Bekal Subuh dan Udang Seperempat Kilo
Lampu teras rumah Agus masih menyala. Ia baru saja meninggalkan kafe milik sahabatnya, Andi, sementara di ruang tengah Bapak masih duduk di depan kotak pancing. Reel dan gulungan senar berjejer di meja. Sebuah termos belum dimasukkan ke dalam tas.
Agus mengambil joran ultralight Cangkek. Ia memasangkan reel Shimano Sienna 1000, lalu membuka tas kecil untuk memeriksa peralatan lain.
“Nah, kalau sudah lengkap, tidur. Besok jangan sampai mataharinya lebih dulu sampai laut daripada kita.” Bapak memindahkan kotaknya ke dekat pintu agar mudah diambil saat berangkat. “Bapak tidur dulu. Selamat malam, Gus.”
Saat terbangun, hari masih gelap. Dari ruang tengah terdengar sesuatu digeser. Agus keluar dan mendapati Bapak sudah berpakaian rapi untuk pergi, sedang memasukkan termos ke tas.
Agus menuju dapur. Ibu sedang membungkus nasi dengan telur dadar dan sambal. Di sampingnya sudah ada dua botol air minum.
“Bu, ada yang bisa kubantu?”
“Ada. Botol air itu tolong masukkan tas, Le. Nasinya tinggal Ibu bungkus.” Ibu menunjuk meja dengan dagu karena tangannya masih sibuk melipat kertas. “Bapakmu dari tadi mondar-mandir. Kalau mau mancing, semangatnya memang beda.”
Dari ruang tengah Bapak berseru, “Bu, bekalnya sudah siap? Yang mau mancing ini sudah nggak sabar!”
“Ikannya saja mungkin belum bangun, Bapak sudah terburu-buru!” sahut Ibu.
“Nah, ayo berangkat.” Bapak muncul dengan tas di tangan, tetapi baru dua langkah Ibu sudah menghentikannya.
“Lho, Pak. Sandal Bapak itu masih sandal rumah. Mau dibawa ke karang?”
Bapak menunduk memandangi kakinya.
“Lha, iya.” Ia berbalik mengambil alas kaki yang telah disiapkan dekat pintu. “Kalau begini, yang penting bukan alat pancing. Yang penting ada yang mengingatkan.”
Setelah tas, joran, dan termos ditata di bagasi mobil, Agus duduk di balik kemudi. Bapak mengambil tempat di sebelahnya.
“Pak, kita mampir pasar dulu, ya. Beli udang buat umpan.”
Ibu mengantar sampai teras. “Kalau beli udang, jangan malah beli ikan buat dibawa pulang, Pak.”
“Lho, belum mancing kok sudah disuruh menyerah, Bu?” protes Bapak.
“Kami berangkat dulu, Bu.”
“Hati-hati, ya. Bapakmu jangan sampai tidur di mobil.”
“Lha, kok aku terus yang dicurigai?” Bapak menoleh ke arah teras ketika mobil mulai bergerak.
Jalan masih lengang. Udara subuh terasa dingin, tetapi ketika mereka tiba di pasar, suasananya sudah ramai. Lampu kios menerangi keranjang sayur, baskom ikan, dan orang-orang yang sibuk menyiapkan dagangan.
Agus berhenti di depan seorang ibu yang sedang memindahkan udang kecil dari wadah es.
“Permisi, Bu. Udang yang kecil berapa?”
“Empat puluh ribu satu kilo, Mas. Masih segar, baru datang tadi.” Penjual menunjukkan beberapa ekor yang ukurannya tidak terlalu besar. “Buat umpan mancing, ya? Yang ini cocok.”
“Iya, Bu. Seperempat kilo saja.”
Bapak melihat isi bungkusan ketika Agus kembali. “Cukup itu. Ayo diteruskan, supaya sampai sana belum panas.”
Mereka kembali ke mobil. Di timur, langit mulai berwarna kebiruan. Sepanjang perjalanan berikutnya, deretan rumah perlahan semakin jarang. Angin yang masuk ketika jendela dibuka sedikit membawa bau asin, pertanda laut sudah tidak jauh.
Joran Kecil, Ikan Besar
Di pesisir, air belum menutupi seluruh karang. Bapak menurunkan tas pancing di tempat yang agak tinggi, lalu memandangi garis air.
Bapak memasang udang kecil pada kail, melemparnya ke bagian yang lebih dalam, lalu duduk di batu yang cukup rata.
“Sekarang tinggal menunggu yang mau sarapan udang,” katanya.
Agus berjalan menuju sela karang dengan joran kecilnya. Air yang mulai naik membawa buih putih di antara batu. Ia melempar umpan tiruan beberapa kali, menggulung senar, lalu mencoba ke arah yang sedikit berbeda.
Tidak lama kemudian, reel-nya menjerit.
Kriiiiiing!
Senar melesat keluar. Joran ultralight di tangannya melengkung tajam.
“Gus! Kena ikan?” Bapak langsung berdiri dari tempat duduknya. “Wah, kencang itu tarikannya!”
“Sepertinya besar, Pak!”
“Hati-hati karangnya. Jangan sampai senarnya tergesek!”
Agus mundur menjauhi sisi batu yang menonjol. Setiap kali ia berhasil menggulung beberapa putaran, ikan di ujung senar kembali menarik dan membuat reel berbunyi. Tarikannya tidak kunjung melemah. Bapak mendekat, tetapi tetap memberi ruang agar Agus bisa mengubah posisi.
Hampir setengah jam kemudian, bayangan lebar tampak samar di bawah permukaan air.
“Kuwe, Pak!”
Agus memperhatikan posisi ikan yang mulai kehabisan tenaga. “Pegang jorannya dulu, Pak. Aku turun.”
Bapak menerima joran dengan kedua tangan. Agus turun ke air yang tingginya sekitar perut. Ombaknya kecil, tetapi ia tetap memperhatikan pijakan di bawah. Setelah mendekat, ia berhasil memegang ikan pada bagian insangnya dan mengangkatnya.
“Hahaha, berat, Pak!” seru Agus, napasnya masih terengah. “Sepertinya ada tiga kilo!”
“Tiga kilo?” Bapak tertawa lepas. “Pantas nariknya seperti truk! Joranmu yang kecil itu sampai kukira mau patah.”
Agus berusaha naik sambil memegang ikan.
“Pelan-pelan, Gus. Batunya licin.” Bapak mundur memberi tempat. “Lha, Bapak yang semangat mengajak mancing, malah kamu yang dapat ikan besar.”
Begitu Agus sudah berada di tempat aman, Bapak segera menyarankan agar hasil tangkapan itu difoto.
“Pakai HP-ku saja, Pak. Ambilkan di tas itu.” Agus menunjuk tas perlengkapannya. “Kamera HP Bapak jelek.”
“Lho, HP-ku malah diejek pas mau memotret?” Bapak tetap mengambil ponsel Agus, membuka kamera, lalu berjalan mundur beberapa langkah. “Nah, berdiri di situ. Ikannya dipegang yang mantap.”
Cekrek. Cekrek.
“Yang ini bagus, Gus. Ikannya kelihatan besar. Tapi wajahmu capek sekali.”
“Wajahku nggak penting, Pak. Yang penting ikannya kelihatan.” Agus menerima ponselnya sambil tertawa. “Sekarang giliran Bapak yang harus dapat ikan.”
“Iya, giliran Bapak. Dapat satu kilo saja sudah senang, nggak usah seperti punyamu.”
Bapak kembali memasang udang. Ia menunggu beberapa saat hingga ujung jorannya bergerak kecil.
Bapak menggulung senar. Ketika kail terangkat, udangnya ternyata tinggal bagian kepala.
“Walah, pencuri! Umpannya dimakan, orangnya nggak mau ikut.”
Agus menunjuk deretan pilar beton bekas dermaga tidak jauh dari situ.
“Pak, coba di bawah bekas dermaga itu. Biasanya ada kerapu.”
“Oalah, di sana? Ya sudah, Bapak coba.”
Belum lama menunggu, ujung jorannya mendadak menekuk.
Bapak berdiri cepat. Senarnya tertarik menuju bagian bawah beton.
Seekor ikan cokelat bertotol muncul sebentar di bawah permukaan sebelum kembali menyelam.
“Kerapu, Pak!” seru Agus. “Besar itu.”
Bapak menarik perlahan. Tak lama kemudian ikan itu berhasil diangkat ke tempat yang rata. “Nah, kena kamu!”
Bapak menggunakan tang kecil untuk melepaskan kail dari mulut ikan. Tubuhnya tebal, beratnya kira-kira lebih dari satu kilogram.
“Wah, hampir sepanjang lenganku, Pak,” kata Agus.
Ikan dimasukkan ke wadah pendingin. Bapak duduk sebentar dan minum.
“Sudah lama nggak mancing bareng begini,” katanya. “Hari ini ternyata kita sama-sama dapat.”
Mereka membawa bekal ke bawah pohon dekat tempat mobil diparkir. Bapak membuka bungkusan nasi dengan telur dadar dan sambal buatan Ibu. Angin laut mencapai tempat itu, tetapi tidak sepanas ketika mereka berdiri di antara karang.
“Wah, pas sekali. Makan dengan pemandangan begini rasanya beda,” kata Bapak sambil menyerahkan satu bungkusan kepada Agus.
Agus mulai makan. Dari tempat duduknya, laut tampak bergerak pelan melewati sela daun.
“Ini yang kusuka, Pak. Kuwe sama kerapu itu bonus saja. Enak, ya, bisa duduk begini.”
Bapak berhenti menyendok nasi. Ia memandang ke arah air beberapa saat.
“Enak, Gus. Tenang.” Bapak mengambil sepotong telur dadar. “Dulu, waktu masih kerja, mau pergi mancing begini harus cari hari libur dulu. Sekarang sudah pensiun, waktunya lebih banyak.”
Ia tersenyum sebelum melanjutkan.
“Tapi yang paling Bapak senangi ya begini. Bisa pergi sama kamu, makan bekal buatan Ibumu, nggak tergesa-gesa memikirkan apa-apa. Dapat ikan senang. Nggak dapat juga tetap kenyang.”
Bapak melirik wadah ikan yang mereka bawa.
“Walaupun kalau dapat kerapu sepanjang lengan, senangnya bertambah sedikit.”
“Bukan sedikit, Pak. Banyak!” sahut Agus sambil tertawa.
Bapak tertawa sampai hampir tersedak nasi.
“Iya, banyak. Apalagi sudah dapat kerapu, bisa makan di tepi laut, besok nggak perlu bangun pagi untuk kerja. Kurang enak apa coba?”
Ia menunjuk sambal dalam bungkus nasi.
“Tapi yang penting sambal buatan Ibumu ini. Kalau nggak ada, ikan goreng pun kalah enak.”
Mereka menghabiskan bekal tanpa terburu-buru. Setelah merapikan bungkus makanan agar tidak tertinggal, Agus menoleh kepada Bapak.
“Sudah kenyang, Pak? Mau lempar lagi?”
“Ayo, mumpung belum terlalu panas. Bapak coba bekas dermaga tadi. Siapa tahu masih ada saudaranya kerapu yang barusan.”
“Aku coba casting lagi, Pak.”
“Ya. Tapi nanti jangan terlalu siang. Kalau panas, kita pulang.”
Hampir satu jam berikutnya tidak ada sambaran. Agus beberapa kali mengganti arah lemparan, sementara Bapak memancing di dekat bekas dermaga. Matahari semakin tinggi.
Tiba-tiba terdengar suara reel dari arah Bapak.
“Gus! Kena lagi!”
Agus segera mendekat. Kali ini senar Bapak tertarik menuju air terbuka, berbeda dari kerapu yang tadi berusaha masuk ke bawah tiang.
Ikan berputar mendekati permukaan. Agus bisa melihat tubuh keperakan dan bagian kepalanya.
“Eh, kakap, Pak!”
“Kakap? Wah, iya!” Bapak tertawa. “Hari ini bagus sekali hasilnya.”
Bapak mengarahkan ikan mendekat. Agus mencoba meraih ikan yang masih di air.
Agus mengambil ikan dengan cekatan.
“Dapat, Pak!” Agus berseru sambil tertawa.
Bapak mengangkat kakapnya sebentar. “Sekarang fotokan Bapak. Masa cuma kamu yang punya foto dengan ikan besar?”
Cekrek. Cekrek.
“Sekarang bagaimana, Pak? Duduk sebentar lagi atau pulang?”
“Pulang saja. Sudah hampir siang, makin panas. Kalau kelamaan, Ibumu mengira kita pindah profesi jadi nelayan.”
Mereka membereskan alat, membilas seperlunya peralatan yang terkena air laut, lalu memasukkan kembali joran dan wadah ikan ke mobil. Di perjalanan pulang, Bapak masih tampak puas memandangi jalan dari kursi penumpang.
“Nanti sampai rumah, kakapnya Bapak bersihkan sendiri. Ibumu tinggal memasak.”
“Sepertinya aku pengen masak sendiri, Pak. Kita mampir warung dulu yuk, beli bahan.”
“Oalah, kalau begitu Bapak tinggal makan?” Bapak tertawa. “Ya sudah. Kamu mau masak apa?”
“Kepala kuwe buat sup kuning. Sisanya ikan goreng rempah dengan sambal. Bagaimana, Pak?”
Bapak mengangguk mantap. “Aku setuju. Bagian memasak kuserahkan kamu. Bapak bagian mencicipi.”
Ketika akhirnya mobil memasuki halaman rumah, Ibu keluar mendengar suara mesin. Bapak langsung mengangkat wadah pendingin dari bagasi.
Ibu masuk menyiapkan tempat di dapur, sementara Bapak membawa wadah ikan ke dekat keran halaman. Agus baru hendak mulai mengurusnya ketika ponsel di sakunya berbunyi.
Undangan yang Terucap Lebih Dulu
Pesan itu dari Ayu.
Mas Agus, bagaimana mancingnya? Kemarin katanya mau berangkat subuh. Dapat ikan?
Agus menoleh ke arah wadah pendingin yang baru diletakkan Bapak di dekat keran. Ia mengambil foto ketika tutupnya masih terbuka: kuwe besar, kerapu, dan kakap tampak sekaligus. Foto itu dikirim kepada Ayu tanpa banyak keterangan.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi lagi.
Lho, banyak sekali! Yang besar itu punya Mas Agus?
Iya, Yu, hahaha. Dua yang lebih kecil itu Bapak yang dapat.
Berarti mancing sama Bapak? Seru sekali kelihatannya.
Disusul pertanyaan lain.
Yang paling besar namanya ikan apa, Mas? Aku belum pernah lihat.
Kuwe, Yu. Kalau bahasa Inggrisnya giant trevally, biasa disebut GT. Yang cokelat bertotol itu kerapu, yang satu lagi kakap.
Oalah, GT. Namanya keren, ya. Kalau kerapu aku agak tahu. Kuwe baru lihat sekarang.
Agus bersandar sebentar pada sisi tembok dekat keran. Bapak sibuk membersihkan alat pancing, tidak memperhatikan ponselnya.
Terus ikannya mau dimasak apa, Mas? Apa disimpan semua?
Ini mau kumasak, Yu. Kepala ikan buat sup kuning, ikan goreng rempah sama sambal. Sini kalau mau hahahaha, balas Agus.
Ajakan itu keluar begitu saja, seperti ketika ia menawarkan sesuatu kepada orang yang kebetulan sedang mengobrol dengannya. Baru setelah terkirim, Agus membaca ulang pesannya.
Wah, sup kuning sama ikan goreng? Kedengarannya enak sekali.
Mas Agus ini tiba-tiba mengajak ke rumah. Serius mengajak atau cuma menggoda?
Agus mengetik sambil menggeleng geli.
Hahaha, cuma bercanda, Yu. Kamu pasti nggak mau.
Balasan Ayu tidak seperti yang ia bayangkan.
Lho, kok langsung disimpulkan aku nggak mau? Aku kan belum bilang apa-apa.
Pesan berikutnya muncul beberapa saat kemudian.
Kalau benar diajak, aku sungkan juga, Mas. Belum kenal dekat sama keluarga Mas Agus.
Agus membaca dua pesan itu sekali lagi. Sebelum ia sempat membalas, pesan berikutnya masuk.
Aku bilang sungkan ya, Mas, bukan nggak mau.
Mas Agus sendiri tadi bilang cuma bercanda. Aku jadi bingung.
Kini Agus justru harus menjelaskan ajakannya sendiri. Ia memandang ikan dalam wadah, lalu mengetik dengan lebih hati-hati.
Kalau kamu benar-benar mau, aku serius, Yu. Boleh mampir.
Tanda bahwa Ayu sedang mengetik muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
Serius, Mas?
Sebenarnya aku mau. Cuma agak sungkan kalau tiba-tiba datang ke rumahnya Mas.
Kalau Bapak dan Ibu Mas Agus nggak keberatan, aku mampir sebentar, ya.
Agus teringat bahwa keluarganya pernah bertemu Ayu pada masa sekolah. Ia membalas,
Kamu kan sudah pernah ke sini dulu. Bapak dan Ibu sepertinya masih ingat kamu, lho.
Lho, serius? Masih ingat? Aku saja kemarin sampai lupa sama Mas Agus.
Kenapa masih ingat, ya? Dulu kan cuma pernah mampir bareng anak-anak basket.
Agus tersenyum. Ada satu kejadian yang rasanya tidak mungkin dilupakan Bapak dan Ibu.
Gara-gara insiden minuman tumpah itu, Yu, hahaha.
MAS AGUS!
Kenapa justru itu yang diingat? Aku masih ingat malunya. Sudah menumpahkan minuman, terus minta maaf berkali-kali.
Kalau aku benar datang, jangan dibahas lagi, ya.
Hahaha, nggak akan kubahas, Yu. Agus masih tersenyum saat mengetik. Jadi bagaimana, mau mampir? Ikannya belum kupotong. Kalau mau lihat dulu, kutunggu.
Kali ini jawabannya datang lebih cepat.
Ya sudah, Mas. Aku mau mampir. Tapi jangan sampai merepotkan. Aku ganti baju dulu, ya.
Ayu mengatakan akan bersiap dahulu dan mengabari ketika berangkat. Agus menyimpan ponsel. Kini urusan berikutnya bukan lagi ikan yang baru dibawa pulang, melainkan menjelaskan kepada Bapak dan Ibu bahwa sebentar lagi ada tamu.
“Pak, Bu, sebentar. Katanya Ayu mau ke sini.”
Bapak menghentikan tangannya yang sedang mengelap reel.
“Ayu? Ayu siapa, Gus?”
Ibu menoleh dari pintu dapur.
“Ayu yang dulu minumannya tumpah?”
“Iya, Bu.”
“Oalah, iya!” Bapak mulai ingat. “Yang minta maaf berkali-kali itu, ya?”
“Sudah lama sekali.” Ibu tersenyum, lalu memandang Agus dengan rasa ingin tahu. “Lho, kok tiba-tiba ada Ayu? Mau ke sini juga. Kamu ketemu dia di mana?”
Agus menggaruk kepala.
“Aku juga bingung, Bu. Waktu ini kebetulan ketemu di toko buku waktu aku beli buku furnitur. Terus kemarin ketemu lagi di warung bakso. Aku cerita besok mau mancing. Tadi Ayu mengirim pesan, tanya dapat ikan atau nggak, terus tanya mau dimasak apa. Aku spontan bilang, ‘Sini kalau mau.’ Kukira dia nggak mau. Ternyata mau. Sekarang aku malah bingung sendiri.”
Ibu memandangnya beberapa saat sebelum tertawa.
“Lha, Gus. Yang mengajak kamu, yang bingung juga kamu.”
“Ya aku tadi cuma bercanda, Bu.”
Bapak meletakkan reel di meja dekat keran.
“Sudah, nggak usah bingung. Orang mau bertamu. Rumah juga nggak sedang ada acara apa-apa.”
“Ibu malah senang kalau ada tamu. Sudah lama nggak melihat Ayu.” Ibu melirik ikan yang belum dibersihkan. “Sekarang kamu urus masakannya. Jangan sampai ikannya nggak segar gara-gara yang masak sibuk memikirkan tamu.”
“Katanya Ayu mau lihat ikannya dulu, Bu. Jadi nanti saja kupotong. Aku mau menyiapkan bahan di dapur dulu.”
“Ya sudah, sana.”
Agus masuk ke dapur sambil masih menggaruk kepala. Bumbu kuning, jeruk nipis, serai, daun jeruk, dan daun salam mulai ditatanya di meja. Ibu mengeluarkan piring tambahan, lalu mengelap meja makan.
“Gus, piring buat tamunya sudah Ibu siapkan,” katanya. “Kamu saja yang jadi koki hari ini.”
“Lha, tadi Ayu bilang cuma mau mampir sebentar, Bu. Kalau cuma mau melihat ikan dan nggak makan di sini, bagaimana?”
Ibu berhenti mengelap meja.
“Lho, orang bertamu masa harus janji mau makan dulu? Nanti kalau masakan sudah matang, ya ditawari. Kalau mau, makan bersama. Kalau nggak, nggak apa-apa.”
Agus mengangguk, tetapi tampaknya belum puas dengan jawabannya sendiri.
“Aku nggak ngerti, Bu.”
“Lha, Ibu apa lagi, Gus. Kamu yang mengajak, kok Ibu yang ditanya?” Ibu tertawa kecil. “Mungkin memang ingin mampir. Kalian sudah lama nggak ketemu, kebetulan diajak. Nggak perlu dibuat susah. Terima tamu seperti biasanya saja.”
“Ya sudah, aku siapkan sambal matah dulu.”
Agus meneruskan irisan bawang. Ketika hampir sampai selesai, suara motor terdengar berhenti di halaman, disusul suara perempuan dari arah pagar.
“Permisi…”
Ibu menoleh. “Gus, sepertinya Ayu sudah datang.”
“Waduh!”
Agus meletakkan pisau dan bawang terakhir yang baru terpotong separuh, lalu berjalan ke depan.
“Eh, Yu. Sini, masuk!”
Ikan Tiga Kilo dan Dua Kali Jepret
Ayu berdiri di dekat pagar sambil membawa helm. Ia tersenyum ketika Agus menyambutnya, kemudian berjalan ke tengah halaman yang cukup luas. Langkahnya sempat melambat saat memandang rumah.