Pada malam itu, Aku mengajak Deli pada suatu ruangan yang dimana terdapat tubuh Mega sedang terbaring lemas dan tak berdaya. Sejujurnya Aku membawa dan mengajak Erin untuk melihat Mega secara langsung sangatlah dengan berat hati. Namun setelah Aku berfikir, itu adalah salah satu cobaan kedewasaan-ku dalam berfikir. Karena walau bagaimanapun juga, Erin tetaplah sahabat Mega, dan Erin adalah orang yang lebih dulu mengenal Mega jika dibandingkan dengan diri-ku.
Aku yang membawa Erin dan tepat berada di depan pintu kamar rawat Mega, pun tak membuat Erin langsung masuk ke dalam. Erin yang terlebih dulu melihat dari balik kaca jendela pada tubuh Mega yang sedang terbaring lemas pun terlihat jelas oleh-ku mulai netitikan air mata-nya.
“Mega.. Gue kangen banget sama lo.” Ucap-nya yang dengan sedikit tersedu – sedu dan tangan yang menapak di kaca pintu.
Aku pun mengerti juga perasaan apa yang sedang dirasakannya setelah sekian cukup lama persahabatan mereka harus terpisah, dan disaat Ia melihat sahabat-nya kembali sedang dalam keadaan yang tak berdaya.
“Rangga.”
“Ya kenapa?” Jawab-ku.
“Sejak kapan Erin belom sadarkan diri?” Tanya-nya dengan lamunan mata ke arah Mega dari balik jendela.
“Sejak kemarin Aku yang tiba – tiba nemuin dia terjatuh pingsan di kamar mandi, dan sejak saat itu Dia belom sadarkan diri.” Lanjut-ku, “Akhirnya, dengan cepat pun Aku bawa Mega secepat mungkin ke rumah sakit, agar bisa Aku periksa lebih jauh dan dengan peralatan yang lengkap juga.” Jelas-ku yang juga menemani Erin di depan pintu kamar rawat Mega.
Aku yang menjelaskan atas kejadian yang terjadi pada Mega, pun membuat Erin seketika berkata, dengan perkataan yang semakin membuat-ku merasa bersalah.
Dengan tatapan mata-nya yang masih terlamun ke arah Mega dari balik jendela Erin pun berkata, “Dari dulu lo kemana aja Rang?” Ucap-nya yang menghadirkan tanya.
“Maksudnya?” Tanya-ku yang belum mengerti akan maksud perkataan Erin.
“Dari dulu lo kemana aja!, Lo kemana aja disaat Gue udah ngasih tau tentang Mega soal sakit yang ada di dalam tubuh-nya?! Lo kemana aja?!” Teriak Erin seketika pada-ku di tengah kesunyian rumah sakit.
Erin yang berteriak walau sedang berada di dalam rumah sakit yang tenang, sunyi apakah membuat-ku marah?. Jelas hal itu membuat-ku marah, namun Aku marah dan benci pada diri-ku sendiri. Karena memang ternyata, semua hal yang pernah diberitahukan pada Erin tentang Mega pada-ku adalah sebuah kebenaran.
“Ma.. maafin Aku Rin.” Ucap-ku pada Erin sembari meletakkan sebelah tangan-ku di pundak-nya dengan perasan yang ragu – ragu.
“Apa lo bilang?! Maaf?!” Ujar Erin dengan suara teriakan yang menggelegar dan menggetarkan perasaan-ku. “Bug..bug.. bug..” Pukul Erin pada-ku sembari di iringi isakan tangis-nya, “Hiks.. hiks.. hiks..”.
Aku yang melihat Erin menangis sampai isakan tangis-nya pun sampai tak terdengar oleh telinga-ku, namun terdengar jelas oleh perasaan-ku, pun membuat-ku teringat akan hal yang pernah terjadi antara diri-ku dengan diri-nya.
Malam dimana Aku yang sedang terluka dan Aku mendapati sebuah pengobatan singkat atas luka-ku itu dari-nya, pun membuat-ku tersadar kalau memang Erin adalah seseorang yang sangat baik. Namun mengapa saat itu Aku tak mempercayai-nya, melainkan justru Aku berfikir buruk terhadap diri-nya.
Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi Aku berfikir buruk terhadap-nya yang padahal rasa dalam diri-ku lah yang terlebih dulu Aku tanam atas nama-nya. Mungkin tidaklah terlalu salah juga diri-ku kala Aku tak mempercayai apa yang Erin beritahukan. Tapi setidaknya Aku tak perlu perlu untuk sampai berfikir buruk dan pada akhirnya membuat-ku benci pada diri-nya. Rasa benci-ku yang membuat Aku tak lagi ingin menemui atau melihat wajah-nya.
Kalau saja dulu Aku hanya sekedar tak mempercayai-nya tanpa ada rasa benci yang berujung pada putusnya tali silaturahmi, mungkin usai Aku yang mendatangi rumah-nya dan pergi begitu saja masih bisa Ia rayu. Mungkin Ia masih bisa membuat-ku percaya atas apa yang Ia katakan tentang penyakit Mega pada-ku secara perlahan.
“Bodoh!” Teriak hati-ku pada otak-ku yang padahal memiliki satu ruangan yang sama. Yabenar, memang Aku sangatlah bodoh pada saat itu. Dan entah Akupun tidak tahu apakah Aku dapat menebus, atau bisa memperbaiki kebodohan-ku yang sudah terjadi dan jauh berlalu.