Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #34

Kembali bercerita, walau tak bersama.

Hari – hari berlalu dengan sebisa mungkin usaha yang ku-berikan untuk kebahagiaan Mega disaat – saat terkahir yang juga masih di ambang takdir. Karena, Aku yang juga melihat kondisi Mega membuat perasaan ini takut, yaitu takut ditinggal oleh diri-nya untuk selama – lamanya. Sekaligus juga, Aku yang masih sangat percaya diri akan profesi yang ku-jalani. Dan Aku yang sendiri akan melakukan tindak operasi pada Mega, pun semakin dibuat percaya diri pada aku yang tak pernah gagal barang hanya satu kalipun.

Rasa percaya diri dan juga rasa ketakutan yang tak kalah dalam, pun saling bersinggungan dalam fikiran dan hati-ku saat hari Aku akan melakukan tindak operasi pada Mega semakin dekat. Karena Aku dan beberapa dokter ahli di rumah sakit, pun telah memutuskan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan operasi pada Mega, yang tentu juga berdasarkan hasil laboratorium.

Dan hal yang ku-lakukan sebelum operasi, tentu saja Aku tak lupa untuk datang ke tempat peristirahatan terakhir Biky. Bukan untuk meminta izin atau apapun, tapi hanya saja Aku yang sedang menghadapi masa – masa sulit, membutuhkan teman untuk bercerita saat itu.

Biky memang sudahlah tak ada dunia ini bersama-mu, namun perasaan-nya selalu melekat dan bahkan sudah mendarah daging dengan-ku. Walaupun memang kami bersahabat dalam waktu yang tidak lama, tapi waktu – waktu itu sangatlah berharga dan tak akan pernah ku-lupakan seumur hidup-ku, sampai kapanpun itu.

* * *

Pagi hari dengan langit yang tak begitu cerah, mungkin juga sebagai penanda kesedihan sang langit, karena salah seorang bidadari mereka telah jatuh sakit, yaitu Mega.           Pagi hari dengan langit yang sedikit bergradasi warna kelam sama seperti perasaan-ku saat itu, pun Aku pergi menuju pemakaman Biky.

Dan waktu itu, ialah waktu dimana saat sore hari-nya Aku harus melakukan tindakan operasi pada Mega. Jadi, hal itulah yang membuat-ku untuk menyempatkan diri pergi ke rumah terakhir Biky.

Kepala yang tertunduk sekaligus wajah yang lusuh, pun sebenarnya tak enak hati Aku bawa ke hadapan Biky saat itu. Karena Aku juga tak ingin membuat Biky sedih pada diri-nya yang sudah tenang di sisi Allah SWT. Namun, Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari rasa sedih.

Lagipula, tidak ada larangan atau aturan yang mengatakan bahwa orang dewasa tak boleh merasa sedih atau bahkan sampai menangis bukan?. Dan tidak ada juga larangan yang mengatakan, “Kalau seorang dokter tak boleh takut pada sang istri yang sedang sakit!”

Karena memang, tak ada dasar yang menjelaskan kalau seorang dokter tak boleh takut apabila ada kerabat atau orang tercinta yang sedang menderita sakit, karena orang tersebut adalah seorang dokter. Seorang dokter yang sudah jelas berprofesi sebagai penyembuh atau mengobati para orang – orang yang sedang sakit. Kalau orang lain saja mereka obati, apalagi kerabat ataupun orang tercinta, sudah pasti di usahakan.

Tapi yang harus orang – orang catat ialah, kami yang berprofesi menjadi seorang dokter, tidaklah pernah membeda – bedakan orang sakit satu dengan orang lain, sekalipun itu adalah keluarga kami sendiri. Kami sebagai dokter pun sama – sama mengusahakan dan juga mengupayakan yang terbaik untuk setiap pasien yang membutuhkan pertolongan dan bantuan dari kami.

Akan tetapi, kalian juga harus ingat, kalau dokter bukanlah Tuhan yang dapat menentukan segala hal, dan menjamin kesembuhan mutlak pada setiap pasien yang sedang sakit.

Dan entah mengapa, walaupun Aku yang memang tak pernah gagal sepanjang karir-ku dalam dunia ke-dokteran, terkhususnya dalam bidang dokter bedah, pun masih merasa takut. Aku pun tetap masih merasa takut pada setiap tindakan sebelum – sebelumnya dari setiap orang yang berbeda pula.

Tentu saja, ketakutan itu hadir kembali dengan berkali – kali lipat dari sebelumnya saat Aku yang akan melalukan tindak operasi pada Mega. Aku tidak ingin merasa sombong dan mengatakan, “Aku tak pernah gagal dalam hal ini, dan Aku yakin pasti Mega akan selamat!”. Tidak bisa!.

Tapi Aku pun juga tak ingin gagal dalam hal ini, karena jikalau Aku gagal, tidak hanya Aku merasa gagal menjadi seorang dokter. Akan tetapi, Aku juga merasa gagal menjadi seorang suami dari Mega. Walaupun Aku tahu, takdir seseorang berada di tangan sang pemilik jiwa itu sendiri, yaitu Allah SWT. Namun tetap saja itu akan menjadi pukulan keras untuk diri-ku sendiri. Dan sebisa mungkin, Aku mengusahakan sebagaimana Mega bisa terselematkan dari penyakit berat yang sedang Ia derita. Atau setidaknya, Mega bisa bertahan hidup lebih lama dari perkiraan hasil lab, akan sel kanker yang telah menjalar dibagian dalam tubuh-nya.

Aku pun berada tepat, di atas tempat dimana Biky sedang beristirahat dengan tenang. Dengan kepala tertunduk dan tubuh yang terduduk, pun Aku tak lupa untuk mengucap sallam pada-nya. “Assalamulaikum Bik.” Ucap-ku.

“Bik, gua takut, gua bingung Bik.”

“Gua gatau berapa lama lagi Mega bisa gua jaga. Dan gua juga gatau kapan giliran lu yang jagain Mega Bik.” Terus-ku, “Ternyata dari dulu Mega udah mengidap penyakit serius Bik, bahkan jauh sebelum Gua sukses jadi dokter.” Jelas-ku.

Lihat selengkapnya