Esok hari menjelang dengan keadaan yang sangat berbeda saat Aku menuju tempat perkemahan. Bahkan, Aku berhak mengatakan bahwa itu tidaklah bisa lagi dikatakan sebagai suasana yang buruk. Akan tetapi, itu adalah sebuah suasana yang sangat ter-amat buruk untuk siapapun yang merasakannya. Fikiran-ku perihal kegiatan perkemahan tersebut sangatlah jauh dan berbanding terbalik dari apa yang Aku bayangkan.
Aku berfikir bahwa itu akan menjadi sangat menyenangkan, terlebih lagi jikalau Biky ikut bersama-ku dalam kegiatan tersebut. Ternyata, harapan bahagia-ku, telah membuat penyesalan terdalam untuk diri-ku sendiri. Mungkin saja Biky masih ada di dunia dalam waktu yang cukup lama walaupun memang umurnya pun tidak lama lagi. Namun setidaknya, Aku masih bisa menghabiskan waktu luang yang lebih banyak dengan-nya sebelum, Ia pergi dan meninggalkan-ku untuk selama – lamanya.
Suara bising dalam bis menuju pada tujuan semestinya yaitu pulang, pun membuat telinga-ku mengacuhkan-nya. Bahkan, Kak Erin yang juga mengajak-ku berbicara pun Aku acuhkan begitu saja. Aku yang masih mengingat kenangan singkat bersama Biky, pun membuat-ku merasa Aku sudah berteman dengan-nya sejak kecil. Terlebih lagi, Biky pernah membela-ku saat baru beberapa hari masuk ke dalam SMA, yaitu disaat beberapa kakak kelas yang merasa dirinya paling hebat, pun Biky lawan tak kenal takut dalam diri-nya.
Umur kami memanglah sama, namun pada saat itu Biky seolah menjadi seperti ke-dua abang-ku Rozy dan Rizky yang selalu melindungi. Tapi sekarang, perlindungan itu sudahlah hilang, dan harus membuat-ku lebih mandiri di sekolah. Aku harus berfikir lebih dewasa, berani yaitu dengan menguatkan mental-ku. Tidak bisa pula secara terus – menerus Aku berlindung dibalik punggung orang kuat selamanya, ya walaupun, itu adalah para abang-ku sendiri.
Aku pun tidak tahu apa yang kepala-ku fikirkan pada saat itu di dalam Bus menuju arah pulang. Tapi yang jelas, Aku sedikit ceroboh dengan berfikir membodoh – bodohi Biky. “Dasar bego, udah tau umur lo udah engga lama lagi, tapi malah semakin dipercepet.” Ujar-ku sembari memukul kursi Bus.
“Buug..” Pukul-ku pada kursi bus yang sedang Aku duduki.
Kak Erin yang terduduk dengan jarak 2 kursi di bagian kanan-ku, pun langsung bertanya perihal Aku yang tiba – tiba memukul kursi dengan cukup keras. Terlebih lagi, saat itu padahal Aku sedang terdiam dan tak berbicara pada siapapun, termasuk teman sebangku-ku.
“Rangga? Kamu gapapa?” Tanya Kak Erin yang menoleh pada-ku.
“Ohh iyaa gapapa Kak..” Jawab-ku dengan gugup.
Saat itu Kak Erin mungkin tahu mengapa atau karena alasan apa Aku yang seketika memukul kursi. Ia pun langsung meminta dengan baik pada teman sebangku-ku, untuk bertukar tempat duduk. “Axel, tukar tempat duduk dong.. Mau yaa, hehehe.” Pinta Kak Erin pada Axel dengan berbisik dan sedikit menyeringai.
Axel pun menuruti permintaan Kak Erin dan langsung menangkat tas yang terletak di bawah kaki-nya. “Yaudah iya..” Jawab Axel yang langsung beranjak.
Kak Erin yang sudah terduduk di sebelah-ku, pun tanpa basa – basi dan secara to the point langsung menerka keadaan-ku saat itu. “Masih mikirin Biky yaa?” Ujar Kak Erin yang baru saja terduduk, sembari menyenggol bahu-ku dengan bahu-nya.
“Iyaa Kak, masih ganyangka aja. Hehehe.” Ujar-ku yang memaksakan senyum-ku agar terlihat baik – baik saja.
Aku yang menjawab ucapan Kak Erin, pun langsung di tanggapi oleh-nya, namun bukan karena jawaban-ku, melainkan ekspresi yang ku-tunjukkan. “Senyum itu memang ibadah, tapi kalau tersenyum yang dipaksakan saat sedang tidak baik – baik saja, nanti akan menjadi bahan gibah.” Ujar Kak Erin.
“Maksudnya kak?” Tanya-ku dengan wajah bingung atas perkataan Kak Erin.
“Untuk apa kamu paksain buat tersenyum dan membuat orang yang melihatnya berfikir kamu sedang bahagia. Padahal, saat ini kamu mungkin berfikir bahwa kamu menjadi orang yang paling sedih di dunia.” Ujar kembali Kak Erin.
Dengan Kak Erin yang mengatakan dengan jelas seperti itu, pun membuat-ku menjadi mengerti apa maksudnya, dan membuat terkaan-ku atas Ia yang bertanya pada-ku sejak awal pun terjawab. Saat itu memang Aku merasa menjadi orang yang paling sedih di dunia atas kehilangan seorang sahabat untuk selama – lamanya. Tapi justru, Aku membohongi diri-ku sendiri yang justru membuat batin-ku semakin tersiksa. Kehadiran Kak Erin pada saat itu membuat diri-ku harus mengakui, kalau setiap ada hujan turun, makan akan ada pula tempat untuk berteduh. Setiap bahu yang lelah pasti akan ada tempat untuk bersandar, memiringkan kepada sejenak, dan menumpahkan seluruh air mata yang sudah tak dapat lagi di bendung.
“Kak Erin.” Ucap-ku.
“Iyaa? Ada apa Rang?” Tanya Kak Erin yang juga menolehkan kepala-nya.
“Sebenernya, sebelum Kak Erin dateng dan ngasih kabar kalo Biky udah gada, Aku udah tahu Kak.” Jelas-ku.
Aku yang mengatakan hal tersebut, pun membuat Kak Erin terkaget dan spontan bertanya pada-ku, “Tau? Maksudnya kamu tahu kalo Biky pada saat itu udah meninggal?” Terus Kak Erin dengan bicara yang cepat namun berbisik, “Tau dari siapa?” Tutur-nya.
“Aku tahu dari Biky Kak.” Lanjut-ku, “Bahkan, Aku sudah tahu disaat Biky belum lama dibawa ke klinik oleh Kak Erin dan yang lainnya.” Jelas-ku kembali.
“Tunggu – tunggu.. Huuuftt..” Terus Kak Erin yang mengehela nafas terlebih dulu, “Kenapa kamu bisa tau?” Tanya Kak Erin yang semakin bingung.
“Jadi, disaat Biky dalam keadaan yang mengkhawatirkan semalam dan di bawa ke klinik, saat itu sebenarnya Aku percaya kalau Biky pasti bisa terselamatkan.”
“Terus??” Ujar Kak Erin.
“Dan karena Aku tahu esok harinya kegiatan selesai, saat itu Aku memilih untuk membereskan barang – barangku dan juga Biky.” Terus-ku, “Tapi, disaat Aku sedang membereskan barang – barang Biky, Aku mendapati sebuah kertas surat, dan ternyata surat itu Biky tulis untuk-ku.” Jelas-ku.
“Terus yang membuat kamu bingung?” Tanya Kak Erin kembali dengan wajah serius sampai menghadapkan tubuh-nya ke arah-ku.
“Surat itu berisikan sebuah pesan yang setelah Aku membaca-nya, Aku menjadi menyesal Kak.”
“Menyesal? Kenapa memangnya?” Lanjut Kak Erin bertanya pada-ku, “Bukannya tadi kamu bilang kalau Biky tulis surat itu memang untuk kamu?” Tutur-nya.
“Biky lebih memilih surat itu saat Ia setelah Ia tergigit ular.” Sambung-ku, “Padahal, saat itu Ia bisa meminta pertolongan secepatnya.” Ujar-ku yang mulai kembali teringat pada saat kejadian semalam.