Masa lalu biarlah berlalu, tinggalah ada masa kini dan masa depan yang sudah menunggu. Itulah sebuah kalimat yang mungkin sangatlah pantas untuk apa yang telah Aku lewati sebelumnya.
Sudah sekitar 7 tahun sejak kepergian Biky, dengan rasa kenangan manis masihlah tergambar jelas di ingatan-ku. Aku yang saat ini sudah menjadi seorang dokter sukses, pun juga masih dalam menuju kesuksesan untuk membahagiakan Biky. Yaitu, dengan cara menjalankan atau melakukan apa yang Biky pinta dalam secarik surat terkahirnya.
Di tempat yang semua manusia pasti akan merasakannya, pun Aku sedikti menceritakan keluh kesah-ku dengan Biky. Biky yang tak Aku lihat lagi senyuman-nya secara nyata, pun sangat begitu terasa di dalam hati-ku saat bercerita pada-nya. Batu nisan dari tempat Biky beristirahat seolah menjadi jembatan penghubung antara Aku dan diri-nya yang ku-yakini sudah tenang dan bahagia.
Batu nisan yang langsung membuat-ku selalu mengingat Biky setiap kali jemari ini menyentuhnya, dan selalu tertutup curhatan itu oleh taburan bunga dan siraman air untuk menyegarkan suasana-nya.
“Assalamualaikum Bik..” Ucap-ku setiap awal pertemuan singkat itu.
“Gua gatau Bik.” Terus-ku yang memegang batu nisa dari kuburan Biky, “Gua gatau sampai detik ini udah bahagiain Mega atau belom.”
“Tapi lo tenang aja Bik. Gua bakal berusaha buat terus bahagiain Dia.” Ucap-ku.
Lanjut-ku yang bercerita di atas batu nisan Biky..
* * *
(Kembali pada 7 tahun yang lalu saat baru beberapa hari saja Biky pergi untuk selamanya.)
Pada hari itu usai menyemayamkan Biky pada tempat peristirahatan terkahirnya, pun Aku mengajak Kak Mega untuk pergi makan sebelum Aku mengantarnya pulang. Suatu hal yang Aku paksakan pada saat itu, pun belum menggerakan hati dan perasaan-ku untuk melakukannya. Karena suatu hal, apapun itu yang tak dikehendaki oleh diri sendiri ataupun hati yang berbicara, maka akan terasa sangat amat berat untuk melakukannya.
Akan tetapi, perasaan cinta itu bisa diibaratkan sebagai 2 hal, ibarat sebuah makanan, ataupun sebagaia sebuah bangunan. Cinta yang di umpakan sebagai sebuah makanan, yaitu saat kita baru merasakan sebuah makanan yang sangatlah enak, dan kita langsung bisa jatuh hati pada makanan tersebut. Atau bahkan, kita dapat langsung menyebut bahwa makanan tersebut, adalah makanan yang paling enak di dunia..
Namun, Cinta yang di analogikan seperti sebuah bangunan, adalah sebuah cinta yang membutuhkan proses untuk merangkai, membentuk, dan membangunnya hingga sampai menjadi sebuah bangunan indah dan nyaman untuk di tempati. Dan Cinta-ku dengan Kak Mega termasuk ke-dalam kategori yang ke-dua, yaitu Cinta seperti sebuah bangunan.
Pada awalnya, jangankan untuk mencitai, suka atau merasa tertarik pada diri-nya pun Aku tidak. Namun Aku tidak tahu juga apa yang Kak Mega rasakan terhadap-ku, entah Ia sudah menyukai, atau merasa seperti biasa saja. Walaupun Aku merasa kalau Kak Mega menyukai-ku, sebab Aku telah menolongnya saat nyawanya hampir hilang pada saat kegiatan pramuka beberapa hari silam.
Tapi jika Kak Mega benar – benar menyukai-ku karena hanya Aku yang menolongnya, pun Aku juga tidak terima. Karena, jikalau Aku nanti sudah mencintai-nya, pun Aku sedang tak berada di sampingnya saat Ia butuh pertolongan, Aku takut Ia akan cepat berpaling hati pada orang lain yang menolongnya. Maka sejak saat itu, Aku pun harus mencari cara lain untuk Aku bisa membuat Ia menyukai-ku, bukan karena Aku yang menolongnya, tapi mungkin dengan alasan lain.
Aku yang mengajak Kak Mega Mega ke suatu tempat makan sederhana, tidak mewah, pun termpat duduknya menghampar seperti sedang berkemah di sebuah pulau, Aku dibuat bingung. Aku dibuat bingung karena apa yang harus ku-lakukan untuk mencoba membuat Kak Mega senang atau bahkan bahagia, sedang Aku dalam keadaan yang berduka pada saat itu. Aku merasa hidup-ku semakin berat dengan sebuah tuntutan yang tak bisa ku-tolerir saat itu. Mengapa Tuhan tak memberi-ku waktu barang hanya sebentar saja untuk Aku sedikit bernegosiasi dengan Biky atas permintaan-nya itu.
Malam itu, disebuah tempat makan yang sederhana, pun dengan iringan musik pengamen jalanan yang sangat terlihat kempis pipi-nya karena mungkin bernyanyi seharian, setidaknya membuka fikiran-ku untuk mencari topik pembahasan.
“Musiknya enak ya Kak.” Ujar-ku dengan gugup.
“Enak sih.. Tapi emangnya kamu tahu ini lagu siapa?” Tanya Kak Mega.
“Hemm..” Gumam-ku yang bingung. “Ga..gatau sih Kak, hehehehe.” Sedikit menyeringai-ku pada Kak Mega.
“Hahahaha, lucu juga kamu tuh ya.” Ucap-nya.
“Lucu?, Lucu kenapa Kak?” Tanya-ku sembari berpura – pura minum.
“Kamu bilang enak musiknya, tapi kamu sendiri gatau ini lagu siapa, hahahaha.” Terus-nya menertawai-ku.
“Seorang putri yang mencintai katak, pun juga tidak tahu kalau ternyata katak itu adalah seorang pangeran tampan.” Ujar-ku dengan serius yang membantah pernyataan Kak Mega.
“Yaiyaa.. tapi itukan dongeng.” Jawab-nya.
“Iyajuga yaa, hahahaha.” Ujar-ku.
“Aneh kamu tuh. Hemm.” Gumam-nya sembari tersenyum dan lalu kembali menyantap nasi goreng-nya.
“Iyaa aneh, tapi awas aja kalo sampe suka.” Ujar-ku yang sedikit melantur.
“Uhuugg!!” Kak Mega yang seketika tersedak makanan. “Airr dong air..” Pinta-nya.
“Ini Kak..” Aku yang memberikan air minum pada-nya, “Kenapa Kak?” Tanya-ku.