Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #30

BAB 30: RUANG KEPALA SEKOLAH

Ruang kepala sekolah mendadak terasa lebih sempit dari biasanya.

Padahal tidak ada yang berubah dari letak meja Ibu Sintang, lemari arsip di sudut, foto presiden dan wakil presiden di dinding, atau vas bunga plastik yang warnanya mulai pudar di atas rak. Jendela masih terbuka separuh, membiarkan angin siang masuk bersama bau debu halaman dan sisa panas tubuh orang-orang yang tadi memenuhi aula. Kipas angin di langit-langit berputar dengan suara ngik, ngik, ngik, seolah ikut menahan napas.

Ibu Sintang berdiri di belakang mejanya.

Pak Hermawan duduk di kursi tamu dengan punggung tegak. Putri tidak ikut masuk; ia ditinggal di aula bersama Bu Lilis, masih berusaha mengatur napas setelah menangis. Lily berdiri tidak jauh dari kursi suaminya. Wajahnya tenang, tetapi tangannya masih menyimpan gerakan seorang ibu yang baru saja melepas anaknya dari pelukan. Pak Jarot berdiri dekat lemari arsip, tubuhnya sedikit condong ke arah Pak Hermawan, seperti orang yang ingin tampak sebagai penengah, padahal sudah memilih sisi. Pak Damar masuk tidak lama kemudian dan berdiri dekat pintu.

Bu Rara belum masuk.

Di lorong, Fajar bersembunyi di balik dinding dekat pintu ruang kepala sekolah. Ia datang terlambat beberapa detik setelah Bu Rara. Ia tidak berani terlalu dekat, tetapi pintu yang tidak tertutup rapat membuat suara dari dalam keluar satu per satu. Piagam di tangannya mulai berkerut karena terlalu erat digenggam.

“Silakan, Pak Hermawan,” kata Ibu Sintang. “Apa yang ingin Bapak bicarakan?”

Pak Hermawan tersenyum kecil. Senyum itu rapi, tetapi dingin.

“Bu Sintang, saya menghargai acara tadi. Saya menghargai usaha sekolah. Saya juga tidak ingin merusak kegembiraan anak-anak.” Ia berhenti sebentar, seperti memberi ruang bagi kalimatnya sendiri agar terdengar bijak. “Tapi saya harus jujur, kemenangan tadi terlalu mengejutkan.”

Ibu Sintang diam.

Pak Hermawan melanjutkan, “Anak seperti Fajar, dengan riwayat akademik seperti itu, tiba-tiba unggul dari Putri? Tentu wajar kalau saya bertanya.”

Pak Damar menatapnya tajam.

“Bapak bertanya sebagai orang tua Putri atau sebagai pihak yang ingin mengubah hasil?” tanyanya.

Pak Hermawan menoleh pelan. “Pak Damar, jangan terburu-buru menarik kesimpulan. Dalam lomba, keberuntungan bisa terjadi. Anak yang biasanya tertinggal bisa saja tiba-tiba menjawab satu dua soal dengan benar. Tetapi mewakili sekolah ke tingkat kabupaten bukan soal kejutan satu hari.”

Kata keberuntungan itu sampai ke telinga Fajar di luar pintu.

Ia menunduk.

Jadi begitu.

Menang pun masih dianggap kebetulan.

Ibu Sintang mengambil map hasil penilaian dari atas meja. “Nilai sudah tercatat. Juri dari sekolah tetangga yang menilai. Soal dibacakan terbuka. Jawaban Fajar sah. Tidak ada keberatan selama lomba berlangsung.”

“Keberatan saya bukan hanya pada teknis lomba.”

“Lalu?”

“Pada kelayakan mengirimnya.”

Ruangan menjadi lebih dingin.

Pak Hermawan menautkan jari di depan tubuhnya. “Sekolah harus berpikir lebih jauh. Jika wakil sekolah dikirim ke kabupaten, yang dibawa bukan hanya nama anak itu. Yang dibawa adalah nama sekolah, nama desa, nama kita semua. Kita perlu anak yang siap, yang terbiasa tekanan, yang punya pembinaan jelas.”

Ia menoleh sebentar ke arah pintu, seolah Putri masih berdiri di sana untuk dijadikan bukti.

“Putri jauh lebih siap. Kami punya fasilitas. Buku latihan, guru privat, kelas tambahan, transportasi, apa pun yang dibutuhkan. Saya bisa mendatangkan pembimbing yang lebih berkualitas. Saya punya relasi. Saya bisa membuka jalan agar sekolah ini terlihat lebih siap.”

Lily menatap suaminya. Ia tahu Hermawan sedang bicara tentang Putri, tetapi di balik itu ia juga sedang bicara tentang dirinya sendiri: tentang uang, nama, dan pintu-pintu yang biasa terbuka ketika ia mengetuknya.

Pak Hermawan lalu memiringkan kepala sedikit.

“Sedangkan Fajar...” Ia menghela napas pendek, seperti orang yang sebenarnya enggan menyampaikan kebenaran pahit. “Maaf, Bu. Kita semua tahu kondisi anak itu. Datang tepat waktu saja sering kesulitan. Seragamnya kusut. Pikirannya terbagi urusan rumah. Keluarganya penuh masalah. Apa sekolah yakin anak seperti itu mampu membawa nama sekolah?”

Di luar pintu, Fajar seperti kehilangan udara.

Seragamnya kusut.

Keluarganya penuh masalah.

Anak seperti itu.

Kata-kata itu tidak keras, tetapi masuk ke tubuhnya seperti pasir panas.

Pak Jarot berdeham pelan. “Menurut saya, apa yang disampaikan Pak Hermawan ada benarnya. Kita harus mempertimbangkan nama baik sekolah. Jangan sampai nanti di tingkat kabupaten kita malah—”

“Malah apa, Pak Jarot?” tanya Ibu Sintang.

Pak Jarot tersenyum kaku. “Maksud saya, jangan sampai anaknya belum siap.”

“Anaknya punya nama,” kata Ibu Sintang. “Fajar.”

Ruangan hening sebentar.

Di lorong, Fajar mengangkat wajah sedikit.

Lihat selengkapnya