertama.

“Perhatikan pernyataan berikut. Sumber pencemaran lingkungan dapat berasal dari kegiatan rumah tangga, pertanian, dan...”

Putri menekan bel.

“Industri.”

“Benar.”

Putri: 110.

Fajar: 40.

Sorak pendukung Putri kembali naik.

Fajar menarik napas.

Soal kedua.

“Kalimat yang digunakan untuk menanyakan sesuatu disebut kalimat...”

Putri bergerak cepat, tetapi kali ini Fajar lebih dulu.

“Tanya.”

“Benar.”

Putri: 110.

Fajar: 60.

Soal ketiga.

“Delapan belas dibagi tiga, kemudian dikalikan empat, hasilnya...”

Fajar menekan bel.

Tangannya lebih cepat dari pikirannya.

Sejenak ia panik. Angka-angka berputar. Delapan belas dibagi tiga. Enam. Enam kali empat.

“Dua puluh empat.”

“Benar.”

Tepuk tangan lebih besar.

Putri menegang.

Pak Hermawan tidak lagi bersandar santai.

Fajar: 80.

Jarak mulai menyusut.

Rizal menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak berteriak terlalu keras. Bu Lilis di barisan guru memejamkan mata sebentar, seperti menahan doa yang hampir keluar menjadi suara.

Soal berikutnya tentang sejarah. Putri menjawab benar.

Soal berikutnya tentang sinonim. Fajar salah.

“Antonim dari kata subur adalah...”

Fajar menekan bel terlalu cepat. Kata yang muncul di kepalanya bukan jawaban, melainkan halaman sekolah yang retak. Tanah mati. Pohon kering.

“Rusak,” jawabnya.

Juri menggeleng. “Salah. Jawaban yang tepat: tandus atau gersang.”

Nilai Fajar turun.

Fajar: 70.

Putri: 130.

Lihat selengkapnya