Pada hari itu, hari dimana Aku yang telah mengetahui Mega ternyata kalau ia mempunyai penyakit khusus, pun benar – benar membuat-ku seakan pergi kemasa lampau. Ke masa hari, dimana saat itu adalah tiap detik dalam langkah jam sangat menakutkan bagi-ku. Dan Aku merasa bahwa hal tersebut tidaklah adil bagi-ku, bagi hidup-ku.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada waktu nantinya, sedangkan waktu tahu apa yang akan terjadi pada hadapan-ku. Sekeras apapun Aku menakuti waktu, itu tak akan membuat bergetar kaki-nya sedikitpun. Tak akan pula membuat jiwanya merasa di ujung tanduk, walupun sedang berada di tengah dunia yang fana ini.
Tapi itulah kehidupan dengan berjalan di atas garis waktu yang sama. Garis waktu yang tak bisa di belokkkan sedikitpun, namun setiap masing – masing memiliki pemberhentian masing – masing. Diturunkan secara paksa, atau lemah lembut, tak peduli pemandangan seindah apa yang sedang terjadi saat perjalan berlangsung. Namun yang jelas, setiap manusia sudah memiliki tempat pemberhentian masing – masing.
Dan saat itu, Aku tak berfikir kapan waktu untuk pemberhentian diri-ku, karena Aku sedang sibuk mempersiapkan untuk waktu pemberhentian Mega. Sebisa mungkin Aku bernegosiasi dengan sang supir waktu untuk sedikit memberi waktu lebih, yaitu agar Mega masih di izinkan dan diberikan waktu lebih lama untuk menikmati perjalan bersama-ku.
Yang lebih lucunya, sekuat apapun suara tangis-ku, sebanyak apapun air mata yang terjatuh, atau serendah apapun diri-ku membungkuk, hal tersebut pasti tidaklah akan menambah 1 detik pun waktu Mega. Lalu kenapa Aku terus berusaha?
Aku berusaha karena Aku masih mencoba berfikir kuat kalau Aku adalah manusia. Aku adalah seorang manusia yang dimana, setiap manusia selalu mempunyai kesempatan dalam hidup-nya. Entah kesempatan itu untuk memperbaiki, menambahkan, atau menjadi lebih baik barang hanya sedikit.
Tapi pada saat itu, Aku merasa seperti bukan manusia yang tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki sebuah kesalahan. Walaupun, kesalahan tersebut bukanlah Aku yang menjadi pelaku utama-nya. Tanpa toleransi sedikitpun, lambat laut perasaan-ku di siksa oleh sang waktu. Sang waktu yang memutar sebuah rekaman lalu, begitupun juga sedikit perkiraan rekaman kehidupan-ku yang akan datang.
Entahlah, pada saat itu Aku benar – benar sedang kacau dan tak tahu apa yang seharusnya Aku lakukan.
* * *
Di tengah Aku yang sedang merasa kerisauan yang menggundah gulana, seseorang yang pernah ada dalam kehidupan-ku pun secara tak ku-sangka hadir. Dalam keadaan-ku yang benar – benar sedang kacau, sebenarnya Aku tak menginginkan orang tersebut hadir dalam dunia-ku lagi. Seseorang yang sebelumnya pernah menebar benih keindahan yang hanya berdasar ilusi hati, dan berujung pada kenyataan benci dalam diri.
Di tengah malam saat Aku sedang menjaga Mega, pun dipaksa harus sebentar dan meninggalkan Mega yang sedang tertidur lelap untuk mengisi perut yang bunyinya pun sudah tak karuan.
“Kruugg..”Suara keroncongan dari perut-ku yang sudah lapar.
“Huftt..” Helaan nafas-ku yang juga sedang menggenggam tangan Mega. “Sayang, Aku keluar sebentar ya.” Ujar-ku dengan begitu sendu dan tak terlupa mengecup kening Mega saat sebelum meninggalkan-nya di dalam ruangan rumah sakit.
Aku pun berjalan keluar dengan harapan masih ada beberapa penjual makanan untuk bisa mengisi dan mengganjal perut lapar-ku.
“Tap.. tap.. tap.” Suara langkah kaki-ku menyusuri lorong rumah sakit saat malam, begitu sangat terdengar karena terbantu suasana yang memang begitu hening.
“Jam segini dimana ya tukang makanan yang masih buka?” Tutur-ku sendiri sembari berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
Aku yang berucap dan mengeluh sendiri pada apa yang Aku tuju, pun terjawab oleh suara yang tak di undang, sekaligus tak ku sangka pada saat itu.
“Aku tahu ada dimana.” Ucap suara tersebut saat Aku sudah berada di luar.
Aku yang berucap sendiri namun mendapat jawaban tiba – tiba, pun dengan spontan mencari memalingkan pandangan-ku pada asal suara tersebut. Dan ternyata suara tersebut berasal dari seseorang yang berada tepat disebelah kiri-ku saat langkah ini baru saja terhenti di depan pintu keluar.
“Kamu?!, ngapain kamu kesini?!” Tanya-ku pada orang tersebut dengan sangat terkaget karena kehadiran-nya.