Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #33

Kursi Roda yang terbujuk rayu.

Mega yang bicara-nya sudah melantur jauh, pun berusaha Aku membuat tenang diri-ku sendiri. Walaupun Aku tahu kanker payudara yang sedang mendekam dalam tubuh-nya, pun sudah menjalar ke bagian tubuh penting. Hal tersebut memang sangat membuat-ku terpuruk, sedih, dan juga benar – benar merasa tak akan sanggup menjalani hidup.

Akan tetapi, Aku berusaha meyakinkan kalau semua akan baik – baik saja setelah ini. Setelah Aku yang akan melakukan tindak operasi pada Mega yang sudah mulai menyerah melawan sakit-nya sendiri. Dengan rasa percaya diri-ku yang sangat tinggi, pun juga dengan cinta-ku yang begitu kuat dengan-nya, Aku pun berusaha tegar dan mengatakan, “Sayang, selalu ada jalan menuju Roma!” Ucap-ku dengan sisa isak tangis.

Lanjut-ku sembari mencium tangan Mega yang tergenggam erat oleh-ku, “Aku sudah melihat hasil dari kondisi kamu, dan secepatnya akan dilakukan tindak operasi.” Sambung-ku, “Dan yang akan melakaukan tindak operasi pada-mu, itu adalah Aku sendiri, Dokter Rangga yang sangat tampan ini!, Hehehehe.” Jelas-ku dengan tawa kecil yang sangat terpaksa.

Tidak ada lagi yang bisa Aku tutup – tutupi dari Mega, sedangkan Ia sendirilah yang memiliki rahasia tersebut dari-ku. Berusaha menutup rapat – rapat rahasia yang padahal, atau mungkin jikalau Aku ketahui akan berbeda keadaan yang sekarang terjadi.

Alasan atas apa Mega tidak mau memberitahu-ku secara langsung secara empat mata, pun sudah ku-ketahui dari Ibu mertua-ku. Akan tetapi, apalah arti jikalau nasi sudah menjadi bubur?. Tidak akan bisa kembali menjadi butiran nasi utuh yang kenyal dan nikmat untuk di makan.

Akan tetapi, nasi yang sudah menjadi cair hampir sama seperti air, pun tidak kalah enak untuk disantap jikalau kita bisa memperbaiki kesalahan tersebut, dan berusaha membuatnya menjadi enak.

Nasi yang telah menjadi bubur itupun, mungkin bisa ditambahkan dengan sedikit bumbu ke-ikhlasan, dan juga dengan beberapa kerenyahan tawa walaupun itu terpaksa. Atau mungkin, juga bisa ditambahka dengan beberapa potongan daging yang sebenarnya belum terlalu matang untuk ditaburi bumbu ke-ikhlasan walau barang hanya sedikit saja.

“Karena Aku percaya, tidak ada kata akhir yang benar – benar mutlak untuk bisa dijadikan penghujung dan alasan klasik walau dengan dalih berhenti sejenak.”

Aku yang sedang dalam perasaan sedih, begitupun Aku yakinkan dengan Mega yang walaupun saat itu berusaha dengan kuat melawan penyakit-nya, Erin pun masuk. Dengan pipi-ku dan juga Mega yang memang jelas terlihat basah, pun membuat Erin bertanya – tanya dan sedikit kaget saat itu.

“Mega? Lo kenapa nangis?” Terus Erin yang bertanya pada-ku, “Rangga?, Mega kenapa?” Tanya Erin.

Aku yang sedang berusaha membasuh air mata yang membasahi pipi-ku saat itu, pun membuat Mega yang terlebih dulu menjawab pertanyaan Erin atas apa yang Ia lihat. “Gapapa kok Rin.” Jawab Mega yang juga sembari membasuh air mata-nya.

Setelah menjawab pertanyaan Erina karena melihat Mega menangis, pun Mega bertanya pada-ku. “Ohiyaa sayang.” Tutur Mega memanggil-ku.

“Iyaa kenapa?” Balas-ku.

“Boleh kan kalo Aku minta di temein jalan – jalan sama Erin disekitaran rumah sakit?” Tanya Mega.

“Bukannya gaboleh sayang, tapikan kamu baru aja sadar, dan badan kamu pasti masih lemes banget kan?” Jelas-ku sembari membelai rambut Mega.

“Bentar aja sayang, Aku juga kan stress kalo dikamar terus. Nanti yang ada Aku ga sehat – sehat gimana?” Lanjut Mega yang coba merayu-ku, “Boleh yaa Pak Dokter Rangga yang paling ganteng, hehehehe.” Ucap Mega yang merayu-ku dengan sedikit ejekan.

“Hemmm.. Gimana ya?” Gumam-ku yang dalam keadaan bingung.

Lihat selengkapnya