Hubungan kedekatan-ku dengan Mega, pun semakin hari semakin dekat. Dengan Mega yang juga menunjukkan rasa ketertarikan kembali pada-ku, membuat-ku semakin lebih percaya diri untuk semakin mendekati-nya pula. Karena mau bagaimana?, Aku yang tidak pernah mendekati seorang perempuan sebelumnya, tak heran kalau merasa bingung saat mendekati seorang perempuan untuk pertama kali-nya. Ditambah lagi, perempuan tersebut merupakan seorang kakak tingkat di sekolah-ku.
Aku yang sebelumnya bertanya pada Deli perihal apa hal yang harus Aku lakukan untuk mendekati seorang wanita, pun Aku tak bisa mengelak untuk tak mengikuti cara-nya. Selain Aku yang memang tidak tahu menahu perihal seperti itu, pun juga Deli seorang wanita yang mungkin memiliki perasaan sedikit sama akan kesukaan wanita pada laki – laki.
Hari itu tiba, yaitu hari dimana Aku menunggu Mega usai kegiatan belajar mengajar disekolah berakhir. Berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sekolah yang di tandai dengan dentuman bel.
“Teng nong, teng nong.” Suara Bel pulang sekolah.
Aku yang langsung menuju pintu gerbang untuk menunggu Mega, pun tak membutuhkan waktu lama untuk menanti-nya. Berdiri-ku di depan pintu gerbang, dan sudah terlihat Mega yang sudah mendekati-ku, pun ku-percepat dengan Aku berlari menyusul-nya.
“Mega.” Sapa-ku usai menghampiri-nya.
“Yaa Rangga? Ada apa?”
“Pu..pulang sendiri kan?” Tanya-ku lagi dengan gugup.
“Kenapa emangnya?” Tanya Mega.
“Pulang bareng mau ga? Terus-ku, “Tapi kalo gamau gapapa kok, hehehehe.” Ujar-ku yang semakin malu.
“Boleh.” Jawab-nya.
“Yaudahh yuu, jalan ke parkiran motor bareng.” Ajak-ku.
Aku dan Mega pun berjalan bersama menuju parkiran motor, tempat Aku menitipkan motor saat selama Aku belajar di sekolah. Untung saja karena sudah SMA, jadi membuat-ku diperbolehkan untuk membawa motor ke-sekolah.
Jarak parkiran motor dengan sekolah tidaklah terlalu jauh, namun tidak dekat juga, sedang – sedang saja. Aku yang menyadari akan hal itu, pun sebenarnya tidak mau membuat Mega lelah. Jadi, Aku tawarkan terlebih dulu Ia untuk menunggu saja di depan gerbang barang sebentar saja.
“Ohiyaa, parkiran motor-nya lumayan jauh.” Sambung-ku, “Kamu tunggu di depan gerbang aja ya, nanti kamu cape lagi.” Jelas-ku.
“Udah gapapa Aku ikut jalan aja ke tempat kamu parkir motor.” Terus Mega, “Lagian juga kan, supaya kamu gak bolak – bolik.” Ujar Mega.
Pemberhentian langkah kaki kami yang singkat, dengan sebuah tawaran dari-ku pun membuat Mega menolaknya dan ingin ikut jalan kaki saja menuju parkiran motor. Yamungkin itu adalah salah satu penolakan yang baik dan tak menyinggung siapapun, tak seperti kata atau kalimat penolakan lain. Yabenar, karena Mega menolak untuk langkah kaki-nya berpisah dengan-ku, walaupun Ia harus merasa sedikit lelah.
* * *
Setelah berada di parkiran motor, pun Aku langsung segera mengambil motor-ku untuk segera mengantar Mega pulang. Tapi, saat Aku berfikir seperti itu, pun seolah alam memihak pada-ku untuk tak melupakkan atas saran yang Deli berikan sebelumnya. Aku melihat siswa dan siswi lain dari sekolah-ku pulang, dengan berboncengan bersama. Dan Aku sangat yakin kalau mereka menjalin hubungan special atau bisa disebut berpacaran. Mega pun telah berada di atas motor-ku dan Aku siap untuk mengantar kerumah-nya untuk Ia pulang.
“Nahh.. dah yuu jalan.” Tutur Mega saat telah menaiki motor-ku.
Mega yang berkata seperti itu, dengan Aku yang teringat akan saran Deli, pun tak langsung menuruti perkataan Mega untuk menjalankan motor-ku, melainkan Aku terdiam gugup. Yabenar, Aku terdiam sejenak dan merasa gugup untuk mengatakan hal yang Deli sarankan pada-ku.
“Rangga?” Tanya Mega pada-ku yang diam.
“Ehh, iyaa – iyaa ayook jalan. Nih pake helm-nya.” Berikan-ku helm untuk Mega pakai.
Aku yang sebelumnya tidak jadi untuk mengatakan hal tersebut, pun seperti-nya benar – benar membuat alam harus semakin menunjukkan kalau Ia mendukung-ku. Dan tanda yang alam berikan kali ini adalah, dari Mega langsung yang membuka obrolan saat perjalan menuju rumah-nya di atas motor yang ku-kendarai.
“Rangga.”
“Iyaa? Kenapa?” Jawab-ku.
“Tadi kamu kenapa diam?” Tanya Mega pada-ku perihal sebelumnya.
“Hemmmm.” Gumam-ku. “Gimana yaa bilangnya, hehehehe.” Ujar-ku.
Mega pun bingung dengan Ia yang langsung bertanya kembali atas ucapan-ku. “Maksudnya?” Tanya Mega.
“Ohiya Mega, aku mau tanya sesuatu boleh ga?” Tanya-ku kenbali pada Mega yang langsung mengabaikan pertanyaan-nya.