Seperti Biasanya

Surya Tama
Chapter #14

Sayang dalam Hal-Hal Kecil

Joran yang Ditukar dengan Orang

Motor Agus memasuki jalan yang lebih teduh. Ayu duduk di belakang seperti biasa, sesekali memiringkan kepala untuk melihat sesuatu di tepi jalan.

Di halaman rumah, Bapak sedang menyiram tanaman. Ujung selang di tangannya mengarah ke pot bunga dekat pagar. Begitu melihat motor masuk, ia menutup aliran air dan mengangkat tangan.

“Lho, Ayu ikut datang!” Wajahnya langsung berseri. “Pas sekali. Tadi pagi rumah ramai gara-gara gulai, sekarang tambah ramai lagi.”

Ayu melepas helm setelah turun. “Iya, Pak. Saya mampir sebentar.”

Bapak melirik Agus, lalu matanya jatuh pada jok motor yang kini kosong di belakangnya.

“Gus, tadi pamitnya mengembalikan joran. Kok pulang-pulang membawa Ayu? Jorannya sudah beres, kan?”

“Sudah, Pak. Tadi kutukar jorannya sama orang.”

Bapak tertegun sebentar, kemudian tertawa. “Lho, joran orang kok ditukar sama orang! Yang punya sudah tahu belum?”

“Sudah, Pak,” jawab Ayu sambil merapikan rambut yang tadi tertekan helm. “Yang punya joran kan Bapak saya sendiri.”

“Nah, kalau begitu Bapakmu rugi, Yu. Masa joran satu ditukar sama anak satu?”

“Lho, saya nggak ikut transaksi, Pak!”

“Benar juga.” Bapak mengangguk penuh kesungguhan. “Gus, transaksi ini tidak sah. Pihak Ayu belum tanda tangan.”

Agus memandang Ayu. “Ya sudah, kutanya orangnya langsung. Yu, kamu mau nggak kuajak ke sini?”

Ayu menegakkan badan, memasang wajah seperti orang yang sedang memberikan keterangan resmi.

“Mau, Mas. Malah senang!” Ia menoleh kepada Bapak. “Nah, Pak. Atas kemauan sendiri. Nggak ada paksaan.”

“Baik. Dicatat. Tapi tetap nggak bisa disebut barter joran, Gus.”

Ayu baru hendak masuk ketika sesuatu terlintas di kepalanya. “Kalau jorannya sudah dikembalikan, berarti aku boleh pulang kapan saja, kan, Mas? Apa masih harus ditebus?”

“Harus ditebus. Kamu nggak boleh ke mana-mana. Kusandera.”

“MAS!” Ayu tertawa tidak percaya. “Pak, tolong! Saya diajak main, ternyata diculik!”

Bapak meletakkan selang, mengusap dagu, lalu bersikap seolah sedang memikirkan perkara berat.

“Wah, kalau begitu harus lapor polisi.”

“Nah! Betul, Pak.”

“Tapi sebentar. Sanderanya sudah dikasih makan belum?”

“Lho, Pak!” Ayu menatapnya. “Kok malah itu yang ditanyakan?”

“Kalau belum, ajak makan dulu di dapur.”

Mereka bertiga tertawa. Bapak menggulung selang, sementara Ayu melangkah menuju pintu dan mengucapkan salam. Dari dalam terdengar suara benda dapur diletakkan, disusul jawaban Ibu.

“Lho, Ayu! Ayo masuk, Nduk.”

“Maaf, Bu. Saya mampir lagi.”

“Lha, memangnya kenapa harus minta maaf? Masuk saja. Sudah dianggap seperti anak sendiri, kok.”

Ayu melirik Agus dengan wajah yang seketika lebih malu daripada saat bercanda di halaman. Ibu memperhatikan kedua anak muda itu bergantian.

“Eh, bagaimana kabar kalian? Ibu masih senang sendiri mengingat cerita Agus semalam.”

“Mas sudah cerita?” Ayu menoleh cepat.

“Sudah, Yu,” jawab Agus. “Pulang dari kafe langsung cerita.”

“Lha, iya. Bapak sama Ibu juga ikut senang,” kata Ibu. “Sekarang Ayu jangan sungkan datang. Sudah lama juga akrab sama keluarga ini.”

“Terima kasih, Bu.” Ayu menundukkan kepala sedikit. Senyumnya tak juga hilang.

Agus mendadak menegakkan badan. “Sebentar, Bu. Kalau Ayu sudah dianggap anak sendiri, jatah makanku dibagi dua?”

Ibu meledak tertawa. “Baru juga dipersilakan masuk, yang dipikirkan jatah makan!”

“Ini penting, Bu. Menyangkut kelangsungan hidup.”

“Nggak. Kalau biasanya kamu makan tiga piring, ya tetap tiga. Ibu tinggal masak lebih banyak.”

“Syukurlah,” kata Ayu sambil ikut tertawa. “Saya tadi takut Mas Agus nggak rela berbagi.”

“Kalau Agus nggak rela, suruh saja Bapakmu yang berbagi,” Ibu menggodanya.

Ayu melirik ke arah halaman tempat Bapak tadi masih membereskan selang. Ia sudah beberapa kali berkunjung ke rumah ini, tetapi sore itu ia mulai merasa bahwa candaan kecil yang biasanya hanya dilemparkan kepada Agus kini juga melibatkan dirinya. Tidak ada sambutan resmi, tidak pula pertanyaan yang menuntut jawaban panjang. Ibu bahkan tetap memegang serbet dapur ketika menggoda mereka.

Dari arah belakang terdengar protes. Bapak baru masuk setelah meletakkan selang, tetapi namanya sudah terseret ke urusan makan.

“Lho, aku tadi menyiram tanaman, nggak ikut bicara. Kok tiba-tiba harus berbagi jatah?”

Ibu melirik suaminya. “Yang tadi pagi menghabiskan emping sebelum orang lain selesai makan siapa?”

“Lha, jangan dibuka di depan tamu, Bu!”

Bapak tertawa lagi. Ia lalu menanyakan apakah Ayu sudah makan siang, dan setelah tahu tadi sempat makan puding di rumah, Ibu menawarkan sesuatu yang lebih mengenyangkan.

“Ada gulai sisa tadi pagi, Yu. Masih bagus. Kalau mau, nanti Ibu hangatkan.”

“Mau, Bu. Tapi sedikit saja. Tadi di rumah masih makan puding. Kalau ditambah satu panci gulai, saya nggak bisa duduk.”

“Cukup semangkuk kecil, Nduk,” kata Ibu. “Ibu hangatkan dulu. Kalian duduk saja.”

Ayu dan Agus menunggu di ruang tengah. Dari dapur terdengar panci dibuka; aroma santan dan rempah yang sejak pagi memenuhi rumah kembali tercium.

“Mas,” kata Ayu, memperhatikan kegembiraan Agus yang belum habis, “kalau dipikir-pikir, kita ini setiap ketemu kok ujungnya makan terus, ya?”

“Baru sadar? Perasaan sejak dulu memang wisata kuliner terus.”

Ayu mulai menghitung dengan jari. “Bakso, sate, makan di rumah Mas, jajanan pinggir jalan, pizza kemarin. Sekarang gulai lagi.”

“Kalau begitu seharusnya kamu punya daftar makanan favorit.”

“Aku punya banyak, Mas. Masalahnya kalau disuruh memilih satu, aku bingung.”

Ibu muncul membawa segelas air untuk Ayu.

“Kalau begitu Ibu enak, Yu. Mau masak apa saja, Ayu pasti suka.”

“Wah, nggak semuanya, Bu.” Ayu mengangkat telunjuk, seolah baru menemukan jawaban yang sejak tadi mereka cari. “Ada satu yang saya nggak suka. Pare.”

“Nah!” Ibu tertawa. “Akhirnya ketemu juga makanan yang nggak disukai.” Ia kembali ke dapur untuk memeriksa gulai yang sedang dihangatkan.

Ayu menoleh kepada Agus dengan wajah puas.

“Mas, sekarang Mas sudah tahu satu hal penting tentang aku.” Ia menunjuk Agus. “Jangan pernah mengajakku makan pare.”

Agus tertawa. “Tenang, Yu. Kemungkinannya kecil sekali. Masa aku datang malam Minggu terus bilang, ‘Yu, ayo jalan-jalan, kita makan pare di taman.’”

Ayu langsung menutup mulut. Tawanya telanjur keluar sebelum ia sempat membalas.

“Coba bayangkan, kita nongkrong di taman, duduk di bangku, terus masing-masing makan pare segar yang baru dipetik dari tanamannya?”

Ayu terdiam satu detik. Ia menatap Agus seperti sedang memastikan telinganya tidak salah menangkap kalimat itu.

“Pare mentah, Mas?”

Agus mengangguk, menahan tawa.

“Ya ampun!” Ayu menekuk badan sambil tertawa. “Orang lain malam Minggu duduk di taman makan es krim. Aku sama Mas malah duduk bersebelahan sambil memegang pare satu-satu!”

Ia mengangkat tangan seolah sedang memegang pare, lalu berpura-pura menggigitnya. Belum sempat selesai mengunyah, wajahnya sudah mengerut.

“‘Mas, romantis sekali malam ini,’” katanya dengan suara selembut mungkin, sementara wajahnya masih berpura-pura menahan pahit.

Ayu sendiri tidak kuat mempertahankan suara romantisnya. Ia menurunkan tangan, tertawa sampai bahunya berguncang. Agus pun belum selesai tertawa ketika sebuah judul terlintas di kepalanya.

“Filosofi Pare,” katanya. Ia mencoba memasang wajah sungguh-sungguh. “‘Yu, walaupun pare ini pahit sekali, kalau makannya sama kamu, rasanya enak.’”

Ayu meraih bantal kecil di sampingnya dan menepuknya. “MAS!”

Ia butuh beberapa saat sebelum bisa bicara lagi. “Filosofi Pare! Ya ampun. Sebentar, sebentar. Sebagai orang yang kerja mengurus buku, aku harus mencatat ini.”

Ayu meluruskan punggung dan menirukan pembaca kutipan motivasi. “‘Walaupun hidup ini pahit seperti pare, kalau dijalani bersama orang yang disayangi, semuanya akan terasa manis.’”

Ia berhenti sendiri, lalu tergelak. “Lho, kok malah seperti judul buku motivasi? Nanti sampulnya ada foto pare dibelah dua!”

Agus tertawa sampai tak sanggup mempertahankan wajah seriusnya. Ayu membiarkannya sebentar, masih memeluk bantal.

“Tapi, Mas,” katanya setelah tawa mereka agak reda, “kalau Mas benar-benar bilang begitu waktu kita duduk di taman, mungkin aku bakal senyum.”

“Wah, berhasil berarti?”

“Jangan senang dulu.” Ayu mengangkat telunjuk. “Parenya tetap nggak kumakan. Yang kusukai Mas, bukan parenya.”

Agus baru hendak menjawab, tetapi tawanya muncul lagi. “Kayaknya kalau aku harus ngomong kalimat romantis begitu sungguhan, Yu, belum selesai sudah ketawa sendiri.”

“Sudah kelihatan!” Ayu ikut tertawa. “Aku yang diajak bicara malah harus menunggu Mas selesai tertawa dulu.”

Ia menghela napas, masih tersenyum. “Tapi aku lebih suka begini. Nggak perlu sibuk mencari kalimat supaya terdengar romantis.”

Dari dapur terdengar tutup panci diangkat. Aroma santan dan rempah yang sejak tadi samar tercium mendadak memenuhi ruang tengah. Ayu menoleh ke arah dapur.

“Mas...”

“Kenapa, Yu?”

“Sepertinya Filosofi Pare kalah sama aroma gulai Ibunya Mas.”

Agus tertawa. “Nah, sekarang gantian Filosofi Gulai. Sana dicicipi dulu. Tapi jangan langsung sepanci, ya.”

“Lho, belum juga makan sudah dicurigai mau menghabiskan satu panci!” Ayu berdiri sambil tertawa. “Aku cuma mau mencicipi. Tapi kalau enak, jangan salahkan aku kalau nambah.”

Di dapur, Ibu sedang mengecilkan api kompor. Ia menoleh ketika Ayu muncul di ambang pintu.

“Bu, boleh saya cicipi gulainya?”

Ibu menyendokkan sedikit gulai dan sepotong daging ke mangkuk kecil. Ayu meniup sendoknya sebelum mencicipi. Sesaat ia diam, lalu mengangguk dengan mata berbinar.

“Enak, Bu! Bumbunya terasa, dagingnya juga empuk.”

Ayu mengambil sendok kedua. Ketika kembali ke dekat pintu dapur, mangkuk itu dibawanya dengan kedua tangan. Ia menyeringai kepada Agus yang masih duduk di ruang tengah.

“Mas, sekarang aku tahu Filosofi Gulai.”

“Wah, sudah ketemu? Coba, apa?”

“Kalau ada makanan enak, makannya harus pelan-pelan supaya nggak cepat habis.” Ayu mengangkat sendoknya sedikit, seolah sedang menjelaskan penemuan penting. “Sayangnya, teori ini susah sekali dipraktikkan.”

Agus melirik isi mangkuknya. “Kelihatannya memang susah. Gulainya tinggal sedikit begitu.”

“Mas!” Ayu langsung tertawa. “Aku kan cuma mencicipi!”

“Lho, mencicipi kok sendoknya jalan terus?”

“Ya karena enak!” Ia tertawa lagi, lalu menggeleng.

Ayu menghabiskan suapan terakhir dari mangkuknya.

“Sudah, sudah.” Ibu mengambil mangkuk kosong Ayu. “Kalau kalian berdua berkumpul, dapur malah tambah ramai.”

Ayu menyeringai kepada Agus. “Mas, kalau aku jadi ikut ngawur begini, salah siapa? Sebelum dekat sama Mas, aku nggak pernah membicarakan filosofi gulai, lho.”

“Nah, ketemu penyebabnya,” kata Ibu sambil membawa mangkuk ke wastafel.

Agus pura-pura membela diri. “Eh, gila itu nggak menular, lho. Kalau aku gila, ya gila sendiri.”

Ia berhenti. Kalimatnya sendiri baru terdengar jelas setelah selesai diucapkan.

Ayu memandang Agus. Lalu ia menoleh kepada Ibu, yang juga berhenti sebentar di depan wastafel.

“...Bu.”

“Iya, Nduk. Ibu dengar.”

“Mas Agus barusan mengaku sendiri, kan?”

“Iya. Nggak ada yang memaksa.”

Ayu meledak tertawa. “MAS! Aku belum menuduh apa-apa!”

Agus menutup wajah sesaat, lalu tertawa pasrah. “Ya sudah. Sepertinya memang aku yang gila.”

“Dua kali, Bu!” Ayu tertawa lagi. “Sudah dua kali mengaku!”

“Sudah, jangan digoda terus,” kata Ibu, meskipun ia sendiri masih tersenyum. “Nanti Agus benar-benar ngambek. Kalian duduk di depan saja, Ibu mau membereskan dapur.”

“Terima kasih gulainya, Bu. Enak sekali,” kata Ayu.

Ayu kembali ke ruang tengah. Sebelum duduk, ia menoleh kepada Agus, yang masih tersenyum di sofa. Rupanya ia belum kehabisan bahan untuk menggoda.

“Mas, kalau begitu aku ini pacarnya orang yang tadi mengaku gila, ya? Wah, jangan-jangan aku juga harus diperiksa.”

“Lha, iya juga.” Agus menatapnya dengan sengaja memasang wajah khawatir. “Tapi kamu masih mau, Yu?”

“Mau, Mas.” Ayu menjawab tanpa ragu, lalu tersenyum jahil. “Dari dulu aku sudah tahu Mas suka bercanda ngawur. Masa setelah resmi pacaran kemarin, aku baru protes sekarang?”

Ia melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Aku suka Mas ya karena Mas seperti ini. Nggak harus terus-terusan bicara serius.”

Agus tersenyum. Ayu mengangkat telunjuknya lagi.

“Tapi ada satu syarat. Kalau nanti Mas benar-benar jadi orang linglung, jangan sampai lupa punya pacar. Aku malas harus kenalan dari awal lagi. Kemarin saja susah payah aku berani ngomong.”

“Lho, kalau lupa punya pacar itu namanya pikun, Yu. Bukan gila!”

Ayu tertegun, lalu menepuk dahinya sendiri. “Lha, iya! Malah aku yang salah diagnosis.”

“Kalau begitu,” kata Ayu, “nanti kalau kita sudah tua dan salah satu mulai pikun, yang satunya harus mengingatkan.” Ia berpikir sebentar, lalu tertawa. “Tapi kalau dua-duanya pikun, bagaimana?”

Agus yang tadi masih ikut tertawa mendadak menoleh.

“Sebentar, Yu. Tadi kamu bilang kalau kita sudah tua nanti?”

“Iya. Kenapa, Mas?”

“Bu,” Agus menoleh ke arah dapur, memasang wajah setenang mungkin, “aku keluar sebentar, ya. Mau beli cincin.”

Ibu berhenti mengelap meja. Ayu yang tadinya hendak mengangkat gelas pun membeku.

“Cincin?” ulang Ibu.

“Mas!” Ayu memandang Agus dengan mata membesar, kemudian tertawa malu. “Tadi kan cuma ngomong kalau sudah tua!”

“Tenang, Yu. Sekarang bercanda. Nanti belum tentu.”

Kalimat terakhir itu membuat Ayu terdiam sesaat. Lalu ia tersenyum, lebih malu daripada ketika Agus menyebut soal jatah makan.

“Mas ini kalau bercanda suka membuka urusan yang jauh sekali.”

Ibu hanya tersenyum melihat mereka. Ia tidak mendesak apa pun, dan tak seorang pun menganggap candaan itu sebagai janji yang harus dipenuhi hari itu.

“Ya sudah,” kata Agus akhirnya, “urusan cincin kita simpan dulu. Sekarang berangkat?”

Ayu melirik jam. “Sekarang? Bukannya tadi rencana sekitar jam empat?”

“Kalau berangkat lebih awal, bisa duduk santai. Andi juga biasanya sudah ada.”

“Boleh. Aku sudah siap.” Ayu mengambil tasnya. “Tapi nanti jangan mendadak membeli cincin di jalan, ya, Mas.”

“Lha, tadi kamu sendiri yang menyinggung!”

Ayu tertawa dan berpamitan kepada Ibu. Agus menemui Bapak yang sedang membereskan peralatan kebun.

“Pak, aku keluar sebentar. Mau ngopi sama Ayu.”

“Ya sudah. Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam, Ayu harus diantar juga,” pesan Bapak. Ia berhenti, lalu memasang wajah yang jelas sedang mengingat sesuatu. “Eh, Gus. Di tempatnya Andi ada jual roti bakar, bisa titip?”

“Bisa, Pak. Mau yang apa?”

“Cokelat keju.”

“Kalau yang di kafe Andi porsinya kecil, beli yang di perempatan saja, Pak,” kata Agus.

“Setuju! Yang itu isinya banyak. Bisa buat kita semua.”

Ayu tertawa melihat mereka. Agus memastikan pesanan cokelat keju dan berpamitan. Sebelum keluar, Ibu sempat berpesan supaya Ayu tak memaksakan diri jika lelah setelah sejak siang berkunjung.

“Nggak, Bu. Saya senang di sini. Nanti mampir lagi.”

“Pasti, Nduk. Hati-hati.”

Agus menyalakan motor. Jalan menuju kafe Andi sudah mereka kenal, dan Sabtu sore masih panjang.


Kopi Tidak Pernah Salah

Kafe Andi belum terlalu ramai ketika Agus dan Ayu tiba. Beberapa orang duduk di dalam, sementara meja-meja di bawah pohon masih kosong. Dari balik bar terdengar mesin penggiling kopi. Andi mengangkat kepala, lalu menyeringai begitu melihat siapa yang baru masuk.

“Lho, Gus. Datang lagi? Mau protes apa sekarang?”

“Bukan biji kopimu yang kuprotes, Di. Mulutmu.”

“Sudah, kalau begitu kusambut yang sopan saja.” Andi menghadap Ayu dan mengangguk ramah. “Sore, Mbak Ayu. Silakan.”

“Sore, Mas Andi.” Ayu menahan senyum. “Jangan terlalu sopan sama Mas Agus, Mas. Nanti dia malah curiga.”

“Lho, sekarang sudah punya pembela!” Andi menggeleng sambil tertawa, lalu mengambil sebuah bungkus biji dari rak. “Kebetulan ada yang baru, Gus. Sumatra Kerinci honey. Baru datang pagi tadi, belum kumasukkan menu.”

“Sudah dicoba?”

“Sudah. Tapi belum ketemu seduhan yang paling kusuka. Mau jadi kelinci percobaan?”

Agus dan Andi lalu membandingkan dua seduhan Kerinci dengan suhu air yang berbeda, sementara Ayu ikut menjadi pencicip.

Aroma kopi segar terangkat dari bubuk yang basah. Ayu menghirupnya, lalu mendekat sedikit kepada Agus.

“Mas, kalau nanti aku nggak bisa membedakan keduanya, berarti lidahku kurang peka?”

“Bukan, Yu. Berarti kopinya yang salah.”

Ayu menatapnya, kemudian meledak tertawa. “Lho! Kopinya diam saja di situ. Salah apa?”

“Kalau kopinya yang salah, nanti Andi yang minta maaf.”

“Enak sekali!” Andi menyahut tanpa meninggalkan timbangan. “Kopinya yang salah, aku yang harus minta maaf?”

“Begitulah pelayanan kafe, Di.”

“Ini belum dicicipi sudah ada sidang!” Andi menggeleng. “Tapi serius, Gus, aku tahu maksudmu. Nggak ada satu seduhan yang wajib disukai semua orang. Yang ada cocok atau nggak dengan selera kita.”

“Nah. Kalau nggak cocok, baru dicari sebabnya,” jawab Agus.

Ayu menyipitkan mata. “Jadi tadi kopinya dituduh hanya supaya Mas Andi kena giliran minta maaf?”

“Kurang lebih.”

Setelah kedua seduhan itu dibandingkan, Andi menyeduh Kerinci sekali lagi dengan resep yang biasa dipakai Agus.

Ia memutar server perlahan untuk mencampur seduhan, lalu menyiapkan tiga cangkir kecil. Ketika tak ada lagi yang perlu dikerjakan pada kopi itu selain menunggu, Andi menyandarkan tangan di tepi bar.

“Eh, Gus. Boleh tanya yang nggak ada hubungannya dengan kopi?”

“Tanya apa?”

“Kalian berdua akhir-akhir ini sering datang bareng. Aku biasanya nggak ikut campur, tapi jadi penasaran. Sekarang bagaimana?”

Agus melirik Ayu yang berdiri di sebelahnya, lalu kembali memandang sahabatnya.

“Di, kenalkan. Ini pacarku.”

Andi terdiam. Ia sudah mengenal Ayu, tentu saja. Tetapi kata terakhir dalam perkenalan itu membuatnya menaruh cangkir yang baru diambil.

“...Pacarmu?”

“Iya, Mas Andi,” jawab Ayu. Senyumnya mendadak malu. “Baru sejak kemarin.”

“LHA, GUS!” Andi tertawa keras. “Kemarin-kemarin kalian ke sini, aku kira masih saling mendekati. Sekarang tahu-tahu sudah resmi! Selamat, lur. Sungguh, aku ikut senang.”

“Terima kasih, Di.”

Andi menoleh kepada Ayu. “Selamat juga, Mbak. Tapi saya perlu memperingatkan satu hal. Orang ini kalau diajak ngomong kayak orang kurang waras.”

“Nah, kan. Mulutmu lagi!” seru Agus.

“Lho, aku lagi mengucapkan selamat!”

Ayu tertawa. “Saya sudah melihat buktinya sejak tadi, Mas Andi.”

“Wah, kalian sekarang bersekutu.” Andi menggeleng, senyumnya masih lebar. Ia menatap tiga cangkir yang menunggu di bar. “Kalau begitu kopi yang ini anggap saja traktiran dariku. Hadiah kecil buat kalian.”

“Jangan begitu, Di. Aku tetap bayar.”

“Aku cuma mau mentraktir sekali.”

“Aku tahu. Tapi kalau kamu selalu memberiku gratisan, nanti aku nggak enak mampir ke sini. Aku datang juga karena mau mendukung usaha temanku.”

Lihat selengkapnya