Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #31

BAB 31: PINTU YANG TERBUKA

Langkah-langkah itu terdengar lebih dulu sebelum orangnya terlihat.

Tegas. Teratur. Tidak tergesa seperti warga yang penasaran, tidak ringan seperti guru yang hendak menenangkan murid. Langkah itu datang dari lorong depan, melewati kerumunan yang mendadak menyingkir tanpa diperintah. Suara bisik-bisik di luar ruang kepala sekolah patah satu per satu. Anak-anak yang tadinya berdesakan ingin melihat Fajar berhenti bicara. Kursi plastik bergeser. Seseorang menarik napas terlalu keras.

Pak Hermawan masih berdiri di dekat pintu.

Untuk pertama kalinya sejak Rara mengenalnya, wajah lelaki itu tidak sempat menyusun ekspresi yang sempurna.

Pintu ruang kepala sekolah terbuka lebih lebar.

Pak Jarwo masuk paling depan.

Bukan dengan seragam lengkap yang biasa dikenakan saat patroli kecil di desa, melainkan dengan kemeja gelap dan jaket tipis. Wajahnya lelah, matanya tajam. Di belakangnya ada tiga orang berpakaian dinas dari tingkat yang lebih tinggi, seorang petugas lingkungan, dan dua orang lain yang membawa map tebal serta tas berisi perangkat penyimpanan data. Salah satu dari mereka menunjukkan surat dengan lambang resmi di bagian atas.

Udara di ruangan berubah.

Bukan karena orang-orang itu membawa ancaman kasar. Justru karena mereka masuk dengan ketenangan yang tidak bisa ditawar.

Pak Jarot mundur setengah langkah.

“Pak Jarwo,” katanya, suaranya kering. “Ini sedang ada urusan sekolah.”

Pak Jarwo menatapnya sebentar. “Saya tahu.”

Lalu ia menatap Pak Hermawan.

“Pak Hermawan.”

Hermawan sudah menemukan senyumnya kembali, meski pinggirnya tampak kaku. “Ada apa ini, Pak Jarwo? Saya rasa waktu dan tempatnya kurang tepat. Sekolah sedang mengadakan kegiatan anak-anak.”

“Benar,” kata Pak Jarwo. “Justru karena itu kami tidak ingin menunggu lebih lama.”

Salah satu petugas yang berdiri di samping Pak Jarwo membuka surat.

“Pak Hermawan ditangkap atas dugaan pencemaran lingkungan berat, pemalsuan laporan operasional, penyuapan, intimidasi warga, dan manipulasi informasi. Pak Jarot juga ditangkap atas dugaan penyalahgunaan wewenang, penghalangan laporan warga, serta membantu manipulasi informasi dan penghapusan bukti.”

Kata-kata itu jatuh satu demi satu seperti batu.

Pencemaran.

Pemalsuan.

Penyuapan.

Intimidasi.

Manipulasi.

Fajar berdiri mematung. Piagam di tangannya makin kusut. Ia tidak sepenuhnya memahami semua istilah, tetapi ia memahami wajah orang-orang dewasa di ruangan itu: wajah Pak Jarot yang kehilangan warna, wajah Pak Hermawan yang menegang, wajah Bu Rara yang seperti menahan napas setelah berlari jauh.

Di ambang pintu, Putri muncul dengan wajah sembap. Bu Lilis berdiri beberapa langkah di belakangnya, tampak ragu antara menarik anak itu kembali ke aula atau membiarkannya mencari ibunya. Keributan di lorong membuat Putri mengikuti suara orang dewasa yang menyebut nama ayahnya.

Lily menoleh. Sesaat ia ingin meminta Putri menjauh, tetapi langkah petugas sudah memenuhi ruangan. Ia hanya mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Putri tetap dekat dengannya.

Putri menatap ayahnya.

“Pa...?”

Suaranya kecil.

Hermawan tidak menoleh kepadanya.

Ia menatap petugas itu, lalu tertawa pelan. “Ini pasti salah paham. Tuduhan seperti itu tidak bisa dibawa masuk begitu saja ke sekolah. Saya ini perwakilan perusahaan resmi. Semua kegiatan kami memiliki dokumen.”

Petugas itu menatapnya datar. “Dokumen itu juga menjadi bagian dari pemeriksaan.”

Pak Jarot menyela cepat. “Bapak-bapak, ini acara sekolah.”

Pak Jarwo menoleh kepadanya. “Bapak juga ditangkap, Pak Jarot. Tuduhannya: penyalahgunaan wewenang, penghalangan laporan warga, dan membantu manipulasi informasi.”

Tubuh Pak Jarot seolah kehilangan sendi.

Di lorong, suara warga mulai naik lagi.

“Lurah juga?”

“Pak Hermawan kenapa?”

“Katanya soal video Guntoro benar?”

“Bu Rara ternyata...?”

Potongan-potongan bisik itu masuk ke ruangan seperti angin kotor yang lama tertahan.

Rara berdiri di samping Fajar. Tubuhnya gemetar, tetapi ia tidak mundur. Ia menatap Pak Jarwo. Ada banyak pertanyaan di matanya, tetapi Pak Jarwo hanya mengangguk kecil. Bukan tanda semuanya selesai. Hanya tanda bahwa jalan yang mereka buka dengan takut, bukti, dan luka akhirnya sampai ke pintu ini.

Hermawan mengangkat tangan, tetap berusaha menguasai ruangan.

“Saya keberatan dengan cara ini. Bapak-bapak membawa isu sensitif ke ruang pendidikan, di depan anak-anak, di tengah acara. Ini pencemaran nama baik.”

Pak Jarwo menatapnya lurus. “Pencemaran nama baik Bu Rara juga terjadi di depan warga, Pak. Lewat video yang sengaja dipotong.”

Wajah Hermawan mengeras.

“Saya tidak tahu-menahu soal video itu.”

“File asli sudah kami terima. Saksi yang terlibat dalam perekaman sudah memberi keterangan awal.”

Pak Hermawan melirik cepat ke arah Pak Jarot.

Gerakan itu kecil, tetapi terlihat.

Putri melihatnya.

Dan sesuatu di dada Putri turun, jauh, seperti ember jatuh ke sumur tanpa dasar.

File asli.

Saksi.

Video dipotong.

Berarti yang dikatakan Guntoro benar?

Berarti Bu Rara benar-benar difitnah?

Berarti ayahnya tahu?

Putri menatap Rara. Guru itu tidak membalas dengan kebencian. Tidak tersenyum menang. Tidak menatap Putri seperti anak musuh. Rara justru tampak sedih. Sedih yang membuat Putri ingin menghindar, karena rasa sedih itu jauh lebih sulit ditanggung daripada amarah.

Pak Hermawan masih mencoba bicara.

“Guntoro itu preman. Orang seperti dia bisa berkata apa saja untuk menyelamatkan diri. Dia kehilangan anaknya, saya turut berduka, tapi—”

“Jangan bawa anak saya untuk membersihkan mulut Bapak.”

Suara itu datang dari lorong.

Semua orang menoleh.

Guntoro berdiri di antara kerumunan.

Wajahnya kusut, matanya merah, bajunya masih tampak seperti orang yang belum benar-benar pulang dari pemakaman. Di sampingnya, Sodik dan Bewok berdiri dengan wajah tegang. Beberapa warga langsung menjauh memberi jalan, bukan lagi karena takut seperti dulu, tetapi karena duka yang dibawa Guntoro membuat orang segan bernapas terlalu keras.

Pak Hermawan menatapnya dengan mata tajam. “Kamu tidak seharusnya ada di sini.”

Guntoro tertawa pendek. Suaranya pecah. “Bapak juga tidak seharusnya berdiri di sekolah anak-anak sambil pura-pura peduli pendidikan.”

“Jaga mulutmu.”

“Saya sudah terlalu lama menjaga mulut, Pak.”

Pak Jarwo mengangkat tangan, memberi tanda agar Guntoro tidak maju lebih jauh. “Cukup. Keteranganmu sudah masuk. Jangan memperkeruh.”

Guntoro berhenti di ambang pintu. Ia menatap Rara sebentar.

“Bu,” katanya, suaranya lebih rendah, “saya minta maaf.”

Lihat selengkapnya