Seperti bukan Manusia

Rizky Ade Putra
Chapter #35

Mamah sudah sangat puas untuk makan sayang.

Keadaan yang sangat menegangkan dalam hidup-ku pun dimulai saat itu. Keadaan yang memang selalu membuat-ku tegang disetiap melakukan tindak operasi, pun lebih berbeda rasanya saat itu. Terlebih lagi, raga yang ku-bedah ialah tubuh dari istri-ku sendiri, orang yang sangat amat ku-cintai.

“Tiit.. tiit.. tiit..!!” Suara alat monitor dan saturasi pun menjadi sebuah ketakutan untuk diri-ku sendiri. Sebuah alat yang memberitahu apakah arwah Mega masih berada di dunia atau tidak, selalu menjadi alat yang cukup mengganggu bagi-ku.

Sayatan demi sayatan secara perlahan ku-goreskan pada tubuh Mega. Aku memang seorang dokter, dan tindakan operasi bukanlah menjadi hal yang mengagetkan untuk-ku. Ya benar, sudah biasa Aku lakukan dan tentu saja Aku akan melakukan-nya dengan semaksimal mungkin.

Aku yang sedang melakukan tindak operasi pada Mega, pun di fikiran ini juga dibenturkan pada apa yang sebelumnya belum pernah ku-rasakan. Saat Aku sedang meng-operasi tubuh Mega, pun Aku tahu apa yang dirasakan oleh orang – orang lain disaat salah satu sanak saudara yang sangat amat mereka cintai sedang menjalani tindak operasi.

“Takut!, Cemas!, Khawatir!” Sekaligus juga dengan fikiran negatif dan positif saling berbenturan antar keduanya. Dan hal tersebut sangatlah amat mengganggu-ku saat sedang menjalani tindak operasi pada Mega.

Akan tetapi, apa yang harus Aku lakukan selain mencoba memaksa fikiran-ku agar terlebih dulu untuk foku melakukan tindak operasi pada Mega agar tidak ada kesalahan. Mungkin para orang – orang yang sedang menunggu hasil dari tindak operasi pada sanak keluarga mereka yang sedang menjalankan cemas, tak tenang, tak ingin melakukan apapun dan tak menginginkan apapun. Selain, ingin mendapat kabar gembira dari sang dokter pada tindak operasi yang di jalankan.

Yabenar!, mereka mungkin sangat cemas, takut, gusar dan teramat sangat gelisah. Akan tetapi, mereka hanya bisa menunggu dengan terduduk yang tak manis, atau juga dengan berjalan seperti setrikaan baju yang hanya melawan arah dari arah yang sebelumnya secara berulang – ulang kali.

Sedangkan Aku?, Aku sedang sibuk berperang dengan tangan yang gemetar!, jiwa yang takut!, sekaligus telinga yang risih karena suara dari alat monitor dan saturasi. Yang padahal, Aku harapkan juga Ia jangan merubah suara rintik jeda-nya, menjadi dengungan panjang yang akan selalu tersimpan dalam ingatan pahit-ku.

Keringat-ku menetes dengan deras, dan bahkan lebih deras dari keringat seseorang yang sedang berlari maraton. Mata-ku harus lebih terjaga dari pada seorang security yang sedang menjaga uang miliaran di Bank. Sekaligus, jantung-ku berdebar lebih keras dari jantung seorang prajurit perang yang sedang di ambang kematian!. Itu-lah yang seorang dokter rasakan disaat sedang melakukan tindak operasi pada seorang pasien, dengan harapan dari ribuan orang yang melekat di pundak-nya.

* * *

Jarum jam yang tak paling panjang, namun tak juga yang paling pendek pun telah melewati 3 angkat sejak saat Aku memulai tindak operasi pada Mega. Aku pun harus memberikan kabar kepada keluarga, dan sanak saudara yang telah menunggu-ku selama itu.

Lihat selengkapnya