Esok hari pun tiba, disambut oleh sebuah perlombaan antara terik mentari, ataupun suara kokokan Ayam, dan entah siapa Aku tidak tahu siapa yang menjuarai-nya. Yang jelas, Aku terbangun di pagi hari karena suara gemuruh dari para hadirin yang menyaksikan perlombaan tersebut. Yaitu para pekerja yang takut tak mendapat pekerjaan dan memikirkan esok hari ingin memasukkan apa ke dalam lambungnya. Para juru masak yang ada di setiap juga mulai berbondong – bondong menuju suatu tempat untuk membeli bahan makanan. Hari – hari yang tidak pernah berubah di awalnya, namun selalu berbeda pada akhirnya, dan akan selalu begitu.
Begitu pula dengan-ku yang harus memaksakan mata kantuk-ku untuk mengguyurnya dengan air, dan mengagetkan beberapa anggota tubuh yang mungkin masih tertidur. Anggota tubuh yang sangat merespon adalah fikiran-ku dan berkata saat mandi.
“Biuurr..” Suara air yang ku tumpahkan. “Kali ini lo pasti mau Bik, hahahaha.” Dengan perasaan yang sangat yakin.
Aku sebelumnya berfikir bahwa masih ada dua kemungkinan Biky akan menolak atau menerima, pun kali itu berbeda. Kali itu setelah berfikir lebih detil, sepertinya Biky tidak bisa menolaknya. Yabenar, Aku sangat yakin Biky tidak akan bisa menolak masuk ke dalam anggota pramuka, jikalau ternyata di dalamnya terdapat perempuan yang telah membuat-nya pernasaran.
Aku pun langsung bergegas menuju ke sekolah dan benar – benar tidak sabar untuk mengatakan suatu kalimat rayuan itu pada Biky. Mungkin kalian menganggap Aku sangatlah berlebih mengungkapkan hal ini, tapi biarlah, tak apa. Aku memang berlebihan, tapi itu karena memang hanya Biky teman terdekat-ku di SMA. Jadi, mungkin wajah saja jikalau Aku sangat menginginkan Ia untuk terus bersama-ku.
* * *
Sesampainya disekolah dan masuk ke dalam kelas-ku, Biky pun sudah datang seperti biasa. Seperti biasa juga Biky yang mengisi waktu luang untuk menggambar di buku tulisnya. Dan hal tersebutlah yang sangat membuat-ku sedikit bingung akan para manusia di dunia ini. Aku sering bertanya – tanya pada diri-ku sendiri, “Mengapa orang yang bertempat tinggalkan lebih jauh, namun lebih cepat sampai pula menuju tempat tujuan, dari orang lain yang bertempat tinggalkan lebih dekat, dan mempunyai tujuan tempat yang sama.” Namun sudahlah, itu tidak terlalu penting, Aku ingin memikirkan diri-ku sendiri saja, agar Aku bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Yaitu, yang hanya memikirkan diri sendiri.
“Biky.”
“Oitt kenapa Rang?” Ujar Biky yang sedang menggambar pagi itu di kelas saat hanya beberapa murid saja yang baru datang.
Aku yang belum berbicara untuk mengatakan suatu hal pada-nya, pun langsung terpotong oleh tanya-nya. “Kemaren gimana Rang soal pramuka itu?” Tanya Biky berangsur namun dengan tatapan mata yang masih tetap pada gambaran-nya.
“Gimana? Ya ga gimana – gimana.” Terus-ku, “Ohiyaa Bik gua mau tanya dong.” Hadap tubuh-ku pada-nya.
“Tanya tinggal tanya. Hahahaha.” Sedikitnya yang tertawa kecil.
“Lo beneran gamau ikut atau gabung jadi anggota pramuka gitu? Hehehehe.” Sedikit menyeringai pada-nya.
“Engga Rang, kenapa emangnya?” Jawab Biky.
“Yagapapa sih..” Terus-ku, “Padahal cewe yang kemarin itu, ternyata Dia anak pramuka.” Ujar-ku yang memalingkan hadapan tubuh-ku, namun dengan mata yang melirik untuk melihat ekspresi Biky.
Biky yang mendengar hal tersebut, pun seketika langsung menghentikan gambaran-nya, dan menghadapkan tubuh-nya ke arah-ku yang terduduk di sebelah-nya. “Apa lo bilang? Cewe yang kemarin itu, anak pramuka?” Dengan wajah seperti orang yang tidak percaya.
“Hee eem..” Jawab-ku yang hanya bergumam dan tersenyum pada Biky.
Sambung-ku, “Tapi kan, lo bilang gamau, jadi iyaudah gapapa.” Ujar-ku pada Biky.