Aku yang mengambil hasil laboratorium akan kondisi Mega dengan lebih lanjut, pun hasil lab sangat membuat-ku tercengang dan tak bisa berkata – kata. Aku yang melihat hasil lab akan kondisi Mega, pun justru tidak berfikir untuk mempersiapkan penanganan apa yang akan diberikan pada Mega dalam bidang medis. Akan tetapi, justru Aku yang berfikir seperti-nya memang harus bersiap – siap untuk merelakana Mega.
Pasalnya, hasi lab akan perkembangan kondisi Mega menyatakan kalau penyakit kanker payudara yang sudah di tahap stadium akhir, sel kanker tersebut sudah menjalan kebagian tubuh lain. Bahkan, sel kanker yang sangat berbahaya tersebut menjalar ke bagian atau organ tubuh yang tidak main – main, yaitu pada bagian sumsum tulang belakang.
Sumbung tulang belakang yang menjadi salah satu bagian penting pada anggota tubuh sebagai penyalur hampir seluruh saraf keseluruh tubuh, pun dibuat tak berdaya oleh sel kanker yang secara medis membuktikan mendapati penanganan yang sangat amat terlambat.
Mengingat hal tersebut, tak henti – hentinya Aku membodoh – bodohi diri-ku sendiri. Usai dari lab dan berjalan menyusuri lorong sembari membaca hasil hasil lab untuk mengarah kembali menuju ruangan Mega, pun dengan terpaksa langkah kaki-ku harus terhenti sejanak.
Langkah kaki-ku yang terhenti sejenak, sekaligus punggung yang sudah terasa sangat amat berat memikul penyesalan itu pun tersandar pada bangku yang tersedia di setiap lorong rumah sakit.
“Dug.. dugg.. dugg.” Suara kepala-ku sendiri yang ku-benturkan dengan sengaja. “Ya Tuhan.., Belum lama hamba merasakan kebahagiaan yang sangat hamba impi – impikan selama ini. Tapi mengapa engkau mengambil-nya dengan begitu cepat!” Ucap tak berdaya-ku dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipi-ku.
Aku memang bukan Tuhan, dan memang juga bukan tugas-ku untuk menentukan siapa yang akan mati atau siapa yang akan bertahan hidup dan berhasil melewati setiap orang yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Akan tetapi, berkat ilmu pengetahuan yang ku-ketahui, setidaknya Aku mengetahui kalau umur Mega tidaklah akan lama.
Karena selain kanker payudara stadium akhir yang sedang di lawan, pun sumsum tulang belakang-nya sudahlah rusak karena sel kanker yang telah menjalar lebih luas. Mungkin jikalau Allah berkehendak untuk menyelamatkan Mega dari penyakit-nya, berkemungkinan besar Mega melanjutkan hidup dalam keadaan fisik yang lumpuh.
Aku sangat bahagia jikalau Mega bisa bertahan hidup lebih lama, akan tetapi, tak sanggup juga Aku melihat-nya yang justru semakin menderita karena mengalami kelumpuhan. Alih – alih membuat-ku bahagia, justru hal itu semakin membuat-ku tersiksa karena harus melihat orang yang sangat amat ku-cintai terbatas ruang gerak-nya.
“Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya harus ku-lakukan jikalau seperti ini?!” Tanya-ku pada Sang Pencipta dengan deruh air mata di tempat yang memang penuh derita.
Aku yang telah merasa sangat berputus asa pada saat itu, sekaligus bertanya pada Tuhan lewat lubuh hati-ku yang terdalam, Allah langsung memberikan jawaban atas tanya-ku.
Waktu yang tak terasa pada hari itu bagi-ku, pun juga di tandai oleh suara adzan yang telah dikumdangkan.
“Allahuakbar, Allahuakbar!” Suara Adzan yang berkumdangan, menjadi jawaban jelas dari Sang Pencipta yang maha memberikan petunjuk.
Aku yang merasa telah cukup lama tak mengadu pada Tuhan-ku, Allah Subhanahu Wattaa’la, pun segera bergeas menuju masjid yang berada di dekat rumah sakit.
Dengan wajah malu-ku yang tak berani menatap langit dengan tonggakkan kepala sombong, pun hanya ku arah-kan pada tempat yang memang setara dengan derajat-ku, Tanah!.
Bagaimana Aku tidak merasa malu pada-Nya, sedangkan saat Aku senang akan nikmat atau kesuksesan-ku yang diberikan-Nya, Aku tak pernah mengunjungi-Nya. Namun, disaat Aku sedang terpuruk, sedih, menangis, dan mungkin dapat dikatakan hampir setengah gila, barulah Aku sadar. Aku sadar untuk mengadu pada tempat sebaik – baiknya mengadu, yaitu Allah SWT.
Aku yang berjalan menuju rumah Allah, pun dengan banyak orang – orang dan sebagian besar pekerja rumah sakit, pun memanggil-ku dengan sebuta, Dokter. Yabenar, Aku memanglah seorang dokter hebat dengan kesuksesan yang memang tidak hanya Aku saja yang mengakuinya. Akan tetapi, pada saat itu Aku benar – benar tersadar, bahwasanya derajat-ku di mata Tuhan tidaklah lebih tinggi sedikitpun, atau bahkan hampir menyamai seorang marbot masjid yang mungkin dipandang tak berpendidikan.
Yabenar, seorang marbot masjid yang memang terlihat tak berpendidikan secara formal seperti-ku. Tapi justru setelah ku-sadari, Ia jauh lebih pendidikan dan mempunyai Guru dari segala macam guru yang ilmu-nya diluar akal sehat manusia, yaitu Allah SWT.
Saat sampainya di masjid sekitar rumah sakit tempat Aku bekerja sebagai seorang dokter, pun Aku sholat dengan fikiran yang masihlah belum khusyuk, karena tak dapat kupungkiri fikiran-ku tak bisa terlepas pada keadaan Mega. Tapi Aku percaya akan niat-ku yang benar – benar merasa bersalah pada Allah karena setelah sekian lama Ia memberi-ku kenikmatan, Aku justru tak pernah berterimakasih pada-Nya.
Usai sholat Aku pun berdo’a dengan rintihan tangis yang memang tak bisa kubendung. Aku curahkan segala keresahan, kegundahan, kesedihan, beban hidup pada tempat yang sebaik – baiknya menjadi tempat mengadu.
Aku yang berdoa di dalam masjid pada saat itu, pun tak bisa membohingi salah seorang yang tiba – tiba mendatangi-ku dan berkata, “Mohon maaf Pak sebelumnya, saya lihat seperti Bapak dalam keadaan yang sangat amat berat.” Ucap orang yang tak ku-kenali itu dengan sangat amat lembut dan penuh sopan santun pada-ku.
Aku yang benar – benar tak mengenal siapa orang tersebut yang tiba – tiba datang saat Aku sedang merenung, pun membuat-ku harus bertanya siapakah diri-nya. “Mohon maaf juga Pak sebelumnya, Bapak siapa?” Terus-ku, Apakah kita sebelumnya pernah saling kenal?” Tanya-ku dengan nada yang lembut pula.
“Saya sangat amat mengenal Bapak, tapi saya yakin juga kalau Bapak tak mengenal saya.” Lanjut-nya yang mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri-nya pada-ku sembari kami sedang terduduk. “Nama saya Darmo, saya sudah 10 tahun menjadi Marbot di masjid yang juga punya rumah sakit tempat Bapak bekerja. Nama Bapak Dokter Rangga kan?” Jelas-nya yang juga menyebut nama-ku.
Aku yang mendengar bahwa Ia adalah seorang marbot di masjid yang juga memang dikelola oleh rumah sakit tempat-ku bekerja menjadi seorang dokter, pun membuat hati-ku langsung tergetar seraya hati kecil-ku berkata, “Subhanallah, ini Dia orang yang derajat-nya di mata Allah lebih mulai jika dibandingkan dengan diri-ku.”
Aku pun langsung mengambil paksa tangan Bapak tersebut, bukan untuk berkenalan kembali melainkan untuk mencium tangan-nya. Karena memang, selain alasan yang ku-katakan tadi, diri-nya pun memang terlihat memiliki umur yang jauh lebih tua jika dibandingkan dengan-ku.
“Sebenarnya masalah apa yang sedang Bapak hadapi sampai saat saya lihat Bapak, tergerak hati saya untuk mendatangi Bapak.” Tanya Ia kembali dengan suara yang sangat amat lemah lembut pada pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh-ku.
Aku pun terdiam sejenak dan menundukkan kepala saat hendak menjawab pertanyaan-nya tersebut.
“Saya malu Pak.” Ucap-ku.
Mendengar jawaban-ku, Pak Darmo pun heran dan bingung. “Malu?, Maksud Bapak malu apa Pak?” Tanya Ia kembali.
“Saya malu pada Bapak.” Jawab-ku.
“Kenapa malu Pak? Saya saja bingung harus malu atau senang karena bisa berbicara secara langsung pada seorang dokter. Padahal saya ini kan hanya seorang marbot, hehehehe.” Jelas-nya.
Aku yang mendengar jawaban Pak Darmo, seolah ada bawang yang sangat amat pedas rasanya ditempelkan pada mata-ku, dan tak tahan membuat-ku menangis.
“Juttru itu Pak, saya yang diberikan nikmat dan kesuksesan sebagai seorang dokter, tapi saya lupa sama Allah. Sedangkan Bapak, Bapak yang hanya seorang penjaga masjid selalu dekat pada Tuhan.” Sambung-ku, “Mungkin juga saya juga tak akan datang ke rumah Allah yang suci ini jikalau tak ada masalah dalam hidup saya Pak.” Ungkap-ku dengan mulai berani mengangkat kepala, menatap ke arah mata-nya dengan pipi yang basah.
“Alhamdulillah.” Ucap Pak Darmo seketika.
Aku pun terkaget mendengar ucapan Pak Darmo yang mengatakan, “Alhamdulillah.” Karena pada saat itu keadaan-ku sedang benar – benar merasa terpuruk. Namun, baru saja Aku ingin bertanya pada beliau dengan alasan apa Ia justru mengucapkan Alhamdulillah, pun Pak Darmo dengan cepat langsung melanjutkan perkataan-nya.
“Mak?” terputus ucapan-ku.
“Alhamdulillah karena itu tandanya Allah sayang dan rindu akan suara dan Do’a-mu!” Ujar-nya yang seketika membuat-ku terdiam.