Wajah yang Hampir Terlupa
Di sebuah toko buku, sesaat setelah Agus secara refleks memanggil seseorang, perempuan di depan rak novel itu menoleh. Sebuah buku masih terbuka di tangannya, dengan jari terselip di antara halaman agar tidak menutup. Ia memandang Agus beberapa saat, seakan-akan wajah laki-laki itu tertinggal di suatu sudut ingatannya, tetapi namanya tidak ikut tersimpan di sana.
“Eh, iya? Mas…?”
Agus baru sadar bahwa ia tadi memanggil tanpa benar-benar yakin. “Ah, maaf, Mbak. Mungkin saya salah orang.”
“Lho, salah orang?” Perempuan itu menyipitkan mata sedikit. “Tapi wajah Mas kok kayak pernah saya lihat, ya? Kita pernah ketemu?”
Agus mengamati wajahnya sekali lagi. “Mbak Ayu, bukan? Yang dulu SMA 6?”
“Iya! Saya Ayu, dulu SMA 6.” Ia memindahkan buku ke tangan kiri. “Mas juga SMA 6? Namanya siapa? Angkatan berapa?”
“Iya. Aku Agus. Tim basket putra angkatan 2010”
“Agus…?”
Ayu mengulang nama itu pelan. Lalu matanya membesar.
“Mas Agus?” Suaranya sempat naik sebelum ia buru-buru menutup mulutnya. Beberapa pembeli menoleh. Ayu menahan tawa, jelas merasa salah tingkah. “Ya ampun. Kakak kelasku!”
Agus mengangguk sambil tersenyum. Rasa canggung yang tadi membuatnya hampir meminta maaf untuk kedua kalinya perlahan berkurang.
“Maaf, Mas. Tadi malah nggak ingat. Sudah lama sekali, ya.” Ayu merapikan buku di tangannya. “Apa kabar? Sehat?”
Agus terkekeh kecil, masih sedikit kikuk. “Nggak apa-apa, Yu. Aku sehat. Kamu sendiri?”
“Sehat juga. Sekarang sudah kerja, masih menjalani hari seperti biasanya.” Ayu tersenyum. “Mas Agus masih tetap di kota ini aja?”
“Aku di sini terus, Yu. Kerja di sini. Nggak pernah ke mana-mana.”
“Oalah, begitu. Aku malah baru balik lagi ke sini. Dulu sempat kerja di luar kota, sekarang pindah kerja ke sini.” Ia berhenti sebentar, seperti baru menyadari dirinya sudah bercerita cukup jauh. “Masih main basket, Mas?”
“Sudah lama nggak main. Teman-teman basket juga sudah sibuk semua. Sekarang mainan yang lain saja, supaya ada kegiatan.” Agus tertawa kecil sambil menunjuk ke rak di belakangnya. “Tadi aku dari sana. Terus melihat orang di sini, kok seperti kenal.”
“Berarti untung aku belum pergi.” Ayu tersenyum malu. “Kalau nggak, Mas Agus cuma bertanya-tanya dan aku bahkan nggak tahu ada teman sekolah lewat.”
Mereka bergeser sedikit ketika seorang pembeli hendak mengambil buku dari rak. Percakapan terhenti secukupnya, memberi jalan kepada orang itu.
“Kantormu di mana sekarang, Yu?” tanya Agus setelahnya.
“Di daerah dekat alun-alun. Aku kerja di bidang penerbitan, baru mulai menyesuaikan diri dengan tempatnya.” Ia menjawab sambil sesekali melirik kumpulan novel yang ada di rak. “Kalau Mas Agus kantornya di mana?” Ayu lanjut bertanya.
“Kantorku yang di depan alun-alun itu. Yang ada pohon ketapangnya.”
“Lho, berarti dekat! Kantorku kira-kira lima menit naik motor dari sana.” Ayu mengingat-ingat deretan gedung yang dilewatinya saat berangkat kerja. “Mas Agus kerja bagian apa?”
Agus tertawa kecil. “Aku di IT, Yu. Jadi tukang ketik.”
“Kalau begitu aku tukang baca, Mas. Tiap hari berurusan dengan tulisan,” balasnya sambil membalas tawa Agus.
“Ya, kurang lebih begitu.”
“Berarti bikin aplikasi, ya? Programmer?”
Agus mengangguk.
“Kalau dengar orang kerja IT, aku selalu membayangkan kode-kode dan sudah ahli banget sama komputer. Kalau aku, laptopku bermasalah, yang bisa kulakukan cuma restart sambil aku ketok-ketok sedikit,” katanya sambil tertawa.
Agus terkekeh. “Iya, Yu. Mau gimana lagi, memang bidangnya itu.”
“Benar juga.” Ayu menatap sampul novel yang dipegangnya. “Kalau tulisanku salah, ada orang yang mengoreksi. Kalau kode Mas Agus salah, komputernya yang protes ya?”
Agus tersenyum. Dari belakang rak terdengar roda troli buku melewati lantai.
“Eh, Mas Agus tadi mencari buku apa?” Ayu bertanya. “Aku malah mengajak ngobrol lama.”
“Nggak apa-apa. Aku mau membeli yang ini.” Agus memperlihatkan buku di tangannya.
“Desain furnitur?” Ayu memajukan kepala sedikit agar bisa membaca sampulnya. “Aku kira Mas Agus datang ke rak novel juga.”
“Ah, nggak,” jawab Agus singkat.
“Berarti selain membuat aplikasi, Mas bikin perabot juga?”
“Masih belajar, Yu. Belum ngerti juga.” Agus terkekeh.
“Menarik, sih. Aku cuma pernah lihat video orang bikin furnitur. Tapi kalau disuruh ikut memalu, jangan-jangan yang lebih dulu kena malah jariku.” Ayu berkata sambil tertawa.
Obrolan berputar lagi ke masa sekolah. Ayu juga tergabung dalam tim basket putri di sekolah yang sama dengan Agus. Ia mengingat latihan basket putri yang kadang harus menunggu lapangan dipakai tim putra. Mereka juga mengingat ketika kedua tim pernah berkunjung ke rumah Agus untuk istirahat setelah latihan di lapangan basket di sana. Kemudian Agus bercerita bahwa setelah lulus mereka masih sempat bermain bersama selama satu atau dua tahun. Sesudah itu, peserta yang datang makin sedikit. Ada yang pindah, ada yang sibuk kerja, ada yang sulit menemukan waktu luang.
“Dulu mudah sekali berkumpul,” kata Ayu. “Tinggal datang saat jadwal latihan. Sekarang mencari hari yang cocok saja sudah susah.”
Ia melirik jam, lalu mengangkat novel yang sedari tadi dipegangnya.
“Mas, aku mau bayar dulu, ya. Nanti keburu terlalu sore.”
Mereka berjalan menuju kasir. Ada dua orang yang masih mengantre. Ayu mengamati bukunya dan tersenyum geli.
“Tadi aku melihat banyak sekali novel. Ujung-ujungnya cuma satu yang jadi dibeli. Penyakit kalau masuk toko buku, Mas. Yang sulit bukan mencari buku, melainkan menentukan mana yang nggak jadi dibawa pulang.”
Setelah membayar novelnya, Ayu menyampirkan tas dan menoleh kepada Agus yang masih memegang buku furnitur.
“Aku pulang dulu, Mas. Senang bisa ketemu lagi. Maaf, tadi sampai lupa namanya.”
“Nggak apa-apa, Yu.”
Ayu mengangkat tangan sebentar sebelum keluar lewat pintu kaca. Agus menunggu sampai meja kasir kosong, lalu menyerahkan bukunya.
Buku itu dipindai. Harganya delapan puluh lima ribu rupiah.
Di luar, cahaya sore masih cukup terang. Agus keluar sambil merapikan pegangannya pada kantong buku. Ia tidak menyangka akan melihat Ayu lagi, berdiri di dekat motornya sambil memandangi ponsel.
“Lho, Yu, masih di sini?”
Nomor Lama dan Gang Paving
Ayu mengangkat kepala. “Eh, iya, Mas.”
Ia memperlihatkan layar ponselnya sambil jarinya seperti mengelus-elus layar.
“Aku mau pulang, tapi GPS malah menunjukkan jalan yang belum kukenal. Biasanya dari kantor langsung ke rumah. Tadi mampir ke toko buku, jadi rutenya lain.” Ia berkata seperti menggumam, kemudian ia melihat Agus, “Gini derita anak rumahan yang dulu jarang keluar,” lanjutnya sambil nyengir yang dibuat-buat.
Agus tersenyum melihat ekspresinya. Ayu dikenal ceroboh sejak SMA, dan setiap kali ia melakukan kecerobohan, ekspresi itulah yang sering keluar.
“Belum hafal jalan sini lagi?”
“Sebagian. Dulu saja tidak hafal, belum lagi sudah beberapa tahun tinggal di luar kota, sekarang malah seperti orang baru.” Ayu melirik pesan yang baru masuk. Rupanya ada pesan dari Ibunya yang menanyakan ia sedang ada di mana.
Ia kembali memperhatikan Agus, lalu mengangkat ponsel dengan sedikit sungkan.
“Mas, aku mau tanya jalan, bisa minta tolong?”
“Bisa, Yu. Jalan ke rumahmu, ya?”
“Iya, Mas. Kalau dari sini lewat mana yang dekat?”
“Mana, coba lihat petanya. Rumahmu di mana?”
“Kukirim saja biar gampang, ya, Mas? Boleh minta nomor WhatsApp-nya?”
“Boleh, Yu. Eh, sebentar. Nomormu masih yang dulu? Sepertinya aku pernah mencatat…” Agus terhenti sebentar. “Maksudku, dulu kontak anak-anak tim basket di grup kusimpan semua. Aku sempat ganti nomor. Kalau nomormu masih sama, coba kutelepon.”
“Lho, masih menyimpan nomor anak-anak basket?” Ayu terkekeh. “Aku sudah beberapa kali ganti ponsel. Kontak lama banyak yang hilang. Tapi nomorku masih sama.”
Ia mencoba mengingat nomor lamanya. Awalannya 0857, tetapi sisanya tidak ia sebutkan lagi.
“Coba saja, Mas,” katanya. “Kalau bunyi, berarti benar.”
Agus memilih kontak lama dan menelepon. Ia menatap Ayu yang masih memegang ponsel.
“Sudah tersambung, Yu?”
Ponsel Ayu bergetar. Ia menatap layar dan wajahnya langsung cerah.
“Masuk! Ini nomor Mas Agus yang baru, ya?”
Ia menolak panggilan setelah memastikan nomornya, lalu menyimpan kontak baru itu. Agus sempat melihat tulisan yang muncul di layar.
Mas Agus Basket.
“Biar nggak lupa lagi,” kata Ayu. “Kalau cuma Agus, nanti tertukar dengan Agus yang lain. Bayangkan kalau besok ketemu lagi, aku bertanya siapa namanya untuk kedua kalinya.”
Ayu membuka WhatsApp, mencari Mas Agus Basket, lalu berusaha membagikan titik rumahnya. Pilihan pertama yang muncul justru lokasinya sekarang.
“Eh.. Eh.. Sebentar, Mas. Aku jarang kirim titik lokasi.”
Setelah beberapa kali menggeser peta, ia berhasil mengirimkan pin tujuan. Agus melihat jalurnya. Ada jalan lebih pendek yang pernah ia lewati, memotong melalui lingkungan rumah-rumah warga.
“Bisa lewat sini, Yu. Aku tahu jalan pintas. Kalau mau, kamu ikuti aku.”
“Memang searah, Mas? Jangan sampai malah merepotkan. Lagi pula aku bawa motor sendiri.”
“Dekat kok. Rumahku sekitar lima belas menit dari arah sana. Kalau kamu mau, sekalian kutunjukkan sampai daerah yang kamu kenal.”
Ayu memikirkan tawaran itu sebentar, lalu mengangguk.
“Ya sudah. Terima kasih, Mas. Tapi jangan ngebut-ngebut, ya. Kalau ketinggalan, nanti aku malah ngikutin orang lain.”
“Tenang,” kata Agus sambil tertawa.
Agus menghidupkan motornya. Suara mesin mengisi parkiran. Ayu yang sudah mengenakan helm menoleh dan tertawa kecil sebelum menyalakan motornya. Terlihat helm yang ia kenakan hampir menutupi matanya sehingga dia harus sedikit mendongak, kemudian memperbaikinya. Ia mengangkat ibu jari, tanda siap.
Sesudah meninggalkan jalan besar, mereka memasuki kawasan perumahan lama. Di sebuah pertigaan, Agus menunjuk gang paving di sebelah kiri. Ayu terlihat mengacungkan ibu jari. Mereka berbelok ke sana.
Gangnya cukup sempit, namun masih cukup untuk dua motor berpapasan. Pot bunga berjajar di depan beberapa rumah. Seorang anak bermain di teras, sementara tiga ekor ayam menyeberang tanpa merasa berkewajiban menengok kanan-kiri. Ayu terkejut dan mengerem.
“Eh, ayam, ayam…”
Ayam yang berjalan terakhir malah diam sebentar di tengah jalan, kemudian berlari. Ayu hanya menggeleng dan tertawa kecil.
Gang itu akhirnya bertemu jalan aspal yang lebih lebar, tak jauh dari sebuah warung kelontong dan papan petunjuk ke kompleks perumahan. Ayu memberi isyarat. Mereka menepi.
“Bagaimana, Yu? Dari sini sudah tahu?” tanya Agus.
“Sudah, Mas.” Ayu membuka kaca helm. “Masuk kanan itu, lurus sampai pos satpam. Dari situ aku hafal.”
“Berarti aman.”
“Makasih banyak, Mas. Ternyata jalannya bisa memotong lewat sini. Di Maps tadi kelihatan muter jauh.” Ia melirik arah perumahan. “Dari sini sudah gampang. Kalau lupa, nanti aku lihat Maps lagi.”
Ayu mengangkat tangan, kemudian menyalakan sein kanan dan masuk ke jalan kompleks. Agus menunggu sampai motornya berbelok sebelum akhirnya ia berbelok ke arah yang berlawanan.
Satu Lembar Multiplek
Agus belum menuju rumah. Ia masih punya satu urusan yang sudah direncanakan sejak pagi: menanyakan harga multiplek untuk lemari perkakas.
Toko bangunan itu masih buka. Agus membeli satu lembar multiplek, dan karena papannya terlalu panjang untuk dibawa motor, toko akan mengantarnya besok pagi.
Agus pulang menjelang petang. Lampu beberapa toko mulai menyala. Di rumah, Bapak sedang duduk di teras memakai kaus dan sarung, secangkir teh di dekat tangannya.
“Nah, orangnya datang,” kata Bapak ketika motor memasuki halaman. “Dari pagi ke mana saja, Gus? Bapak kira kamu pindah rumah.”
Ibu muncul dari dalam. “Agus sudah pulang?”
“Sudah, Bu. Aku lapar,” kata Agus, sambil mengangkat kantong buku. Kepada Bapak ia menyodorkannya. “Ini, Pak. Coba dibaca.”
“Desain furnitur?” Bapak mengenakan kacamatanya lalu membolak-balik halaman. “Wah, banyak gambar meja dan lemari. Kalau kamu bikin yang begini, perkakasmu bisa punya rumah sendiri.”
“Iya memang mau bikin lemari perkakas, Pak. Besok kucoba, mumpung Sabtu.” Agus tertawa kecil.
“Wah, aku bisa ikut mengawasi.”
“Mengawasi apa?” Ibu bertanya dari dekat pintu.
“Ya mengawasi proses pembuatan lemari.”
“Dengan duduk minum kopi?”
“Lha, itu pekerjaan penting. Kalau ikut mengerjakan, siapa yang mengawasi?”
Ibu menggeleng geli.
Bapak menutup buku, kemudian bertanya. “Kayunya sudah dibeli, Gus?”
“Sudah. Besok pagi dikirim.”
“Yang tebal berapa?”
“Sebentar, aku ambil makan dulu. Kubawa ke sini.”
Agus kembali dari dapur dengan sepiring nasi, sayur bening, dan tempe goreng. Ia duduk lagi di teras, lalu menunjukkan rancangan lemari yang telah disiapkannya.
“Delapan belas mili, Pak, biar cukup kuat. Ini desainnya.”
Bapak mulai membayangkan pekerjaan esok pagi: kapan mengukur, kapan memasang, dan bagian mana yang mesti dikerjakan lebih dulu. Agus memotong rencana itu sambil menyendok makanannya.
Agus terkekeh. “Belum tentu bisa digarap pagi-pagi, Pak. Kalau kita sudah siap tapi kayunya belum sampai, bagaimana?”
Bapak tertawa. “Benar juga. Aku malah mendahului kayunya. Kalau belum datang, ya minum kopi dulu.”
“Bapak kan memang setiap pagi minum kopi dulu,” sahut Ibu.
Bapak tertawa mendengar perkataan Ibu tanpa bisa berkomentar.
“Kalau lemari baru selesai, kotak lama itu mau diapakan?” lanjut Bapak bertanya kepada Agus.