Yang aku lihat dari buku-buku cerita sih, mereka jelasin suasananya gimana, atmosfer, sama banyak hal lagi pas nulis, ya?
Oke… Ku coba.
Karena ini pertama kalinya juga aku lakuin hal kayak gini.
Matahari sudah menghinggapi kota itu,
Dengan kedua sayapku, sinar matahari menyengat lebih panas dari orang-orang pada umumnya.
langkahku sudah berjalan sangat jauh dari rumah Azat.
Sesekali aku masih menoleh ke belakang, menatap ke setiap warga yang satu jalur dengan kita berdua.
Namun… Bukan itu yang aku perhatikan.
Mungkin aku cuma berharap kalo dia bakal ikut denganku.
Walau itu ga mungkin, kan?
Tatapanku kembali berpindah ke tanganku sendiri.
Pals berada disana. pemberian Azat sebelum aku memutuskan untuk pergi lagi.
“Kalau boleh tau, nona Sera. Kemana tujuan anda sekarang?” tanya Kaizo yang berjalan di kanannya.
Sebelum menjawab, Aku menolehkan kepalaku terlebih dulu. “Itu, aku nyari orang yang udah lama ga ada.”
Satu tanganku terangkat dengan telunjuk yang mengarah ke Kaizo, hanya untuk memastikan kalo dia ga bakal mikir yang aneh-aneh.
“Bukan berarti dia meninggal loh, dia udah lama hilang.”
Kaizo terlihat menurunkan dan menaikkan kepalanya dengan halus.
“Aku paham, jadi dia itu semacam teman terbaikmu? Atau… Lebih dari itu?”
Aku menyisir rambutku yang menutupi telinga ke belakang.
Bukan apa-apa, hanya bingung ingin mengatakan apa.
“Kalo di tengah dari dua itu aja boleh ga sih?”
Setelah kita berdua berjalan cukup jauh, dan… Ga tau sudah sampai mana.
Aku melihat sebuah halte bis yang tidak jauh lagi.
“Kaizo, kita istirahat disitu bentar gimana? Dah jalan jauh loh ini.”
“Tidak masalah, nona Sera,” jawabnya dengan lembut.
Tatapanku berubah datar.
“Plis pake namaku aja, tanpa nona.”
Entah sudah berapa kali ia memanggilku seperti itu. Bahkan sampai sekarang ini, kadang dia masih seperti itu.
Saat kita sudah berada di halte, Aku dan Kaizo memutuskan untuk duduk sebentar di kursi yang ada disana. Dengan Pals yang aku letakkan di tengah kita berdua.
Aku mengangkat sayap sebelah kananku, lalu ku kibaskan dekat dengan wajahku, hanya untuk mendinginkan suhu tubuh.
“Nona Ser- Maksudku, Sera. Boleh aku menanyakan beberapa hal?” celetuk Kaizo.
Aku menoleh ke arahnya dengan anggukan pelan.
“Boleh, tanya aja.”
“Apa sayapmu itu bisa dipakai terbang?” tanyanya dengan raut wajah yang terlihat polos.