Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #32

BAB 32: SAYAP DI ATAS AWAN, AKAR DI TANAH DESA

Dua puluh tahun cukup panjang untuk membuat sebuah desa mengganti wajahnya, tetapi tidak cukup kuat untuk menghapus semua bekas yang tertanam di tanah.

Desa Wisnu Bakti siang itu tidak lagi tampak seperti desa yang dahulu berjalan pelan di bawah bayang-bayang takut. Jalan utamanya sudah beraspal, meski debu masih suka bangkit ketika kemarau datang terlalu lama. Warung-warung kecil di pinggir jalan memakai etalase kaca. Beberapa rumah kayu telah berganti menjadi bangunan bata sederhana. Anak-anak berseragam merah putih berjalan berkelompok sambil menenteng botol minum, tertawa dengan mulut penuh jajanan murah yang lengket di jari.

SDN 1 Wisnu Bakti juga telah berubah. Gerbangnya lebih kokoh. Dindingnya dicat ulang. Di halaman, pohon-pohon ketapang tumbuh cukup rindang, memberi teduh bagi bangku-bangku semen tempat murid-murid biasa menunggu jemputan. Bagian belakang sekolah yang dulu menyimpan rahasia pahit kini ditata menjadi area hijau kecil. Tidak megah, tidak sempurna, tetapi hidup. Di salah satu sudutnya berdiri papan kayu bertuliskan: TAMAN IQBAL.

Bunga kertas tumbuh di sana, merah dan sederhana, seolah cukup tahu bahwa kenangan tidak selalu membutuhkan marmer untuk tetap tinggal.

Sebuah mobil hitam mengilap memasuki jalan desa dengan pelan.

Mobil itu tampak asing di antara motor warga, gerobak sayur, dan sepeda anak-anak, tetapi lajunya rendah hati, tidak memaksa siapa pun menoleh lebih lama. Bodinya memantulkan langit pucat, pohon-pohon tepi jalan, serta wajah beberapa warga yang berhenti menoleh. Seorang anak kecil menunjuk sambil berbisik kepada temannya. Seorang bapak di depan warung menurunkan gelas kopinya. Ibu-ibu yang sedang menjemur kerupuk di tampah saling pandang, menebak-nebak siapa orang penting yang datang.

Mobil itu tidak melaju seperti orang yang ingin dipamerkan.

Ia berjalan perlahan, seakan pengemudinya sedang membaca ulang sesuatu yang pernah tertulis di sepanjang jalan itu.

Di balik kemudi, seorang pria berseragam putih menatap desa dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. Empat garis emas di bahunya menangkap cahaya matahari; tanda bahwa ia sudah lama melewati langit sebagai rumah kerja. Tubuhnya tegap. Wajahnya matang. Ada wibawa yang tenang pada caranya duduk, seperti seseorang yang terbiasa memegang kendali di tempat tinggi, mendengar deru mesin besar, dan mengantar banyak nyawa menembus awan.

Namun matanya tidak sedang berada di langit.

Matanya menyusuri tanah desa.

Di sebuah tikungan, laju mobil itu melambat ketika melewati bekas rumah kayu tua yang kini tinggal menyisakan beberapa papan lapuk dan halaman kosong. Rumah itu tidak lagi ditinggali. Sebagian dindingnya sudah hilang, sebagian lain ditopang bambu agar tidak roboh seluruhnya. Rumput liar tumbuh di sekitar bekas tangga. Di sampingnya, ada pohon pisang yang daunnya robek diterpa angin.

Pria itu menatap tempat itu sebentar.

Tidak lama.

Hanya cukup untuk membuat wajahnya berubah lebih teduh.

Ada sesuatu pada rumah reyot itu yang seperti menyimpan lapar, takut, bau obat gosok, dan doa-doa kecil yang dahulu mungkin tidak sempat bersuara. Bukan pemandangan indah. Bukan bangunan yang ingin diabadikan orang. Namun bagi pria itu, tempat semacam itu tampak memiliki bobot yang tidak bisa diukur dengan mata orang lewat.

Ia tidak berhenti.

Tangannya tetap di kemudi. Napasnya turun pelan. Mobil itu kembali bergerak, meninggalkan bekas rumah tua tersebut di belakang, menuju arah sekolah.

Beberapa meter sebelum gerbang SDN 1 Wisnu Bakti, pria itu melihat seorang perempuan tua berdiri di tepi jalan.

Perempuan itu sedang memegang sepeda jengki dengan ban depan kempis. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi punggungnya masih menyimpan keteguhan yang tidak mudah dipatahkan umur. Kerudung sederhananya menutupi rambut yang sudah banyak memutih. Tangannya, yang kurus dan mulai berkeriput, memegang setang sepeda sambil sesekali menunduk memeriksa ban yang mengempis hampir rata dengan tanah.

Sepeda itu tua.

Sangat tua.

Catnya tidak lagi asli seluruhnya. Ada bagian yang pernah dicat ulang, ada goresan yang dibiarkan seperti bekas luka lama. Rangkanya masih kokoh meski karat tipis tampak di beberapa sudut. Bel kecil di setang terlihat kusam. Keranjang depannya jelas lebih baru daripada rangkanya, mungkin sudah berkali-kali diganti. Namun bentuk sepeda itu masih menyimpan jiwa lama, seperti benda yang terlalu banyak menyaksikan perjalanan untuk sekadar disebut kendaraan.

Pria itu menginjak rem.

Mobil berhenti pelan di tepi jalan.

Ia tidak langsung turun. Beberapa detik, ia hanya menatap perempuan tua dan sepeda jengki itu dari balik kaca depan. Wajahnya diam, tetapi jemarinya di kemudi mengencang sedikit.

Lalu ia membuka pintu mobil.

Sepatunya menyentuh tanah desa. Debu halus langsung menempel di ujungnya. Ia berjalan menghampiri perempuan tua itu, meninggalkan mobil hitam mengilap tersebut begitu saja di belakang, seolah kendaraan mewah itu tidak lebih penting daripada satu sepeda tua yang sedang kempis bannya.

“Bu,” katanya lembut, “boleh saya bantu?”

Perempuan itu menoleh.

Matanya masih jernih. Garis-garis halus di wajahnya tidak mampu menghapus kebiasaan lama untuk menatap manusia dengan sungguh-sungguh. Ia memperhatikan pria di hadapannya: seragam putih, empat garis emas, sepatu bersih, wajah asing yang entah mengapa tidak terasa sepenuhnya asing.

“Ah, tidak usah, Nak,” jawabnya sambil tersenyum sungkan. “Cuma bannya kempis. Ibu bisa dorong pelan-pelan sampai bengkel dekat sekolah.”

“Jaraknya masih lumayan, Bu.”

“Dulu lebih jauh dari ini juga sering Ibu tempuh.” Perempuan itu tertawa kecil. “Tapi ya, dulu lutut Ibu belum suka protes seperti sekarang.”

“Kalau begitu, biar saya yang mendorong.” Pria itu tersenyum. “Lutut saya masih bisa diajak kerja sama.”

Perempuan tua itu ragu. “Seragammu bagus. Nanti kena oli.”

“Tidak apa-apa, Bu. Oli masih mudah dibersihkan.”

Perempuan itu mengangkat alis. “Ada yang lebih susah dibersihkan?”

Pria itu menatap rantai sepeda yang hitam oleh minyak lama.

“Ada,” jawabnya pelan.

Ia tidak menjelaskan. Ada noda yang tidak bisa dihapus dengan sabun, tetapi harus ditebus dengan keberanian untuk pulang.

Perempuan itu menatapnya sejenak, seperti hendak bertanya lebih jauh, tetapi kemudian ia menggeser tubuhnya dan membiarkan pria itu mengambil alih setang sepeda. Pria itu memegangnya dengan hati-hati, hampir penuh hormat, seakan sepeda itu bukan sekadar besi tua, melainkan sesuatu yang pernah menyimpan nyawa.

Mereka mulai berjalan beriringan.

Mobil hitam tertinggal di belakang. Beberapa warga makin penasaran, tetapi pria itu tidak menoleh. Perempuan tua itu berjalan di sampingnya, langkahnya pelan namun teratur. Angin siang membawa bau daun kering, aspal panas, dan aroma tanah yang kini jauh lebih sehat daripada masa lalu.

“Sepeda ini sudah tua sekali,” kata pria itu setelah beberapa langkah. “Masih sering dipakai?”

Perempuan itu menyentuh rangka sepeda dengan jari keriputnya.

“Tidak setiap hari. Ibu punya motor kecil di rumah. Sekolah juga punya kendaraan kalau ada urusan jauh. Tapi sepeda ini peninggalan nenek Ibu. Kadang Ibu pakai untuk dekat-dekat. Keliling desa. Menengok sekolah. Mengunjungi murid. Atau sekadar mengingat bahwa dulu, saat Ibu belum punya apa-apa selain niat dan keras kepala, sepeda ini yang membawa Ibu ke mana-mana.”

“Peninggalan nenek?”

“Iya.” Suaranya melembut. “Dulu Ibu menemukannya di gudang rumah tua. Berdebu, bannya kempis, rantainya kering, besinya berkarat. Hampir seperti barang yang sudah lama menyerah. Tapi entah kenapa Ibu merasa ia masih bisa berjalan.”

“Masih asli semua, Bu?”

Perempuan itu tertawa kecil.

“Kalau asli semua, mungkin Ibu sudah bisa membuka museum. Yang asli tinggal rangka, bel tua, dan kenangannya. Ban sudah berkali-kali ganti. Rantai pernah putus. Sadel pernah diganti. Catnya pernah diperbaiki murid-murid saat ulang tahun Ibu. Tapi selama rangkanya masih kuat, Ibu belum tega membiarkannya jadi besi mati di gudang.”

Pria itu menatap rangka sepeda.

“Berarti sepeda ini pernah mengantar Ibu ke sekolah?”

Lihat selengkapnya