Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #21

Yang punya rumah aja engga melarang!

Hari demi hari berlalu dengan tanpa kenangan singkat-ku bersama Biky pun terlupakan. Pagi yang selalu membangunkan-ku dengan terik sinar matahari, seolah menjadi dentum meriam penyadar diri. Dentum meriam yang tak bersuara dan mengatakan, “Hidup terus berjalan, tak bisa mundur atau putar arah!”. Waktu demi waktu juga membuat-ku tidak hanya menanggap permintaan Biky hanyalah sebuah keterpaksaan diri. Namun, Aku semakin menanggap kalau diri hanyalah sebuah pengingat dan pengarah pada diri-ku untuk mencitai seorang wanita.

Dan jikalau Aku mengingat kegiatan saat berkemah dengan anggota pramuka, ada suatu kejadian yang juga membuat-ku bertanya – tanya. Yaitu pada saat Aku yang menolong Mega pada saat itu yang padahal secara kebetulan. Yabenar, secara kebetulan karena memang hanya Aku-lah yang sedang bersama diri-nya mencari kayu bakar untuk acara api unggun. Mungkin itu adalah rencana Tuhan untuk bagaimana Aku yang merasa canggung, dengan Mega yang dibuat berfikir kalau diri-nya tertolong oleh-ku.

Mega yang merasa tertolong oleh-ku, pun membuat diri-nya menjadi akrab dengan-ku dengan awalan ucapan terimakasih. Ucapan terimakasih dari Mega pada-ku, namun yang membalas ucapan tersebut ialah Biky, namun lewat diri-ku yang menjaga Mega saat ini. Sangatlah paradox dan terlalu berbelit – belit rasanya jika difikirkan, namun memang itu adanya. Mega yang mengucapkan terimakasih pada-ku, terjawab dengan kalimat sama – sama oleh Biky.

Biky yang menitipkan rasa sayang-nya pada Mega yaitu lewat diri-ku, membuat-ku tahu tujuan lain dari hidup-ku. Tujuan hidup-ku selain meraih cita – cita menjadi seorang dokter, pun juga mencitai seorang wanita secara perlahan. Aku yang bermimpi menjadi seorang dokter hebat, karena Aku tidak ingin ada orang lain atau bahkan diri-ku sendiri yang merasa kehilangan. Kehilangan orang tersayang dan orang yang paling kita cintai.

* * *

Ditengah malam yang dingin, dengan hujan yang datang tanpa salam, dan pergi tanpa kata pamit dan meninggalkan sejuk-nya, membuat fikiran-ku semakin kuat pada Mega. Dengan secangkir kopi hitam panas, juga membantu-ku untuk melawan dingin dan mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya. Kalau ternyata, ditengah dingin masihlah ada kehangatan, dan kepahitan pun juga memiliki kenikmatan yang harus dijamah.

Namun Aku tidak ingin berlarut melawan dingin, dan juga menikmati kopi pahit yang panas pada malam itu. Jadi Aku memilih untuk berbagi rasa dengan Deli dengan Aku yang mendatangi rumah-nya.

“Clap..clap..clap..” Suara langkah kaki-ku yang berlari di atas jalanan yang tergenang sedikit air usai hujan berlalu.

“Tok.. tok..tok..” Ketuk-ku pada pintu rumah Deli. “Assalamualaikum.. Deli...” Ucap salam dan teriak-ku memanggil nama-nya.

Tak membutuhkan waktu dan ulangan pada Aku yang memanggil Deli pada malam itu. “Klak..” Terbuka pintu rumah Deli. “Ehh si anak tenyom.” Ucap Deli melihat-ku.

“Yehh bangke..” Ujar-ku.

“Mau ngapain?” Tanya Deli pada-ku yang datang.

“Yamau ketemu lo lah.. Kangen juga gua sama lo yakan, hehehehe.” Jawab-ku dengan sedikit menyeringai pada-nya.

“Oalah kange..” Sambung Deli yang memalingkan wajah, “Kirain udah lupa karena dapet temen baru.” DEngan sedikit lirikan mata-nya mencuri – curi ke arah-ku.

“Yehh ngomong apansii.. mana mungkin gua lupa sama sahabat gua yang paling cantik ini yakan, hehehehe.” Rayu-ku pada Deli yang terlihat sedikit badmood pada raut wajah-nya.

“Yaudah buruan masuk..” Tutur Deli menyuruh-ku masuk ke dalam rumah-nya.

Aku yang masuk ke dalam rumah Deli pada saat itu, ternyata juga mendapati Tante Nita yaitu Mamah Deli yang masih terjaga sembari menonton televisi diruang tamu.

“Ehh Rangga.. Kok kamu baru main lagi kerumah.. Kemana aja?” Tanya Tante Nita pada-ku dengan Riang.

“Biasa Mah.. Orang kalo udah ketemu temen baru itu pasti temen lama dilupain.” Jawab Deli yang langsung masuk pada pertemuan-ku dengan Mamah-nya.

“Halahh, ngomong apansih lu..” Cengkram lembut-ku pada wajah Deli.

Terus-ku yang berbicara apa Tante Nita, “Engga sombong Tante.. Kemarin – kemarin itu ada kegiatan sekolah 3 hari, terus ada teman Rangga yang meninggal, jadi Rangga ikut pengajian Almarhum temen Rangga.” Jelas-ku pada Tante Nita.

“Innalillahi, turun berduka cita ya Rangga.” Sentuh lembut tangan Tante Nita pada bahu-ku yang juga berbela sungkawa. Terus-nya, “Yasudah kalian berdua naik saja, nanti Tante siapin makanan, kebetulan kita juga belom makan. yakan sayang?” Ujar Tante Nita pada Deli.

Deli pun langsung mengajak-ku untuk naik ke kamar-nya, dan itu memanglah sudah biasa. Tante Nita pun tidak mempermasalahkan-nya karena memang, Aku dan Deli sudah bersahabat sejak lama. Dan Tante Nita juga percaya kalau Aku tidak akan berlaku yang macam – macam pada Deli walau hanya berdua saja berada di dalam kamar.

Aku dan Deli yang sudah berada di dalam kamar-nya, pun langsung membuat Deli berbicara atas apa yang membuat-ku datang kerumah-nya. Dengan wajah Deli yang jelas terlihat masih kesal pada-ku karena baru datang kerumah-nya, “Sebenarnya lo tuh ngapain ke rumah gue?” Tanya Deli.

“Dih.. emangnya kenapa, yang punya rumah aja seneng gua main kesini..” Balas-ku yang mengejek Deli.

“Yaudahh jawab, lo tuh sebenernya mau ngapain.” Ucap Deli yang mengulangi pertanyaan-nya.

“Gua mau curhat Del.”

“Sedih atau seneng?” Tanya Deli.

“Ada sedih dan ada senengnya juga sih.” Jawab-ku.

“Lebih banyak mana?, sedihnya? atau senengnya?” Tanya Deli semakin tajam.

“Del sumpah ya, gua mau kesini tuh mau curhat, bukan mau di interview!” Ucap dengan sedikit kesal.

Lihat selengkapnya