Nama-ku Rangga, Rangga Aldi Putra, kelahiran Jakarta, 08 Agustus tahun 1991. Sejak kecil Aku sangat mencintai dunia medis dan Aku bermimpi, Aku akan menjadi seorang dokter yang tentunya akan berguna disuatu hari nanti. Dan impian-ku juga adalah, suatu saat Aku ingin menjadi seorang dokter spesialis bedah. Aku ingin menjadi seorang dokter spesialis bedah, yang tentunya akan menyelamatkan entah berapa puluh, ratus, atau berapapun itu seiring berjalan-nya waktu.
Yabenar, itu adalah impian yang selalu berusaha untuk Aku wujudkan sejak Aku kecil, lebih tepatnya, sejak Aku duduk di bangku sekolah dasar. Dan siapa sangka, sekarang Aku dapat meraih dan mewujudkan cita – cita itu. Bahkan, Aku tidak hanya sekadar menjadi seorang dokter spesialis bedah saja. Aku bahkan menjadi dokter spesialis bedah dan terkenal dengan tingkat akurat atau tingkat keselamatan 100% berhasil dan melakukan bedah.
Atau bisa dikatakan, sepanjang karir-ku menjadi dokter spesialis bedah, Aku tidak pernah sekalipun gagal dalam melakukan pekerjaan itu. Entah bagaimana pula Aku harus mengatakan perihal itu. Aku yang tidak pernah gagal, ataukah memang Tuhan yang membuat-ku tidak pernah gagal dalam melakukan pekerjaan-ku. Karena setiap Aku sedang melakukan tidakkan operasi, seolah Aku selalu di hadapkan oleh malaikat maut yang berusaha untuk melewati-ku.
Malaikat maut yang sedang menunggu di depan pintu ruangan untuk mencabut nyawa dari seorang pasien-ku, pun juga seolah ada suara dari Tuhan yang mengatakan, “Ia datang memang karena takdir-ku, begitupun juga kepergiaan-nya.” Lanjut bisikan Tuhan pada-ku, “Akan tetapi, jikalau orang – orang yang mencitai-nya berdoa dan meminta pada-Ku, mungkin Aku bisa memberi-nya sedikit waktu lebih untuk menjalani hidup, dan mengusir malaikat itu untuk sementara.”
Oleh karena itu, walaupun Aku adalah seorang dokter ahli bedah, dan terkenal tidak pernah gagal dalam melakukan tidakan operasi, pun hal tersebut tidak membuat-ku sombong. Karena, selain Aku yang tidak pernah gagal melakukan tidakkan operasi, pun juga Aku tidak pernah lupa untuk mengingatkan para anggota keluarga, yang dimana salah seorang yang sangat mereka cintai sedang ku-operasi. “Berdo’a lah pada Allah, karena jikalau ini gagal, maka ini adalah kesalahan-ku, dan jika ini berhasil, maka ini atas kehendak Allah, dan bukan karena diri-ku seorang dokter yang hebat.” Ujar-ku selalu kepada para pihak keluarga, dengan wajah ketakutan.
Tidak ada hal yang lebih menegangkan selain Aku yang sedang menjalankan tindak operasi. Entah sudah berapa ratus kali Aku selalu berhasil melakukan tindak operasi, namun tetap saja hal itu selalu Aku rasakan. Ketegangan yang justru semakin membuat tangan-ku bergetar kuat disetiap pasien yang sedang ku-tangani. Karena, seperti yang Aku katakan, Aku yang tidak pernah gagal dalam melakukan pekerjaan-ku, pun bukan karena diri-ku hebat. Tapi, semua itu karena memang kehendak Allah yang masih memberi waktu hidup pada pasien tersebut. Dan jika Aku gagal, maka memang itu adalah kesalahan-ku sepenuhnya.
Bisa dikatakan, pada saat ini Aku merasa sebagai manusia yang paling bahagi di dunia, sekaligus menjadi manusia yang paling sengsara pula dalam ukuran sejagad raya. Hal yang membuat-ku merasa sebagai manusia paling bahagia karena Aku mendapatkan seorang wanita yang sangat amat sempurna. Wanita yang sangat amat sempurna dan datang dengan sendiri-nya pula ke hidup-ku. Dan hal yang membuat-ku menjadi manusia paling sengsara, juga karena Aku mendapatkan wanita yang sangat amat sempurna tersebut.
Hidup-ku memang membingungkan, entah bisa atau tidak Aku membuat kalian yang membaca buku ini dapat mengertinya atau tidak. Tapi yang pasti, akan banyak hal yang bisa kalian pelajari dari setiap lembaran-nya. Lembaran buku ini yang menjadi saksi pula dalam perjalan hidup-ku.