Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #24

Bagus sih, tapi sepertinya jangan dulu.

Deli adalah sahabat-ku satu – satunya yang mungkin sampai akhir hayat-ku nanti, tetap akan menjadi sahabat-ku satu – satunya. Sangat berat hati untuk-ku berbohong pada Deli perihal sedikit masalah yang ku-alami saat makan malam bersama Mega. Dan tentunya juga, berat hati pula untuk Aku jujur kepada Deli kalau ternyata ada kemungkinan Mega yang tak menyukai-ku mempunyai sahabat perempuan. Tapi, Aku teringat akan suatu perkataan yang pernah Aku dengar, namun Aku lupa kata – kata tersebut terucap dari mulut siapa.

Kata – kata itu adalah, “Cinta dengan persahabatan tak bisa disandingkan dalam satu ranah yang sama. Karena jika disatukan, pasti akan menimbulkan kehancuran yang sama – sama membuat kedua-nya menjadi debu. Debu yang akan terombang – ambil walau dengan terpaan angin yang lemah.”

Aku masih mengingat kata – kata tersebut, namun dalam kamus hidup-ku, saahabat tetaplah yang menjadi nomor satu dan garis terdepan dalam pembahasan hidup-ku. Aku yang sudah memutuskan hal tersebut, pun mulai berkata pada Deli.

“Del, boleh gua cerita sama lu kaga?” Tanya-ku dengan wajah murung.

Deli yang melihat-ku berwajah murung, pun langsung membuat Deli seketika pula berubah dan seperti tak bisa marah atau mengacuhkan-ku pada saat itu.

“Rangga?, Lo gapapa kan?” Tanya Deli dengan tatapan tajam melihat ke arah mata-ku.

“Boleh gua cerita sama lu Del?” Ulang-ku kembali pada perkataan-ku sebelumnya.

“Iyaa jelas boleh. Tapi lo gapapa kan?” Tanya Deli kembali.

Deli yang telah mengizinkan-ku bercerita, begitupun pasti juga dengan Ia yang bersedia mendengar cerita-ku, pun Aku abaikan pertanyaan-nya.

“Jadi, tadi saat Gua makan malem sama Mega, Gua liat juga sama orang tua lo yang lo bilang, juga lagi rayain ulang tahu pernikahan mereka.” Ujar-ku.

“Iyaa terus?” Gubris Deli.

“Dan saat Gua hampirin Om Rudi dan Tante Nita di tempat makan itu, Gua juga kenalin Mega sama mereka.”

“Kenalin sama Bokap dan Nyokap Gue?” Tanya ulang Deli.

“Ii.. iyaa Del.” Balas-ku.

“Terus?” Tutur Deli dengan pertanyaan yang semakin pernasaran pada cerita-ku.

“Setelah Gua kenalin Mega sama kedua orang tua lo, Mega tanya sama Gua.”

“Tanya apa?”

“Mega tanya, itu siapa?, Kok kayanya deket banget sama kamu.” Jelas-ku yang mengulangi perkataan Mega pada Deli saat bercerita.

“Terus lo bilang kalo itu orang tua Gue?” Tanya Deli yang juga menerka.

“Iyaa Gua bilang, tapi lebih mendetil gitu.” Ujar-ku.

Deli yang kurang paham maksud perkataan-ku yang mengatakan mendetil, pun membuat-nya bingung dan bertanya, “Maksudnya mendetil??” Tanya Deli.

“Jadi Gua bilang ke Mega begini,” Terus-ku yang mengulangi perkataan-ku pada Mega saat makan malam, “Gimana Aku gadeket sama mereka, Om Rudi sama Tanten Nita itu orang tua dari sahabat Aku, nama-nya Deli.” Jelas-ku.

“Oalah.. Terus – terus?” Pinta Deli untuk Aku menceritakan lebih jauh.

“Gua sih gatau dan gamau berasumsi sendiri ya Del. Tapi Gua ngerasa, kalau sifat Mega jadi lebih dingin sama Gua, disaat Gua kasih tau ke Dia kalau Gua punya sahabat cewek, yaitu lu.” Jelas-ku.

“Hemmmm..” Deli yang hanya bergumam.

“Kalo menurut lu, mungkin ga sih Del, Mega sedikit marah atau bahkan cemburu karena ternyata Gua punya sahabat cewek kaya lu.” Tanya-ku pada Deli.

“Hemmm..” Kembali Deli yang bergumam dengan wajah bingung, dan tangan yang menopang dagu-nya. “Mungkin ajasih. Tapi kalo emang Iyaa, menurut Gue, gapantes aja.” Deli yang memberikan pendapat.

“Maksudnya gapantes gimana Del?” Tanya-ku atas perkataan Deli.

“Yangapain coba dia marah atau ngerasa cemburu sama Gue yang jadi saahabat lo.” Sambung Deli, “Gua aja gacemburu sama lo yang deket sama Dia, yakan?” Jelas Deli.

“Iyasihh Del, tapi mungkin Dia sama lo beda kali Del.” Ujar-ku.

Lihat selengkapnya