Kutu Kebul dan Paket yang Datang
Rabu pagi, suara burung masih ramai di pepohonan belakang rumah. Udara belum terlalu panas, tetapi Bapak sudah berjongkok di dekat deretan tanamannya. Di samping kakinya ada gunting tanaman dan ember kecil. Selembar daun yang dipegangnya mulai menguning, padahal kemarin, menurutnya, masih tampak baik-baik saja.
“Gus! Sini sebentar, Le!” panggilnya ke arah rumah.
Agus muncul dari pintu belakang. Di dapur, Ibu sedang menyiapkan minuman; suara sendok beradu dengan gelas terdengar sampai ke kebun.
“Coba lihat ini,” kata Bapak, menunjukkan daunnya. “Kemarin masih bagus. Sekarang kok mulai kuning semua, ya?”
Agus memperhatikan daun itu sebentar.
“Wah, nggak tahu aku, Pak. Coba telepon Kementan.”
Bapak mengangkat muka. “Kementan? Kementerian Pertanian?”
Agus mengangguk, seolah usulnya sangat masuk akal.
“Lha, Gus. Kalau setiap daun menguning harus menelepon kementerian, yang menerima telepon bisa pusing!”
Ibu yang baru sampai di ambang pintu tertawa mendengarnya.
“Kukira Agus dipanggil untuk diajak memeriksa tanaman,” katanya, “ternyata malah menyuruh Bapak mengurus negara!”
Bapak ikut tersenyum. “Sudah, Pak Menteri nanti saja. Ini lihat dulu, Gus.” Ia membalik daun di tangannya. “Ada putih-putih kecil di bawahnya. Kutu atau jamur, ya?”
“Oalah, kutu kebul itu, Pak.”
“Yang benar?” Bapak menyentuh daun di sebelahnya dengan ujung jari. Seketika beberapa serangga putih kecil beterbangan. “Lha, iya! Ini, lihat. Pada terbang!”
“Nah, nggak perlu menelepon kementerian,” sela Ibu. “Penyuluh pertaniannya sudah ada di rumah.”
Bapak tertawa pendek, lalu kembali menoleh kepada Agus.
“Terus diapakan ini, Gus? Disemprot atau daun yang kena dipetik saja?”
“Coba pakai pestisida dari bawang putih dicampur sedikit sabun cuci piring, Pak.”
“Ya sudah. Nanti kucoba pada sedikit daun dulu,” katanya kepada Agus. “Kalau aman, baru diteruskan.”
“Kalau begitu aku mandi dulu, Pak.”
Tak lama setelah mandi, Agus menemukan Ibu sudah menata sarapan di meja.
“Sudah Rabu saja,” gumam Ibu. “Seminggu rasanya cepat sekali lewat.”
“Nah, itu. Senin berangkat kerja, tahu-tahu Jumat. Sabtu Minggu lewat, tahu-tahu Senin lagi.” Bapak mengangguk setuju.
“Bedanya, hari libur Agus tidak bisa diam,” kata Ibu. “Ada saja yang diutak-atik.”
“Bagus itu. Daripada aku, sudah pensiun malah dapat atasan baru.”
“Atasan siapa, Pak?” Ibu menoleh.
“Kutu kebul.”
Ibu langsung tertawa. “Halah, Pak! Kebun sendiri kok jadi kantor.”
Ibu bangkit untuk mengambil air minum. Ketika kembali, ia melihat Agus sedang membereskan piring.
“Eh, Gus, akhir minggu ini ada rencana apa?” tanyanya. “Minggu lalu kan kita sudah mancing bareng di danau.”
“Aku mau kemah, Bu,” jawab Agus.
“Kemah?” Ibu langsung tertarik. “Sudah lama kamu tidak kemah, ya.”
“Di danau lagi, Gus? Atau mau ke gunung?” tanya Bapak.
“Di danau, Pak. Rencananya sendiri. Tapi Ayu ingin ikut.”
“Oh, Ayu!” Bapak tersenyum. “Pertama kali dia kemah berarti? Waktu mancing kemarin saja kelihatan senang belajar.”
“Lha, dia memang belum pernah kemah?” Ibu bertanya, lalu mencondongkan badan. “Sudah bicara sama Bapak-Ibunya belum, Gus? Ini bukan pergi sebentar; menginap di luar.”
“Belum ada kabar, Bu. Kalau mereka mengizinkan, aku juga mau datang meminta izin langsung.”
Bapak lalu teringat sesuatu. “Tendamu cuma satu, Gus. Yang disimpan di gudang itu. Kalau Ayu ikut, bagaimana?”
“Ya harus dua tenda,” kata Ibu sebelum Agus menjawab.
“Aku sudah beli, Pak. Mestinya hari ini sampai.”
Bapak baru membuka mulut ketika suara klakson pendek terdengar dari depan rumah.
Tin! Tin!
“Permisi! Paket!”
Ibu dan Bapak saling pandang. Agus belum sempat berdiri ketika Ibu lebih dulu tertawa.
“Baru saja dibicarakan, barangnya sudah datang!”
Di depan pagar, kurir menurunkan sebuah kardus besar dari kendaraannya.
“Barang baru jangan langsung dibawa pergi sebelum dicoba,” kata Ibu. “Nanti sampai sana ternyata ada yang kurang.”
“Setuju. Kita pasang di halaman sore nanti,” ujar Bapak, bersemangat. “Aku ingin tahu tenda zaman sekarang seperti apa.”
Tenda dan Para Pengawas
Rabu sore, Agus pulang dan mendapati kardus tenda sudah dipindahkan ke halaman. Bapak duduk bersama Pak Tarjo, tetangga yang kebetulan mampir; tampaknya sejak siang mereka sudah menemukan cukup banyak hal untuk diperdebatkan dari gambar pada kemasan.
Agus membuka kardus, mengeluarkan tas tenda, kemudian membentangkan badan tenda di tanah sebelum menyambung batang-batang rangkanya. Bapak dan Pak Tarjo berjongkok di sisi yang berbeda, seperti dua pengawas proyek yang punya pendapat sendiri.
Agus menyelipkan rangka melalui selongsong kain, memasangkan ujung-ujungnya, lalu mendirikan kubah kecil itu. Sementara ia bekerja, Pak Tarjo bercerita tentang pengalamannya dulu.
“Zaman saya dulu pakai terpal, Gus. Tiangnya bambu, talinya diikat ke pohon kalau ada. Pernah hujan malam-malam, terpalnya salah dimiringkan. Airnya malah berkumpul di tengah.”
“Wah, itu bukan kemah, Kang,” komentar Bapak. “Kolam renang.”
“Betul! Tapi menyenangkan. Belum ada ponsel. Malam duduk dekat api, mengobrol sampai mengantuk.” Pak Tarjo memeriksa rangka yang saling menyilang. “Sekarang tinggal batang seperti pancingan ini, ya?”
Tidak lama kemudian Agus menyelesaikan penguncian rangka dan memasang lapisan penutupnya. Ia menegakkan badan, mengusap tangan, lalu menoleh.
“Nah, jadi, Pak.”
Bapak melangkah mundur. “Walah, cepat sekali! Tadi cuma satu tas, sekarang jadi kamar.”
Ibu datang membawa singkong goreng hangat. “Sudah jadi rupanya. Bagus juga.”
Di tengah kegiatan melipat tenda, ponsel Agus bergetar. Pesan Ayu baru masuk: orang tuanya bersedia menerima Agus besok sore untuk membicarakan rencana kemah itu. Agus langsung membalas, menanyakan waktu yang tepat untuk datang. Ayu menjawab bahwa selepas kerja pun tidak masalah.
Wah, lega aku, Yu. Nanti aku ke sana, balas Agus.
Setelah tenda kembali masuk ke tas, Pak Tarjo pamit sebelum gelap.
Baru setelah Pak Tarjo pergi, Ibu teringat pesan Ayu tadi.
“Besok Bapak-Ibunya Ayu pasti bisa ditemui?”
“Iya, Bu. Ayu baru memberi kabar.”
“Bagus. Sampaikan rencananya dengan jelas. Orang tua pasti ingin tahu kalau anaknya menginap di luar.”
Bapak duduk, meletakkan tas tenda di dekat kursi. “Bapaknya Ayu enak diajak bicara. Apalagi kalau sudah urusan mancing. Aku masih ingat waktu kita ke danau.”
“Asal jangan malah mengobrol ikan sampai lupa maksud datang,” kata Ibu.
“Lebih baik ngobrol ikan, Pak, daripada main catur,” balas Agus sambil tertawa.
Bapak langsung terbahak. “Lha, cerita itu masih kamu ingat?”
Ibu menunjuknya. “Salah sendiri. Pengalaman dengan Eyang itu kamu ceritakan terus kepada Agus.”
“Sudah puluhan tahun, Bu. Masih saja diungkit.”
“Wong Bapak yang dulu datang pada hari yang salah. Sulit dilupakan, memang.”
“Baiklah, Gus. Kalau besok Bapaknya Ayu mengeluarkan papan catur, bilang saja kamu mau membicarakan ikan.” Bapak mengangkat kedua tangan, menyerah sebelum pertandingan imajiner dimulai.
Agus masih tertawa. Ibu kemudian kembali menanyakan perlengkapan yang dibawa Ayu.
“Dua tenda sudah ada, Bu. Sleeping bag juga ada dua. Yang satu dulu sebenarnya pernah disiapkan waktu Bapak ingin kemah sambil mancing, tapi akhirnya tidak jadi berangkat.”
“Untuk berangkat Sabtu, pakai mobil rumah saja,” kata Bapak. “Aku tidak ada urusan jauh akhir pekan ini.”
Agus mengangguk. Di sudut teras, tas tenda yang kini terlipat rapi menunggu untuk dibawa lagi dua hari kemudian.
Meminta Izin untuk Pergi
Kamis sore, menjelang jam pulang, Agus masih berada di kantor ketika Indra merapikan meja kerjanya.
“Eh, Gus, akhir pekan ini ada acara nggak? Aku sama Ira lagi cari tempat buat ngajak Arif jalan-jalan. Kalau kamu kosong, siapa tahu bisa ikut.”
“Ada, Mas. Aku mau kemah akhir pekan ini.”
“Oh, kemah?” Indra tampak tertarik. “Di mana, Gus?”
“Di sekitar danau tempat aku biasa kemah, Mas.”
“Wah, asyik itu. Sama siapa? Teman-temanmu?”
“Sama Ayu, Mas.”
Indra terdiam sesaat. Matanya beralih kepada Rina, yang kebetulan sedang menoleh dari balik monitor. Yuli, yang sejak tadi mendengarkan sambil membereskan mejanya, ikut mengangkat kepala.
Ketiganya saling berpandangan.
Rina menyembunyikan senyum di balik gelas minumnya. Yuli mengangkat alis kepada Indra, sementara Indra sendiri hanya mengangguk pelan, seolah baru saja mendapat jawaban atas sesuatu yang sebenarnya tidak ia tanyakan.
Agus memperhatikan mereka bergantian.
“Lho, kenapa, Mas?”
“Nggak, nggak apa-apa, Gus.” Indra menahan senyum. “Kemah, ya. Bagus. Semoga cuacanya cerah.”
“Lho, kok mendadak ngomongin cuaca, Mas?” Rina akhirnya menyela, jelas sedang menggoda.
“Ya memang kalau kemah harus lihat cuaca, Mbak!” Indra membela diri.
Yuli tertawa kecil. “Iya, Mas. Kami juga belum bilang apa-apa, kok.”
“Nah, itu. Jangan bilang apa-apa.”
“Lha, siapa yang mau bilang apa?” Rina balik bertanya.
Indra menggeleng sambil tertawa, memilih tidak meneruskan perdebatan yang tampaknya tidak akan bisa ia menangkan.
“Sudah, sudah. Pokoknya selamat kemah, Gus. Hati-hati di jalan.”
“Siap, Mas. Terima kasih.”
Setelah Indra pergi, Rina dan Yuli kembali ke pekerjaan masing-masing. Namun, sebelum menghadap monitornya, Yuli masih sempat bertukar senyum dengan Rina.
Agus hanya menggeleng pelan. Ia sudah cukup mengenal rekan-rekan kerjanya untuk tahu bahwa ada beberapa pertanyaan yang lebih baik tidak diteruskan. Ia tidak berlama-lama. Ia mengirim pesan bahwa dirinya akan berangkat ke rumah Ayu. Balasan Ayu datang tak lama kemudian, mempersilakannya datang.
Menjelang sore, Agus tiba di halaman rumah yang sudah dikenalnya. Dari ruang tengah terdengar Bapak Ayu bertanya kepada putrinya tentang lokasi kemah. Rupanya sebuah peta di ponsel baru saja dibuka.
Agus memberi salam dan masuk setelah dipersilakan. Bapak Ayu menyambutnya dengan ramah, sementara Ibu Ayu menyiapkan teh hangat. Pertemuan mereka tidak lagi terasa seperti berkenalan dari awal; mereka sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama, termasuk saat mancing keluarga.
Bapak Ayu memandang Agus. “Aku sudah dengar rencananya dari Ayu. Sebenarnya tidak keberatan. Cuma ingin tahu tempat kemahnya, fasilitasnya, dan bagaimana kalau menginap di sana.”
“Sebelumnya, saya minta izin dulu, Pak, Bu, mau mengajak Ayu kemah,” kata Agus. “Tempatnya masih di sekitar danau tempat kita memancing kemarin.”
“Oh, danau yang itu?” Bapak Ayu menurunkan ponsel. “Aku kira jauh di lokasi lain.”
“Danaunya sama, Pak,” Ayu menjelaskan. “Cuma tempat kemahnya sedikit berbeda dari lokasi mancing yang kemarin.”
“Tidak perlu sungkan begitu, Mas Agus,” kata Ibu Ayu. “Ayu sudah besar. Kalau memang ingin mencoba dan persiapannya baik, Ibu tidak keberatan.”
“Aku sendiri yang minta ikut, Bu. Aku bahkan sudah pesan, nanti aku mau belajar memasang tenda sendiri.”
“Bagus. Tapi jangan seperti waktu merapikan buku. Belum selesai malah asyik membaca.”
“Lha, Bu! Masa sedang memasang tenda aku mau baca buku?”
Bapak Ayu tersenyum, lalu kembali ke pokok pembicaraan. “Kalau siang tempat itu nyaman. Tapi menginap tentu berbeda. Ada yang menjaga malam hari? Kamar mandinya bagaimana?”
“Di sana ada warung dan penjaganya, Pak. Saya sudah sering kemah di sana. Kalau malam ada lampu kecil di area fasilitas, kamar mandinya juga cukup baik.”
“Nah, itu yang ingin kutahu. Kalau ada penjaga dan fasilitasnya jelas, aku lebih tenang,” kata Bapak Ayu.
Bapak Ayu dan istrinya saling pandang. “Kalau begitu kami izinkan,” kata Bapak Ayu. “Tapi kalau cuaca jelek, jangan dipaksakan. Rencana bisa berubah. Keselamatan tidak.”
“Dan kalau ada sesuatu, kabari rumah,” Ibu Ayu menambahkan. “Jangan sampai baterai ponsel habis.”
“Iya, Bu,” jawab Ayu, kali ini tidak menggoda.
“Jam berapa berangkat, Mas?” Bapak Ayu bertanya.
Agus menoleh kepada Ayu. “Bagaimana, Yu? Pagi saja? Jam sembilan?”
“Jam sembilan enak, Mas. Tidak harus berangkat terlalu subuh, tetapi masih banyak waktu di sana.”
Ketika pembicaraan mulai reda, Ayu teringat bahwa ia belum punya lampu untuk tenda. “Mas, besok selepas kerja mau menemaniku mencari lampu? Yang bisa digantung, bukan hanya senter yang dipegang. Aku ingin memilih sendiri.”
“Boleh, Yu. Besok kukabari setelah kerja.”
Agus kemudian pamit. Ia mengucapkan terima kasih atas izin yang diberikan.
Di depan pintu, Ayu menoleh kepada Agus. “Terima kasih sudah mampir setelah kerja, Mas. Besok kita cari lampu, ya. Kalau sudah sampai rumah, kabari.”
“Iya, Yu. Sampai besok.”
Lampu, Hujan, dan Daftar Belanja
Jumat pagi berjalan seperti hari kerja biasa.
Menjelang sore, Agus menghubungi Ayu. Mereka sepakat bertemu di kantornya sebelum pergi mencari lampu tenda.
Di depan gedung, Ayu sedang bersama Sari, yang rupanya baru selesai menceritakan pengalaman kemah paling buruk yang ia ingat.
“Mas Agus! Sini, Mas!” Ayu melambai. “Mbak Sari dari tadi menakut-nakutiku soal tidur di luar.”
“Lho, aku cuma cerita pengalaman,” protes Sari. “Waktu itu hujan deras, tenda temanku bocor. Akhirnya kami mengungsi ke mobil.”
“Nah, itu!” Ayu menunjuk rekannya. “Yang diceritakan dari tadi jeleknya semua.”
“Jangan didengarkan, Yu,” kata Agus sambil tertawa. “Bukan karena ceritanya menakutkan. Ceritanya memang menakutkan, cuma jangan didengarkan saja.” Ia menoleh kepada Sari. “Iya, kan, Mbak?”
Sari terbahak. “Ya, benar! Aku tidak bilang semua kemah pasti begitu. Biar dia siap saja.”
“Siap, tetapi jangan langsung dibuat merasa mau ekspedisi,” balas Ayu.
Sari tertawa, kemudian pamit karena harus membeli martabak untuk keluarganya. Ia sempat menitipkan Ayu kepada Agus dengan nada menggoda.
“Mbak Sari!” Ayu memprotes, tetapi sudah ikut tertawa sebelum rekannya pergi.
“Tokonya dekat sini, Mas,” kata Ayu. “Aku sudah lihat katalog. Ada lampu yang bisa digantung, diisi ulang lewat USB, terang-redupnya bisa diatur. Memang sedikit lebih mahal, tapi aku ingin melihat barangnya langsung.”
Mereka menggunakan motor Agus; motor Ayu tetap di parkiran kantor dan akan diambil setelah berbelanja.
Di toko perlengkapan luar ruang, Ayu langsung mengenali lampu dari katalog. Pegawai menawarkan untuk menyalakannya, lalu menjelaskan pilihan tingkat kecerahan. Ayu menekan tombol dan seketika cahaya terang menerpa wajahnya.
“Waduh!” Ia menyipitkan mata, buru-buru menurunkan tingkat terangnya. “Nah, kalau begini enak. Tadi seperti lampu ruang operasi.”
“Wajahmu langsung glowing tadi, Yu,” Agus menggoda.
“Ya jelas, Mas. Disorot lampu begitu semua orang juga bisa glowing!”
Ayu keluar dari toko dengan lampu pilihannya sendiri. Namun baru beberapa langkah menuju pintu, terdengar bunyi hujan mengenai atap. Mereka berhenti dan memandang jalan yang mendadak basah.
Mereka menunggu sampai hujan mulai reda dan jalan di depan toko kembali terlihat jelas.
Mereka tiba di swalayan dengan daftar yang sudah dibuat Ayu: mi, sosis, bumbu, bahan sarapan, dan beberapa camilan. Jagung akan dibeli dalam perjalanan besok.
“Marshmallow, Yu,” Agus mengingatkan.
Mata Ayu langsung membesar. “Wah, iya! Yang ditusuk lalu dipanggang di api itu, kan? Aku sering lihat di film, belum pernah mencoba.”
Ayu memasukkan marshmallow ke keranjang. Setelah sosis, mi, telur, dan roti untuk sarapan juga terbeli, mereka keluar dari swalayan.
Mereka kembali ke kantor Ayu untuk mengambil motornya. Sore hampir habis. Petugas keamanan sedang bersiap menutup salah satu gerbang.
Di rumah malam itu, Ayu masih mendapat pengingat dari orang tuanya: jaket, powerbank, barang yang jangan tertinggal. Ia menjawab sambil merapikan tas yang tampaknya semakin penuh setiap kali diperiksa. Ketika akhirnya duduk di tepi tempat tidur, ia menatap tas dan bantal kecilnya lalu tertawa sendiri. Berkemah satu malam, rupanya, membutuhkan persiapan yang jauh lebih banyak daripada yang dulu ia bayangkan.
Dua Tenda di Tepi Danau
Sabtu pagi, rumah Agus sudah sibuk sejak sebelum jam delapan. Dua tas tenda, sleeping bag, perlengkapan memasak, dan alat pancing dikelompokkan di dekat mobil. Bapak berulang kali memeriksa barang, sedangkan Ibu berulang kali mengingatkan agar barang yang sudah ditata tidak dipindah-pindahkan.
Ibu menyerahkan tas kecil berisi roti isi telur. “Ini buat kamu dan Ayu di jalan. Ada empat.”
“Empat? Bapak tidak dapat?”
“Bapak sarapannya di meja makan!”
Di rumah Ayu, suasananya tidak kalah sibuk. Ayu sedang mencoba memasukkan bantal ke dalam tas ketika ibunya menyuruhnya membawa bantal itu terpisah saja. Bapak Ayu memeriksa sekali lagi apakah seluruh barang sudah disiapkan.
“Mas Agus!” seru Ayu begitu melihat mobil berhenti. “Barangku lumayan banyak, lho!”
Agus turun dan memberi salam kepada orang tuanya. Ia menatap tumpukan barang di dekat pintu.
“Wah, banyak juga, Yu. Kalau bagasi tidak cukup masih ada kursi tengah. Atau sekalian bawa spring bed?”
Ayu terbahak. “Kasurku tidak muat lewat pintu, Mas!”
Bapak Ayu menyambung tanpa ragu, “Sekalian bawa lemari bukunya Ayu. Biar rumah agak longgar.”
“Pak! Lemari bukuku tidak ikut kemah!”
Tawa mereka belum reda ketika Ibu Ayu mengingatkan waktu. Ayu pamit kepada orang tuanya. Agus ikut menyalami keduanya dan menyatakan akan menjaga Ayu baik-baik.
“Mas, aku ini seperti mau dititipkan ke sekolah, ya?” bisik Ayu saat mereka berjalan ke mobil.
“Memang sekolah, Yu,” sahut ayahnya. “Sekolah memasang tenda!”
Ayu melambaikan tangan. “Baik, Pak. Muridnya berangkat dulu!”
Setelah orang tuanya masuk rumah, Agus melirik wajah Ayu dari dekat. Ada bayangan gelap di bawah matanya. Tanpa begitu memikirkan gerakannya, Agus sempat menyentuh ringan bagian bawah mata itu.
“Yu, tadi malam tidak tidur? Matamu seperti panda.”
Ayu terkejut sesaat, lalu tertawa malu. “Kelihatan sekali, ya? Aku sudah di tempat tidur jam sepuluh, tapi masih memikirkan tenda, danau, masak, marshmallow. Lewat tengah malam masih belum bisa tidur.”
“Semangat sekali.”
“Seperti anak mau piknik sekolah, ya?” Ayu menarik napas. “Tapi tenang, Mas. Aku masih segar.” Ia menguap, lalu menatap Agus. “Oke. Itu tidak membantu pembelaanku.”
Di perjalanan Agus mempersilakan Ayu tidur bila lelah.
“Kalau begitu aku merem sebentar. Bangunkan kalau sudah dekat danau, ya. Tapi aku belum tentu tidur, lho. Cuma merem...”
Tidak lama kemudian ucapannya terhenti. Agus melanjutkan perjalanan, sempat berhenti membeli jagung seperti rencana mereka, lalu kembali menuju danau. Menjelang lokasi kemah, Ayu bergumam setengah sadar, bertanya apakah mereka sudah sampai.
Ayu masih tertidur di kursi penumpang ketika Agus selesai mendirikan tenda pertama. Mobil diparkir di tanah yang cukup rata, agak jauh dari pinggir danau. Di bawah pohon, kain tenda bergerak pelan ditiup angin.
Ayu mengucek mata. Ia melihat keluar jendela, lalu duduk tegak begitu menyadari di mana mereka berada.
“Lho, sudah sampai?”
Pandangan Ayu jatuh pada tenda yang sudah berdiri. Ia membuka sabuk pengaman dan bergegas turun.
“Lah! Mas Agus!” Ia menoleh dari tenda ke mobil, lalu kembali ke tenda. “Kok sudah jadi? Aku tidur selama itu, ya? Sampai nggak tahu kita sudah tiba dan Mas sudah memasang tenda!”
Ia mendekat, menyentuh kainnya, lalu mengintip pintu tenda. Wajahnya senang, tetapi nada protesnya belum hilang.
“Mas, aku kan ingin belajar memasang sendiri.”
Agus menunjuk tas tenda yang masih tertinggal di bagasi. Ayu mengikuti arah tangannya.
“Eh, tunggu. Baru satu?” Senyumnya langsung melebar. “Nah! Kalau begitu yang satunya bagianku. Jangan dipasang dulu, Mas!”
Agus justru tertawa melihat rambut Ayu yang berdiri ke berbagai arah.
“Cuci muka dulu, Yu. Rambutmu acak-acakan begitu. Habis itu baru kita pasang tenda.”
“Acak-acakan?” Ayu meraba kepalanya, kemudian berbalik mencari pantulan wajahnya di kaca mobil. “Astaga! Ini rambut apa sarang burung?”
Beberapa menit kemudian, Ayu kembali dengan wajah lebih segar dan rambut yang sudah diikat. Ia meletakkan tasnya di mobil, lalu mengangkat tas tenda kedua.
“Nah. Sekarang peserta pelatihannya sudah siap.” Ia menunjuk tempat kosong di sebelah tenda Agus. “Aku pasang di sini, ya?”
“Boleh, Yu. Tanahnya cukup rata.”
Ayu berjongkok dan membuka ritsleting tas. Satu per satu isinya ia keluarkan: kain tenda, rangka lipat, dan pasak. Semuanya ditata di tanah agar mudah terlihat.
“Mas, sebaiknya kainnya dibentangkan dulu atau rangkanya dirakit dulu?”
“Kain tendanya dibentangkan dulu, Yu.” Agus duduk di tanah di dekatnya. “Ratakan alasnya, lihat bagian pintunya menghadap mana. Setelah itu baru rangkanya kita sambung dan masukkan lewat selongsong kain. Pelan-pelan saja.”
“Oalah, begitu. Jadi kelihatan dulu bentuk dan arahnya, ya.” Ayu membentangkan kain tenda di tanah, merapikan lipatan alasnya, lalu menoleh ke tenda yang sudah berdiri di sebelah. Setelah yakin arah pintunya sesuai, ia kembali mengambil rangka.
“Nah, sekarang batangnya disambung satu-satu.”
Ayu merakit dua batang rangka sendiri. Sesekali ia berhenti untuk memastikan ruas yang dipegangnya sudah masuk dengan pas. Setelah keduanya selesai, ia membandingkan letak selongsong pada kain dengan rangka yang tergeletak di dekatnya.
“Kalau begitu dua rangka ini nanti menyilang.”
Ia mulai memasukkan batang pertama ke selongsong kain. Awalnya lancar, tetapi di tengah jalan rangka itu tidak mau bergerak lagi.
“Lho, kok berhenti?”
Ayu hendak mendorongnya, lalu melihat kain yang ikut mengumpul. Ia berhenti, meratakan bagian yang tersangkut, dan mencoba kembali. Rangka itu pun bergerak maju.
“Ha! Bisa!” Ia menoleh kepada Agus dengan senyum puas, sebelum kembali memperhatikan pekerjaannya. “Tapi nanti cara mendirikannya bagaimana, Mas? Rangkanya masih lurus begini.”
“Ujung yang sana masukkan ke dudukan di sudut bawah tenda, Yu. Pelan-pelan, nanti rangkanya melengkung.”
Ayu memegang ujung yang ditunjuk Agus dan mencoba mendekatkannya ke sudut alas tenda. Batang itu mulai melengkung.
“Sebentar, sebentar.” Ia berhenti. “Kok seperti mau patah, ya?”
“Memang melengkung begitu waktu dipasang. Jangan dipaksa kalau tersangkut.”
Ayu menyesuaikan posisi tangannya. Kali ini ujung rangka berhasil masuk ke dudukannya dan sebagian kain mulai terangkat.
“Waaah, berdiri, Mas!”
Ia tertawa melihat bentuknya yang baru terangkat sebelah.
“Tapi kok seperti rumah ambruk separuh?”
“Masih ada ujung satunya,” kata Agus, tersenyum.
“Iya, tahu.” Ayu menoleh dengan wajah sok tegas. “Sekarang aku coba sendiri. Mas Agus mengawasi saja, ya. Jangan dibantu dulu.”
Agus tertawa kecil. “Iya, Yu. Aku diam. Kutunggu.”
“Nah, begitu. Pak Instruktur duduk manis dulu.”
Ayu kembali berjongkok. Ia memegang ujung rangka yang belum terpasang, melengkungkannya perlahan, lalu mengarahkan ke sudut tenda.
“Sedikit lagi...”