Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #26

Semakin kuat rasa ini!

Tak terasa bagi diri-ku, dan juga orang – orang disekitar-ku akan waktu yang telah terlewatkan. Tak mengira juga kalau Aku ternyata telah berhasil menggapai impian-ku menjadi seorang dokter. Impian yang memang telah menjadi cita – citaku dan tak pernah berubah sejak dulu.

Sejujurnya, Aku merasa bahwa menjadi seorang dokter adalah cara untuk bagaimana menjadikan sebuah tangan dan fikiran yang kita gunakan, menjadi sebuah tolak ukur untuk membuat orang lain tersenyum secara batin. Karena hal tersebut seperti yang Aku katakan sebelumnya, tak mungkin seorang dokter merasa sedih disaat ada orang yang berhasil Ia siuman. Terlebih lagi, orang – orang yang berada di sekitarnya pun tak kalah lebar senyuman yang terbentuk.

Namun, siapa orang yang pertama kali mengikiskan air mata, hati yang tersayat, dan senyuman yang saat itu tak akan ada yang bisa merubah selain wajah muram, disaat ada seseorang yang telah gagal terselamatkan. Sudah jelas dokter itu sendiri yang telah merasa gagal.

Seorang dokter tak tahu siapa orang itu, bukanlah seorang saudara kandung, saudara tiri, ataupun seorang yang sebelumnya sangat Ia sayang atau Ia cintai. Akan tetapi, air mata-nya lah yang pertama kali terjatuh dari balik kelopak mata, yang semakin membengkak karena kelelahan.

Aku menganggap diri-ku bukanlah seorang dokter karena Aku tak pernah merasakan hal demikian, namun sejujurnya Aku pasti tak akan sanggup jikalau hal tersebut jugalah terjadi pada diri-ku. Umur-ku saat ini ialah sepanjang 26 tahun, dan sudah cukup lama Aku benar – benar telah terjun ke dalam dunia medis. Dan entah Aku dapat katakan kalau itu adalah sebuah kesuksesan atau pencapaian yang sangat luar biasa, karena memang Aku tidak pernah gagal dalam pekerjaan-ku.

Selama Aku berkarir dalam dunia medis dan menjadi seorang dokter specialist bedah, Aku tak pernah satupun dalam tindakan operasi saat menangis pasien. Itulah yang membuat Aku dapat mengatakan kalau memang Aku tidak pernah merasakan apa yang mungkin seorang dokter lain rasakan. Perasaan gagal, kecewa, sedih, atau sebagainya disaat seseorang mengakhiri hidup tepat di hadapan-nya.

Dengan umur-ku yang sudah 26 tahun, pun juga Aku yang sudah cukup mapan dengan hasil jeripaya-ku, pastinya Aku juga telah memiliki seorang istri dan seorang anak. Dua orang yang sangat amat Aku sayangi saat ini, dan satu diantaranya, itu adalah Mega.

Yabenar, hubungan-ku dengan Mega pun telah melewati jenjang pernikahan, dan juga Kami telah membangun sebuah keluarga kecil, harmonis dan sangat amat sederhana. Aku yang bisa sampai menikah dengan Mega, pun tak luput dari berbagai hal dan rintangan yang menjadi ujian untuk usaha-ku sampai ke titik dapat membuat keluarga kecil dengan Mega.

* * *

Disaat Aku telah menjalin kedekatan pada Mega, semakin lama pula perasaan-ku yang sebenarnya tertarik pada Kak Erin larut. Seiring berjalannya waktu, semakin kuat perasaan suka-ku pada Mega menjadi sayang, dan semakin lama berkembang menjadi Cinta.

Tidak mudah Aku untuk mendapatkan Mega walaupun Aku sedikit merasa kalau Mega juga menyukai-ku. Karena memang pada awalnya tidaklah sulit untuk Aku mendapatkan Mega, terlebih jikalau mengingat atau membahas perihal apa yang Aku perbuat pada Mega kala kegiatan pramuka. Tapi hal mudah itu menjadi sulit saat Mega yang mengetahui Aku memiliki sahabat perempuan, yaitu Deli.

Sejujurnya disaat Aku yang merasa bingung dan memutuskan untuk pergi bercerita pada Biky dan berziarah pada tempat peristirahatan terakhir yang berujung juga pada menghabiskan singkat waktu beberapa jam dengan Kak Erin, pun hampir membuat-ku menyerah akan amanat yang Biky berikan.

Namun kedekatan-ku dengan Mega seolah menjadi sebuah garis takdir dan mungkin tak akan terpisahkan sampai maut memisahkan kami, dan Aku meyakini itu. Karena disaat usai makan malam, Aku yang tersadar pada Mega yang cemburu perihal-ku mempunyai sahabat perempuan, pun juga turut di rasakan oleh diri-nya. Yaitu, atas Aku yang juga mengetahui kalau diri-nya merasa cemburu pada Deli. Dan hal tersebut pun membuat Mega memilih untuk meminta maaf pada-ku atas tingkah laku yang seperti anak kecil-nya kala itu.

Esok hari saat disekolah, bahkan Mega lah yang mendatangi-ku terlebih dulu saat Aku berada di dalam kelas kala Jam istirahat berlangsung. Aku yang sedang terduduk karena Aku masih bingung inging melakukan apa, terlebih lagi, Biky yang belum lama pergi, dan juga Aku yang semakin bingung karena Mega marah pada-ku.

* * *

Sembari melihat buku – buku sekolah Biky yang lebih banyak terisi oleh lukisan wajah Mega, pun Mega datang. Untung saja, dengan sigap Aku lebih dulu melihat Mega yang datang dan terlebih dulu Aku dapat menutup dan menyimpan buku milik Biky sebelum Mega melihat-nya.

Aku tidak membayangkan apa yang akan terjadi saat Mega melihat banyak lukisan wajah-nya, namun berada di dalam setiap lembaran Buku dengan nama dibagian depan bertuliskan nama Biky. Pasti akan ada pertanyaan yang membuat semuanya seketika dapat hancur dan menjadi sia – sia.

“Ra.. Rangga.” Ucap Mega dengan terbata – bata pada-ku.

“Iyaa ada apa?” Tanya-ku dengan senyuman pada-nya. Walaupun, saat itu Ia tidak tersenyum karena merasa diri-nya salah.

Lihat selengkapnya