Hubungan dua insan yang berbeda kami itu pun, berjalan dengan langkah keharmonisan disetiap harinya. Aku yang benar – benar semakin jatuh hati pada Mega, membuat-ku juga mengabaikan apa yang pernah Ia pinta pada-ku, sekaligus tak terlupa untuk-k berterima kasih. Namun maksud dari Aku yang mengabaikan permintaan Biky, ialah karena saat ini Aku mencitai Mega tanpa satupun alasan yang jelas, termasuk alasan-ku yang pada awalnya mendekati Mega hanya karena itu permintaan terkahir Biky.
Aku benar – benar jatuh cinta pada Mega sampai Aku tak rela kehilangan-nya walau barang hanya sebentar saja. Oleh karena itu, dengan hubungan-ku dan Mega, sekaligus usia yang terus bertambah tanpa terasa, Aku dan Mega pun memutuskan untuk menikah.
Apalagi yang Aku tunggu untuk menikahi Mega saat itu. Aku yang sudah sukses menggapai cita – citaku menjadi seorang dokter di usia muda, pun Aku rasa sudah saatnya Aku untuk membangun sebuah ruang tangga kecil-ku dengan wanita yang sangat amat Aku cintai. Aku tidak hanya ingin merawat atau mengurus seorang pasien yang sangat membutuhkan-ku, tapi Aku juga ingin mengurus, menjaga, dan merawat orang yang sangat Aku butuhkan, yaitu adalah Mega.
Tepat di usia-ku yang sudah menginjak 26 tahun, dan tentunya usia itupun sama dengan Mega. Dan hal tersebut jugalah yang membuat-ku tak ingin berlama – lama untuk mengikat Mega dan suatu ikatan janji suci sehidup semati.
* * *
Agama mengajarkan kalau menikah ialah untuk menyempurnakan Agama. Tapi menurut-ku yang menikahi Mega bukanlah hanya menyempurnakan Agama-ku saja. Tapi juga menyempurnakan hidup-ku secara benar – benar sempurna.
Dan ternyata benar, usai menikah dengan Mega dan menjalani keseluruhan aktifitas-ku sehari – hari, yaitu dengan wajah Mega yang pertama kali Aku lihat setiap bangun tidur. Benar – benar menenangkan fikiran berat-ku akan perkerjaan, lelah tubuh-ku karena beban di pundak, sekaligus batin yang terus berusaha untuk tegar menjalani hidup.
Setelah menikah dengan Mega, pun Aku datang ke tempat peristirahatan terakhir Biky, dan tak lupa untuk membawa secarik kertas yang pernah Ia tuliskan untuk-ku saat sebelum Ia benar – benar pergi selamanya.
Dengan Aku yang sudah datang dan melanjutkan kalimat demi kalimat untuk ku-katakan pada Biky.
“Gua gatau Bik.” Terus-ku yang memegang batu nisa dari kuburan Biky, “Gua gatau sampai detik ini udah bahagiain Mega atau belom. Tapi lo tenang aja Bik. Gua bakal berusaha buat terus bahagiain Dia.” Ucap-ku.
Lanjut-ku yang bercerita di atas batu nisan Biky, “Walaupun sekarang Mega udah bener – bener menjadi istri Gua, Gua masih gatau sebenarnya Gua udah bahagiain dia atau belom.”
“Tapi kalo lo tanya Gua bahagia atau engga sama Mega, gua gabisa jawab.” Sambung-ku, “Karena gua takut lo bakal iri, hehehehe.” Tawa kecil yang ku-buat.
“Makasih banyak Bik karena ternyata wanita yang lo pilihin buat gua itu adalah wanita yang tepat. Yawalaupun awalnya hati gua ngerasa terpaksa, tapi pada akhirnya gua tau kalo Mega adalah wanita yang terbaik untuk Gua, hehehe.” Tawa kecil-ku lagi sembari menyeringai, karena sembari Aku membayangkan kalau Biky benar – benar hadir di hadapan-ku dengan raut wajah iri-nya.
Usai Aku yang mendatangi Biky pada tempat peristirahatan terkahirnya dengan seorang diri, yaitu untuk sedikit bercerita pada-nya tentang apa yang Aku rasakan. Tentang apa yang Aku rasakan atas kebahagiaan Mega bersama-ku telah hadir atau tidak. Mungkin Mega bahagia, tapi apakah bahagia-nya yang dikarenakan oleh-ku membuat-nya tidak akan pernah bisa melupakannya, ataupun dengan begitu muda dapat terhapus dalam benak fikiran-nya?, entahlah, siapa yang tahu.
* * *
Hari – hariku sejak menikah dengan Mega sangatlah terasa sangat berwarna. Karena setiap senyuman yang terukir di wajah-nya, pun menghadirkan kesan yang berbeda – beda, begitupun juga dengan-ku yang tersenyum pada-nya. Karena setiap senyuman yang terlukis dari cekungan bibir-ku, pun tak hanya tentang rasa senang saja. Begitupun juga tangisan yang di tandai oleh air mata-ku, buka perihal tentang kesedihan.
Aku yang menangis bukan semata – mata karena merasa tersedih, sakit, atau hal apapun yang menggambarkan kemurungan. Akan tetapi, senyuman kebahagiaan yang sampai senyuman tawa pun tak sanggup membedungnya. Aku menangis atas perasaan iri para laki – laki diluar sana karena Aku-lah yang berhasil mendapatkan Mega. Mendapatkan seorang wanita yang sifatnya mewakilkan beribu – ribu wanita baik di dunia ini. Walau itu hanya menurut-ku saja, tapi Aku tetap yakin akan hal tersebut juga dirasakan setiap laki – laki yang melihat keharmonisan-ku dengan Mega.
Namun pada akhirnya, kebahagiaan dalam diri-ku terputus dengan Mega di tengah jalan hubungan pernikahan kami. Bukan kata kandas yang berakhir saling meninggalkan, dan juga bukan kata manis yang berujung pada kepahitan. Akan tetapi, ada suatu hal yang memang seakan tiba datang dan meluluh lantahkan kebagaiaan-ku dengan-nya.