Tidak membutuhkan waktu lama untuk Aku dan Kak Erin yang menaiki satu kendaraan bersama, untuk sampai di tempat makan tersebut. Karena memang seingat-ku, jarak tempat makan tersebut dari area pemakaman cukuplah dekat. Terlebih lagi, pada saat pagi di hari minggu, jalanan tidak terlalu dibuat macet oleh ratusan ribu orang yang sibuk beraktifitas masing – masing. Aku tiba di tempat makan tersebut, pun berhasil dibuat terkaget dan teringat akan perkataan Kak Erin yang mengatakan kalau tempat itu adalah tempat yang special.
Harus berapa banyak uang yang ku-habiskan pada tempat makan yang Kak Erin tunjukan. Karena jika dilihat dari area tempat makan-nya pun sangat luas, begitupun juga pada tempat Aku memarkirkan motor di tempat makan tersebut.
Yabenar, karena tempat makan tersebut sangatlah luas, dan luasnya pun sepanjang jalan trotoar, dengan penjual makanan tersebut yang bisa kemana saja. Alat yang digunakan oleh penjual makanan tersebut pun sangatlah hebat, karena bisa berpindah tempat kemana saja sesuai kehendak sang penjual-nya.
“Kita makan disini Kak?’ Tanya-ku pada Kak Erin yang meminta untuk menepi di pinggir jalan.
“Iyaa, bubur ayam disini tuh juara banget rasanya, gakalah sama yang di restaurant besar.” Jelas-nya pada-ku.
“Ah masaa??” Gubris-ku atas ucapan-nya.
“Aku berani jamin, kalo habis kamu makan sendiri disini, kamu pasti bakal diem – diem kesini terus.” Ucap-nya dengan wajah riang dan entah apa yang Ia fikirkan.
“Ahh, hahahaha. Seriuss?”
“Yaudahh ayuu makanya buruan. Nanti keburu abis.” Tarik tangan-nya pada tangan-ku yang baru saja, dan masih memegang helm.
Aku yang baru datang ke tempat makan tersebut, pun canggung dan membuat Kak Erin yang harus memesan makanan disana. “Pak Samsul, Bubur Ayam-nya 2 ya.” Pinta Kak Erin pada penjual Bubur disana yang memang jelas terdengar pada telinga-ku.
Hanya dalam waktu sekejap saja Kak Erin memesan makanan disana, pun langsung kembali duduk bersebalahan dengan-ku yang hanya masih canggung dan hanya bisa menunggu. Di atas meja sederhana, pun juga tak terbuat dari kayu mahal, dan terduduk di atas kursi plastik, Aku bertanya pada-nya yang sudah kembali usai memesan makanan.
“Kak Erin udah langganan makanan bubur disini ya?” Tanya-ku.
“Iyaa, dan sudah lama banget Aku makan disini.” Sambung-nya, “Kenapa emangnya?” Tanya Ia kembali usai menjawab pertanyaan-ku.
“Ya gimana engga, Aku lihat tadi pas Kakak pesan makanan, keliatan kaya udah akrab banget gitu soalnya. Jadi Aku yakin, pasti udah langganan dan udah lama banget.” Terus-ku, “Ehh ternyata bener.” Jelas-ku.
Saat Aku tengah duduk ditempat makan sederhana itu, Aku teringat akan perkataan Kak Erin yang mengatakan kalau tempat itu sangatlah special untuk-nya. Aku tahu akan arti dari pada special, namun yang ingin Aku tahu adalah, apa yang membuat Kak Erin sampai mengatakan kalau tempat ini sangatlah special untuk-nya.
“Ohiyaa Kak, Aku mau tanya sesuatu boleh ga?” Ujar-ku pada Kak Erin saat menunggu pesanan Bubur datang.
“Yabolehh dong, masa gaboleh, hahahaha. Aneh – aneh aja kamu ya.” Balas-nya dengan tertawa kecil.
“Sebelumnya pas sebelum kita jalan ke sini, Kak bilang kalau tempat makan ini special bagi Kakak. Kalo boleh tau, kenapa Kak Erin sampe bilang tempat ini special ya Kak?, hehehehe.” Tanya-ku dengan sedikit menyeringai karena takut itu adalah hal yang sensitif untuk-nya pula.
Aku yang bertanya pada Kak Erin perihal tersebut, alih – alih Kak Erin menjawab, justru Kak Erin yang terduduk tepat disamping-ku dan tubuh kami pun saling menghadap satu sama lain, menundukkan kepala-nya. Dan hal tersebut membuat-ku merasa tidak enak dan berfikir kalau pasti Aku telah salah bertanya hal tersebut pada-nya.
“Kak Erin?” Tanya-ku pada Kak Erin yang tiba – tiba menundukkan kepala-nya disaat usai Aku bertanya.