Setelah Kata Iya
Jumat malam mulai turun di luar kafe. Lampu toko di seberang jalan menyala satu per satu, sesekali tertutup kendaraan yang lewat. Di meja Agus dan Ayu, pizza ayam nanas sudah habis. Piring spageti nyaris bersih; es di gelas kopi telah tinggal serpihan kecil.
Ayu menatap Agus. Jari yang sedari tadi menyusuri bibir gelas berhenti bergerak. Ia baru saja mengatakan bahwa ia juga menyukai Agus—jawaban yang selama ini belum sanggup ia berikan. Sekarang, justru setelah kata-kata itu keluar, ia tampak bingung mesti melakukan apa.
“Mas?”
Agus tidak menjawab. Ia melipat kedua tangan di atas meja, lalu menjatuhkan wajah ke sana. Bahunya bergerak-gerak karena tertawa.
“Lho?” Ayu terkejut. Sesaat kemudian ia ikut tertawa, menutup mulut dengan satu tangan. “Mas Agus! Lha, bagaimana ini? Aku yang dari tadi mengumpulkan keberanian buat ngomong, kok malah Mas yang sembunyi?”
Ia mencondongkan badan, mencoba mengintip wajah di balik lengan itu. “Mas, coba angkat kepala dulu. Aku jadi ingin ketawa terus.” Pipinya sendiri sudah memerah. “Ya ampun, dua-duanya malah nggak karuan.”
Agus mengangkat kepala. Ia tersenyum, tetapi matanya tampak berkaca-kaca. “Beneran, Yu?”
Tawa Ayu mereda begitu melihat wajahnya.
“Iya, Mas. Beneran.” Ia mengangguk. “Aku suka sama Mas.”
Agus masih memandanginya. Ayu tersenyum lebih lembut, lalu meraih tisu di samping piring tanpa menggunakannya.
“Jangan lihat aku begitu, dong. Nanti aku ikut nangis.” Ia menghela napas kecil. “Aku sudah mikir lama. Jadi bukan karena kasihan, bukan juga karena Mas sudah menunggu. Aku memang ingin bilang sendiri.”
Beberapa saat Agus hanya tersenyum. Lalu tawa yang tertahan sejak tadi keluar lagi.
“Yu, kamu mau makan apa sekarang? Mau beli apa? Pizza lagi? Apa tanah dua hektare?”
Ayu yang baru hendak mengangkat gelas membeku. “...Tanah dua hektare?”
Ia menatap Agus, lalu tertawa sampai tangannya mencari pegangan di tepi meja.
“MAS! Aku baru saja ngomong serius, kok tiba-tiba ditawari tanah dua hektare? Pizza tadi saja aku sudah kenyang. Kalau tanah, mau kumakan pakai apa?”
Agus tertawa lebih keras. Ayu mengusap sudut mata.
“Tapi kalau benar dapat dua hektare, kutanami stroberi semua,” lanjutnya, seolah tawaran itu patut dipertimbangkan. “Nanti Mas yang merawat. Aku bagian makan hasilnya.”
“Soalnya aku lagi senang banget, Yu. Ayo, pilih mau beli apa.”
“Mas ini kalau senang seperti menang undian!” Ayu melirik piring-piring kosong. “Sudah, aku nggak muat makan lagi. Nanti kalau dipaksa tambah pesanan, aku nggak bisa berdiri.”
Ia menyipitkan mata. “Tapi... kalau aku boleh pilih sendiri, bagaimana? Jangan kaget kalau lebih mahal daripada pizza.”
“Sebentar, sebentar. Aku cuma bercanda!” Agus segera mengangkat tangan. Mereka tertawa lagi, lalu Agus berkata lebih pelan, “Makasih, ya, Yu. Sudah kasih jawaban.”
Ayu meletakkan gelas.
“Aku juga harus bilang terima kasih, Mas. Mas sudah memberiku waktu, nggak buru-buru meminta jawaban.” Ia menghela napas lega. “Rasanya enteng sekarang.”
Lalu pandangannya beralih ke tangan Agus yang masih ada di meja. Senyum usilnya muncul kembali.
“Tapi mulai sekarang jangan sembunyikan muka di meja lagi, ya.”
“Enggak, Yu. Mulai sekarang aku terus mendongak.”
“Kenapa?”
“Biar kalau jalan nggak lihat depan, terus tersandung.”
Ayu tertawa sampai bahunya naik-turun. “Lho, orang senang biasanya jalannya lebih ringan. Mas malah mau menabrak paving! Tapi kalau benar tersandung, aku yang pertama tertawa.”
“Wah, kurang ajar! Teman macam apa itu?” Agus mendadak terhenti. “Eh? Maksudku...”
Ayu yang tadi tertawa langsung diam sesaat.
“Eh?” Ia memandang Agus, lalu senyumnya perlahan melebar. “Lho, lho, lho... maksudnya apa, Mas? Kok teman?”
Ia memajukan badan, menopang dagu dengan satu tangan. “Terus, aku sekarang apanya Mas?”
“Namanya apa, ya? Kok aku lupa.” Agus pura-pura berpikir keras. “Teman, bukan. Istri, belum... Mungkin nanti. Hmmm...”
Alis Ayu terangkat. “ISTRI?”
Ia tertawa dan buru-buru menutup mulut. “Mas Agus! Dari teman langsung istri? Yang di tengah-tengah malah dilewati?” Pipinya kembali merah. “Apa Mas mau melamar aku sekarang juga di kafe ini?”
“Yang itu nanti saja, Yu. Masih enak jalan-jalan.” Agus ikut tertawa, lalu mengulurkan tangan di atas meja. Wajahnya tetap memerah. “Jadi... sekarang kita resmi pacaran, ya?”
Ayu menatap tangan itu, kemudian menatap Agus. Tawanya kembali keluar, kali ini lebih kecil.
“Kok seperti habis tanda tangan kontrak kerja sama, sih?”
Tetapi ia menyambut uluran itu. Tangan mereka bersalaman, sedikit canggung, sedikit lucu karena dua-duanya tak berhasil menyembunyikan senyum.
“Iya, Mas Agus. Resmi.” Ayu menggenggam tangan itu sebentar.
Ia menyipitkan mata. “Tapi kalau Mas tersandung, aku tetap boleh ketawa, kan?”
“Boleh, Yu.” Agus melepas tangannya perlahan. “Aku cuma berharap nggak ada yang berubah dari kita.”
“Aku juga.” Ayu bersandar lagi. “Aku tetap Ayu yang suka buku, kadang cerewet, kalau makan es krim bisa belepotan. Mas juga tetap suka mancing, suka mengutak-atik barang, dan suka menggodaku.”
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara sedikit lebih pelan, “Cuma kalau sekarang ada yang tanya Mas itu siapa... aku punya jawaban yang lebih jelas.”
“Berarti dulu jawabannya nggak jelas? Misalnya ada orang tanya, ‘Yu, itu siapa?’ lalu kamu jawab, ‘Maaf, saya juga nggak ngerti dia siapa,’ begitu?”
Ayu langsung tertawa. “Bukan begitu, Mas! Kok malah jadi orang asing yang identitasnya nggak diketahui? Ya kujawab Mas Agus, teman SMA-ku, belakangan ini baru ketemu lagi di toko buku. Waktu itu kan kita memang belum pacaran.”
“Panjang juga jawabannya. Pantas selama ini energimu habis buat menjelaskan aku.” Agus mengibaskan kerah bajunya. “AC dingin begini kok rasanya gerah, ya. Mau beli minum lagi, Yu?”
Ayu menahan senyum ketika mendengar keluhannya soal gerah. “Aku air putih saja. Kopinya sudah cukup.” Ia mengambil tas. “Aku ikut ke kasir, ya. Bayar minumku sendiri. Makan tadi sudah Mas traktir.”
“Bayar sendiri? Nggak sekalian saja? Atau cuma mau ikut terus? Jangan nempel-nempel, Yu.”
“MAS!” Ayu hampir tertawa lagi sebelum sempat memprotes. “Baru saja resmi pacaran, sudah dituduh nempel-nempel! Ya sudah, aku duduk sini. Mas yang beli. Air dingin satu.”
Ia mengembalikan tasnya ke kursi. “Dan aku nggak harus menjelaskan riwayat hidup Mas setiap ada yang tanya. Dulu cukup ‘teman SMA-ku’. Sekarang lebih hemat energi.” Ia membuat wajah serius. “‘Pacarku.’ Selesai.”
Agus tertawa sambil beranjak membeli air.
Tak lama ia duduk lagi dan menyerahkan botol yang baru dibelinya kepada Ayu.
Sejak mereka bersalaman tadi, Ayu beberapa kali memperhatikan cara Agus memandangnya: masih agak tidak percaya, tetapi setiap kali berusaha bersikap biasa, senyumnya muncul lagi.
Ia memandang Agus yang masih saja tersenyum. “Senang banget, ya?”
Agus mengangguk. Ayu ikut tersenyum.
“Ya sudah, hari ini Mas boleh cerewet sepuasnya. Aku kasih dispensasi.” Ia mengangkat telunjuk. “Tapi besok kembali normal, ya. Aku nggak sanggup setiap hari dapat tawaran tanah dua hektare.”
Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di dekat gelas. Angka di layar membuatnya mengangkat alis.
“Eh, hampir jam tujuh. Cepat banget, ya? Tadinya aku mengajak makan dan ngopi saja, lho.”
Agus ikut melirik jam. Baru setelah itu ia teringat undangan Ayu sehari sebelumnya.
Agus tiba-tiba mengangkat kepala. “Sebentar, Yu.” Agus memperhatikan Ayu sambil berusaha memasang wajah curiga. “Kemarin kamu yang mengajak makan. Jangan-jangan dari awal sudah direncanakan?”
“Yang mana?”
“Yang tadi. Pengakuan itu.”
Ayu diam satu detik, lalu senyumnya melebar seperti orang tertangkap basah tetapi sama sekali tidak menyesal.
“Lho, baru sadar sekarang, Mas?” Ia tertawa. “Ya memang kurencanakan! Aku ingin bicara langsung, nggak lewat WhatsApp. Makanya aku ajak ketemu.”
Ia menyandarkan punggung. “Tapi yang memilih kafe Mas. Yang memilih pizza juga Mas. Jadi kalau ini jebakan, Mas ikut menyiapkan jebakannya sendiri.”
“Lha, itu malah lebih kejam! Aku ikut menyiapkan tapi nggak tahu apa-apa.” Agus menggeleng, masih tertawa. “Tapi aku bersyukur sudah ditipu.”
“Orang ditipu malah berterima kasih!” Ayu terkekeh. “Aku juga senang rencanaku berhasil. Walaupun pas mau ngomong tadi jantungku berdebar sekali.” Ia memutar tutup botol. “Dan ternyata setelah aku bilang suka, Mas malah bersembunyi di meja. Aku sempat takut Mas nggak percaya.”
“Bagaimana nggak sembunyi, Yu? Kamu menyerang tiba-tiba. Untung aku nggak kena serangan jantung. Harusnya bilang pelan-pelan, kasih aku kesempatan siap mental. Kasih spoiler, jangan langsung tembak. Lho, kok seperti mau menyampaikan kabar ke orang tua, ya?”
Ayu terbahak. Ia menarik napas, lalu duduk tegak, membuat suara seformal mungkin.
“Mohon maaf, Mas Agus. Lima menit lagi saya akan menyampaikan sesuatu yang bisa memengaruhi detak jantung Anda. Silakan persiapkan mental terlebih dahulu.”
Agus makin tertawa. Ayu pun tak sanggup mempertahankan suara resminya.
“Mana ada orang mau bilang suka harus kasih pengumuman lima menit sebelumnya! Kalau aku harus memberi spoiler, bisa-bisa Mas malah berpikir seminggu. Aku sendiri tadi juga gugup. Kalau perlu berpidato dulu, mungkin nggak jadi ngomong.”
“Kamu kira aku nggak gugup? Kamu yang bilang, aku yang gemetar!”
“Iya, aku tahu.” Ayu tertawa kecil. “Kupikir tadi Mas menunduk karena tertawa, ternyata sedang menyelamatkan jantung. Tanganku juga dingin, lho. Kalimatnya sudah kususun di kepala, tetapi susah sekali keluar.”
Ia menatap meja mereka. “Kalau tadi gagal, mungkin minggu depan aku ajak Mas makan lagi buat mengumpulkan keberanian.”
“Lalu dua tahun nggak keluar juga suaranya!” sahut Agus. “Plot twist-nya, kita jadi pelanggan tetap kafe ini.”
Ayu langsung menegakkan badan, menangkap permainan itu.
“Dua tahun, Mas! Pelayannya sampai hafal pesanan kita. ‘Selamat siang, Mas, Mbak. Seperti biasa, ya? Pizza satu, spageti satu, sama pengakuan yang belum selesai?’”
Ia terputus oleh tawanya sendiri sebelum melanjutkan, “Setiap datang aku bilang, ‘Kayaknya hari ini sudah berani.’ Habis makan, ‘Minggu depan saja, ya.’ Yang senang pemilik kafe. Omzetnya naik karena aku nggak berani bicara. Untung hari ini urusannya sudah selesai.”
Agus masih tertawa, lalu ia mendadak diam. Wajahnya berubah lebih serius. “Yu, tadi kamu bilang sekarang sudah selesai.” Agus menggeleng. “Belum. Kita cuma pindah halaman.”
Tawa Ayu perlahan berhenti. Ia mengulangi kalimat itu pelan. “Pindah halaman...”
Ia tersenyum. “Berarti ceritanya masih panjang, ya, Mas? Kalau begitu, judul bab berikutnya apa?”
“Itu bedanya buku sama hidup, Yu. Buku sudah punya daftar isi. Kalau hidup, setiap halaman kita tulis sendiri.”
Ayu membiarkan kata-kata itu lewat sebentar sebelum menjawab. “Boleh kutulis di buku catatanku?” Ia tersenyum. “Aku setiap hari mengurus naskah orang. Bisa tahu awal, tengah, bahkan akhir ceritanya sebelum selesai membaca. Tapi hidup sendiri? Besok terjadi apa saja belum tahu. Aku dulu masuk toko buku cuma mau cari novel. Nggak tahu bakal bertemu Mas lagi.”
Ia berpikir, lalu mengangkat telunjuk. “Tapi kalau tiap halaman harus ditulis sendiri, boleh bawa tipe-x, nggak? Kadang aku salah menulis.”
“Bukan begitu cara kerjanya, Yu.” Agus tertawa. “Kalau ada salah di halaman ini, perbaikinya di tulisan halaman selanjutnya. Bukan mencoret halaman yang sudah lewat.”
“Oalah, nggak ada tombol undo?” Ayu mengangkat alis. “Padahal pekerjaanku tiap hari membetulkan tulisan. Salah sedikit bisa diganti. Paragraf jelek bisa dibuang semuanya.”
Ia memandang Agus lagi. “Berarti salah menulis di halaman tiga, memperbaikinya di halaman empat.”
“Ya, kurang lebih.”
“Tapi aku mau sedikit berbeda pendapat. Halaman yang sudah lewat kadang perlu dibaca lagi. Bukan supaya bisa diubah, melainkan supaya tahu kenapa dulu kita keliru.”
Agus mengangguk, berpikir. “Hmm, iya juga. Itu namanya... instropresk... ah... si? Bukan?”
“Instropresk?” Ayu mengulangnya dengan hati-hati, lalu meledak tertawa. “Introspeksi, Mas! Bukan nama obat!”
Agus ikut tertawa. “Oh, iya. Makasih sudah dibetulkan, Ibu Editor.”
“Sama-sama, Bapak Programmer. Kalau ada salah ketik atau salah ucap, silakan konsultasi lagi.” Ayu bergaya resmi beberapa detik sebelum tertawa sendiri. “Tapi aku kerja di penerbitan, bukan kamus berjalan. Untung Mas nggak harus bayar setiap salah bicara. Bisa-bisa hari ini aku dapat pemasukan tambahan.”
“Yang tadi seperti nama fitur baru di aplikasi Mas,” tambah Ayu, kemudian tertawa lagi. Setelah itu ia melihat ponsel. “Wah, sudah lewat jam tujuh. Besok aku masih ingin bangun agak pagi. Ada buku di rumah yang belum selesai kubaca.”
“Oh, iya. Maaf, Yu, aku sampai lupa kamu tadi sudah bilang soal jam. Masih ingin ngobrol terus.”
“Kenapa minta maaf?” Ayu tersenyum. “Aku juga. Rasanya baru sebentar duduk di sini, padahal makanan kita sudah lama habis.”
Agus melirik piring-piring kosong yang telah dirapikan ke tepi meja. Ayu memutar tutup botol air untuk terakhir kali, lalu memasukkannya ke tas.
“Tapi kalau diteruskan, jangan-jangan kita sampai diminta membantu menutup kafe,” katanya.
“Nanti kamu bagian cuci piring.”
“Lho! Yang menghabiskan pizza paling banyak siapa? Mas saja yang cuci!”
Mereka tertawa sambil berdiri. Suara kursi bergeser di lantai nyaris tenggelam oleh percakapan dari meja lain. Di dekat kasir, pelayan yang tadi melayani mereka tersenyum.
“Terima kasih, Kak. Hati-hati di jalan.”
“Iya, terima kasih, Mbak,” jawab Ayu.
Di parkiran, Ayu berhenti di samping motornya. Ia masih tersenyum, tetapi suaranya lebih pelan daripada ketika mereka saling menggoda di meja.
“Makasih, ya, Mas. Sudah mau menemaniku sore ini. Meskipun ternyata aku yang bawa kejutan.”
“Sama-sama, Yu. Aku juga makasih karena kamu mau memberi jawaban yang jujur.” Agus memasang helm. “Ayo, kamu duluan. Aku menyusul.”
Ayu mengangguk. “Hati-hati, Mas.”
Tak ada yang mengantar siapa pun sampai ke rumah malam itu. Keduanya pulang melalui jalan masing-masing, membawa percakapan yang tadi baru saja mengubah sebutan mereka satu sama lain.
Kabar Baik dan Perkara Perut
Ketika Agus tiba di rumah, jam sudah mendekati pukul delapan. Dari ruang tengah terdengar suara televisi, diselingi perdebatan yang nadanya lebih mirip obrolan santai daripada perkara penting.
“Bu, tombol volumenya susah sekali,” kata Bapak sambil mengarahkan remote ke televisi. Angka volume di layar tidak bergerak meski ibu jarinya berkali-kali menekan tombol yang sama.
Ibu tidak langsung menoleh dari pakaian yang sedang dilipatnya. “Baterainya sudah diganti?”
“Belum. Kukira tombolnya rusak.”
“Lha, kalau baterainya habis, ditekan seratus kali juga percuma.”
Bapak menoleh ketika Agus lewat di depan ruang tengah. “Gus! Sudah pulang, Le?”
“Sudah, Pak, Bu.”
Ibu lalu bertanya kepada Agus, “Tadi makan di luar, Le?”
“Iya, Bu. Sama Ayu.” Agus tersenyum tanpa menjelaskan lebih lanjut. “Aku mandi dulu, ya. Lengket rasanya habis dari luar.”
Biasanya Agus masih sempat menceritakan makanannya atau menanyakan acara televisi yang sedang menyala. Kali ini ia langsung menuju kamar. Setelah pintunya tertutup, Bapak dan Ibu saling berpandangan.
“Bu,” kata Bapak pelan, “kamu lihat mukanya tadi?”
“Lihat. Senyum-senyum sendiri.”
“Biasanya kalau ditanya makan apa, dia cerita sampai ke bumbu dan cara masaknya. Ini langsung mandi.”
“Ya biarkan mandi dulu.”
“Menurutku ada kabar bagus.”
“Kok tahu?”
“Ya nggak tahu. Itu sebabnya aku penasaran.”
Ibu kembali melipat pakaian. “Kalau Agus ingin cerita, nanti juga cerita sendiri.”
Bapak menatap remote yang tergeletak di meja. “Remote ini saja nggak mau diajak bicara, Bu.”
“Ya sudah, jangan diinterogasi juga, Pak.”
Bapak tertawa; remote itu tetap diam.
Agus kembali ke ruang tengah dengan rambut masih lembap. “Ah, segar. Besok libur. Berarti boleh bangun siang, kan?”
“Boleh, Le,” jawab Ibu sambil merapikan pakaian di sofa. “Tapi kalau bangun siang terus cari sarapan, jangan protes kalau lauknya sudah habis.”
“Aku juga mau bangun siang besok, Bu,” kata Bapak dari kursi dekat televisi.
Ibu menoleh. “Kamu setiap hari sudah libur. Kan sudah pensiun.”
“Orang pensiun juga perlu libur, Bu. Libur dari kegiatan pensiun.”
“Kegiatanmu apa? Ngopi, mengurus kebun, mencari pisang?”
“Berat itu, Bu. Apalagi kalau pisangnya habis.”
Agus tertawa. Bapak memperhatikan senyumnya, lalu melihat Ibu dengan pandangan penuh arti.
“Ngomong-ngomong, Gus. Tadi jadi makan sama Ayu, kan?”
“Sudah kujawab tadi, Pak. Jadi.”
“Oalah, iya!” Bapak menepuk dahinya. “Aku malah lupa.”
“Lho, tadi kamu menggoda Agus, sekarang kamu sendiri yang pikun,” kata Ibu.
“Ya sudah, salahku.” Bapak mengambil kacang goreng. “Tapi ada yang berbeda. Sejak pulang, anak kita senyum terus. Bapak boleh penasaran nggak, Gus?”
“Nggak!” jawab Agus cepat, tetapi senyumnya mengkhianatinya.
Bapak langsung mengangkat kedua tangan. “Wah, nggak boleh! Ya sudah, Bapak diam.”
“Sudah dibilang nggak boleh. Rasakan,” kata Ibu.
“Aku cuma penasaran, Bu. Apa salah?”
“Nggak salah. Tapi kalau nggak boleh, ya jangan dipaksa.”
“Ya sudah, aku urusi kacang saja. Kacang ini nggak pernah menyimpan rahasia.”
“Nggak menyimpan rahasia, tapi kalau tiba-tiba habis, kamu yang pertama kutanya.”
Bapak melihat piring yang mulai kosong. “Lho, kok hampir habis?”
Agus akhirnya duduk. “Memang mau tanya apa, Pak?”
Bapak yang tadinya sudah pura-pura sibuk dengan kacang langsung menegakkan badan.
“Lho, sekarang boleh?” Ia melirik Ibu. “Bu, dengar sendiri, ya. Ini Agus yang menawarkan. Bukan aku yang memaksa.”
“Iya, iya,” sahut Ibu, masih melipat baju. “Tapi tanyanya yang benar. Jangan pakai pembukaan seperti mau pidato.”
Bapak mengambil napas, sengaja memasang muka serius. “Baik. Pertanyaan pertama...”
“Pak!” Agus sudah tertawa lebih dulu.
“Lha, belum mulai!” Bapak ikut terkekeh. Ia menggeser piring kacang sedikit menjauh, seolah perlu meja kosong untuk urusan penting. “Begini, Le. Tadi kamu bertemu Ayu. Pulang-pulang kelihatan senang sekali. Biasanya kalau makan enak kamu cerita makanannya. Sekarang malah senyum terus. Ada kabar baik?”
“Ada, Pak,” kata Agus, tertawa malu.
Kacang yang hendak dimakan Bapak berhenti di udara. “Lha, benar?”
Ibu ikut menghentikan pekerjaan melipat. “Kabar apa, Le?”
“Sebentar, Bu, aku yang tanya dulu,” kata Bapak.
“Lha, aku juga ingin tahu!”
Agus tersenyum memandangi keduanya. “Ayu sudah menjawab dengan jujur,” kata Agus. Ia berhenti sebentar; mengatakannya kepada orang tua sendiri ternyata membuatnya lebih salah tingkah daripada ketika membicarakannya dengan Ayu. “Katanya... dia mau.”
“Mau apa?” Bapak sempat berkerut kening. Ia lalu menoleh cepat kepada Ibu, seolah baru mendapat petunjuk. “Lho, maksudmu mau jadi pacarmu, Gus?”
Agus mengangguk. Senyumnya tak lagi bisa disembunyikan.
“Yang benar, Le?” Ibu meletakkan pakaian yang masih dipegangnya.
“Iya, Bu.”
Bapak menepuk lutut dan tertawa senang. “Wah! Ini kabar bagus sekali!”
“Pelan-pelan, Pak,” Ibu mengingatkan sambil tertawa. “Anaknya saja masih malu, kamu sudah seperti memenangkan undian.”
“Lha, aku senang, Bu! Dari tadi penasaran kenapa wajahnya begitu.”
“Pak, Agus belum selesai cerita,” tegur Ibu, meskipun senyumnya tak kalah lebar.
“Lha, aku senang, Bu!”
“Jadi sekarang kalian resmi pacaran?” tanya Ibu lagi.
Agus mengangguk. “Iyaaa... sudah, ah, Pak, Bu. Aku malu.”
“Lho, kok malah malu!” Bapak tertawa lebih keras. “Tadi bikin orang penasaran, sekarang nggak mau cerita!”
Ibu menepuk lengan suaminya. “Sudah, jangan digoda terus. Lihat wajahnya, merah begitu.”
Ia menoleh kepada Agus. “Ibu senang, Le. Dulu kamu pernah cerita masih bingung dengan perasaanmu sendiri. Sekarang sudah ada jawaban. Yang penting kamu sama Ayu sama-sama senang.”
Bapak akhirnya meletakkan kacang di piring. “Bu, kabar begini harus dirayakan.”
“Dirayakan bagaimana?”
“Besok masak yang enak.”
Ibu tertawa. “Halah! Kamu cuma mencari alasan supaya bisa makan enak.”
“Lha, kabar baik kok nggak boleh dirayakan?”
“Boleh, Bu. Besok masak enak. Aku bantu,” kata Agus.
Bapak langsung berseri-seri. “Nah, ini yang kutunggu!”
“Yang dapat pacar Agus, yang paling semangat makan kok kamu, Pak?”
“Aku ikut bahagia, Bu. Masa nggak boleh?”
Ibu menghela napas dengan senyum yang belum hilang. “Ya sudah. Mau masak apa? Ibu belum kepikiran.”
“Gulai kambing!” seru Bapak sebelum ada yang selesai memikirkan menu.
Ibu menatapnya. “Belum apa-apa sudah pesan. Kabar yang merayakan Agus, yang menyusun menu malah Bapak.”
“Kan aku mewakili keluarga. Begitu kabar baik datang, harus ada yang sigap.”
“Sigap memilih makanan, maksudnya.”
Agus tertawa mendengar orang tuanya. Setelah membayangkan kuah gulai yang biasa dimasak di rumah, ia ikut mengangguk.
“Gulai kambing boleh, Bu. Pakai emping.”
“Nah! Cocok, Gus!” Bapak langsung menepuk paha. “Itu baru namanya perayaan.”
“Tadi katanya mewakili keluarga,” Ibu mengingatkan. “Sekarang usul Agus langsung disetujui karena sama-sama makanan kesukaanmu.”
“Lha, selera keluarga memang bagus, Bu.”
Ibu menggeleng sambil tersenyum. Ia mengambil buku catatan untuk memastikan bumbu yang sudah ada dan apa saja yang perlu dibeli esok pagi.
“Aku saja yang beli, Bu,” kata Agus.
“Ya sudah, nanti Ibu tuliskan.”