Dan jika Bang Rizky adalah Abang-ku yang memiliki wajah tampan, maka Kakak-ku Rina lah yang memiliki wajah paling cantik dirumah, dan harus ku Akui itu. Bahkan, jikalau Kak Rina bukanlah Kakak-ku, atau mungkin orang lain, mungkin Aku akan berusaha untuk mendapatkan-nya. Dan memang pada kenyataan-nya, banyak para laki – laki yang berusaha untuk memikat hati-nya.
Selain paras wajah-nya yang cantik, para laki – laki sangat menyukai Kakak-ku, pun karena Kakak-ku juga sangat pintar. Dimata-ku, Kak Rina sangat nyaris untuk mendekati kata perempuan yang sempurna. Mungkin hanya satu saja yang menjadi kekurangan-nya di mata-ku, yang tentunya menurut selera wanita yang Aku inginkan. Kekurangan Kak Rina menurut-ku hanyalah kurang tinggi saja tubuh-nya. Jikalau Kak Rina memiliki tubuh yang lumayan tinggi, pun pasti Aku yakin Ia akan menjadi seorang model.
Tapi, dibalik laki – laki yang mendekati Kakak-ku, pun mereka memiliki rasa ketakutan untuk melakukan hal tersebut. Rasa ketakutan untuk mendekati Kakak-ku Rina, bukanlah karena Kak Rina galak, atau sama seperti Kak Lisa. Justru Kak Rina dan Kak Lisa itu sangatlah jauh berbeda secara tingkah laku. Jika Kak Lisa menunjukkan rasa perhatian akan kasih sayang-nya pada-ku dengan memarahi-ku, Kak Rina justru lebih pada sifat lemah lembut-nya. Dan tidak jarang Kak Rina membuat-ku menangis saat berbicara empat mata dengan-ku pada sifa ke-Ibuan-nya.
Para lelaki yang takut untu mendekati Kak Rina karena ada bodyguard dalam rumah-ku. Yang memang tidak secara khusus untuk menjaga Kak Rina saja, melainkan untuk menjaga Aku, Bang Rizky, Kak Rina, dan tentunya Kak Lisa. Dan bodyguard itu adalahlah abang-ku sendiri yang bernama Rozy Putra. Abang-ku Rozy jika diumpamakan memiliki sifat seperti singa. Lebih banyak diam, namun sangat mematikan jikalau sudah terpancing emosi-nya.
Abang-ku Rozy pun juga sangatlah terkenal di sekolah-nya sebagai preman atau bisa dikatakan jagoan di kelasnya, ataupun disekolah. Bang Rozy yang di gadang – gadangkan sebagai preman sekolah, pun tidak seperti preman – preman lain yang ada dalam benak setiap orang. Bang Rozy tidak suka membully orang atau mengejek orang lain, sekalipun orang itu berperilaku aneh. Justru Abang Rozy akan mengajak orang yang tidak memiliki teman di sekolah, untuk menjadi teman main-nya.
Dan ada satu sifat dar Abang-ku Rozy, yang tentunya sangat Aku kagumi sekaligus Aku tiru. Bang Rozy sangat tidak akan berlaku kasar pada seorang wanita, sekalipun wanita itu sangat membuat-nya jengkel. Bang Rozy pernah mengatakan pada-ku, “Engga akan Gua cubit seorang cewe, sekalipun cewek itu mukul Gua sekeras mungkin.” Dan jujur, Aku sangat kagum dengan prinsip-nya yang demikian. Tapi sangatlah berbeda jikalau kepada lelaki lain. Bang Rozy bahkan tidak segan – segan untuk menghajar habis lelaki lain yang mungkin berani mengusik-nya, barang hanya mencolek saja. Tidak berlebih juga rasanya jikalau Aku mengatakan, Bahwa Bang Rozy tidaklah memiliki rasa takut dalam diri-nya, terkecuali pada Allah, dan kedua Orang tua kami.
Bang Rozy sangatlah menuruti seluruh perintah Ayah ataupun Mamah, apapun itu. Asalkan, mereka juga menuruti permintaan-nya. Jadi bisa dikatakan, prinsip Abang-ku Rozy terhadap orang lain ialah, “Satu balas satu.” Dan menurut-ku, itu cukuplah adil untuk antar sesama manusia, termasuk kepada orang tua pula. Dan untungnya saja, Ayah dan Mamah-ku yang juga memang sebagai orang tua, jadi tahu sifat anak-nya sendiri, jadi Ayah atau Mamah-ku yang padahal adalah Mamah tiri-nya, pun tidak pernah melarang pada suatu hal yang sekiranya terlalu bersifat mengekang diri-nya.
* * *
Pernah saat waktu Aku duduk di bangku sekolah dasar, ada seorang anak laki – laki yang jarak umur-nya pun cukup jauh di atas-ku, dan bahkan hampir mendekati umur Bang Rozy. Aku dan Bang Rozy berjarak 6 tahun jauhnya. Saat Aku duduk di bangku Sekolah Dasar, yaitu lebih tepatnya saat Aku tingkat kelas 6 SD, Pun Aku di hajar oleh seorang anak laki – laki yang tingkat sekolah-nya pun kelas 1 SMA. Jujur, sebenarnya Aku tidak ada ada berkeinginan untuk mengadukan hal tersebut pada Abang-ku Rozy. Tapi rasanya, Aku tidak bisa menyembunyikan wajah-ku yang lebam dari penglihatan Bang Rizky, dan Bang Rozy, sedangkan Kami tidur dalam satu kamar yang sama.
“Pipi lo biru kenapa Dek?” Tanya- Bang Rizky yang sedang bermain PlayStation bersama Bang Rozy di dalam kamar Kami. “Gapapa bang.. cuman kepentok tiang aja.. pas jalan Gua sedikit meleng, hehehe.” Jawab-ku yang berbohong atas pertanyaan Abang-ku Rizky. Abang-ku Rizky yang bertanya, pun tahu kalau Ia mendapati jawaban yang bohong dari-ku. Abang-ku Rizky pun langsung memberhentikan permainan Game-nya bersama abang-ku Rozy, yang juga membuat Bang Rozy menanggapi-nya.
“Bentar Zy.. “Ujar Bang Rizky pada Bang Rozy dengan juga mengehentikan sejenak permainan mereka. “Astagaa.. Curang lo.. Gua mau cetak Gol tuh!!” Ujar Bang Rozy yang sedang asik bermain game. Lanjut Bang Rozy yang kemudian bertanya, “Ngapain di pause sih?!?” Tanya Bang Rozy pada Bang Rizky yang seketika memberentikan Game. “Rangga.. sini lo..” Ujar Abang-ku Rizy yang menyuruh-ku untuk mendekati-nya.
Aku yang langsung mendekati Bang Rizky, pun langusng membuat-nya memegang wajah-ku dan melihat lebih dekat pada luka lebam yang berada di pipi-ku. “Kepentok tiang? Atau kepentok tangan orang?” Tanya-nya pada-ku sedang nada yang pelan dan wajah yang penuh rasa penarasan pada luka lebam di pipi-ku. Abang-ku Rozy yang juga melihat saat Bang Rizky memegang wajah-ku, pun langsung bertanya dengan wajah gahar. “Siapa yang mukulin lo? Seumuran?” Tanya Bang Rozy pada-ku.
Bang Rozy yang bertanya pada-ku demikian, pun juga memiliki alasan. Bang Rozy tidak mempermasalahkan jikalau Aku kalah adu jotos pada orang lain, jikalau itu satu lawan satu, ataupun memiliki usia yang sama. Justru, kalau memang orang yang menghajar-ku memiliki umur yang sama, Aku lah yang akan dimarahi-nya karena mengapa bisa kalah. Tapi, karena saat itu, orang yang menghajar-ku pun memiliki umur yang cukup jauh dengan-ku, Aku pun berusaha untuk menutupi-nya. Aku yang berusaha menutupi-nya, pun karena Aku tidak tahu seperti apa wajah orang tersebut jikalau kedua Abang-ku yang preman ini mengetahui-nya. Mengetahui, kalau ternyata adik-nya yang masih kelas 6 SD di hajar habis oleh anak yang sudah tingka 1 SMA.