Hai~, ketemu lagi.
Aku sempet baca-baca lagi soal cara beginian.
Biar ga salah, kan?
Kaizo disini juga sempet kasih aku saran pas baru selesai nulis bagian pertama.
Katanya aku ga boleh ngelakuin komentar kayak pas pertama kali aku nulis.
Biar karakter atau aku di masa lalu bisa jalan tanpa bikin yang baca atau kamu pusing.
Ya… yaudah deh, tapi yang namanya kebiasaan bakal susah sih hilangin.
Basa-basi terus, udah setengah lembar nih.
—
Matahari semakin turun kebawah, langit biru yang terlihat indah kini mengganti warnanya menjadi Oranye dengan sedikit merah jambu di ujung barat.
Burung-burung di atas juga berterbangan ke arah mereka masing-masing.
Mungkin ke sarang mereka, siapa yang tau?
Kami berdua menyempatkan diri untuk mampir ke alun-alun di kota ini untuk terakhir kalinya.
walau… Aku sendiri kesini baru sekali sih, dulu.
Kami melihat isi di dalamnya, dan… Ternyata tanah kosong bisa mereka hias menjadi sangat cantik.
Rerumputan yang rata tanpa ada yang lebih tinggi. Bagai lapangan golf.
Saat semakin gelap juga lampu-lampu di dalam menyala secara serentak yang langsung menerangi alun-alun.
Sia-sia banget dulu aku dirumahmu terus, giliran kesini pas jemput kamu gara-gara situ main hujan.
Aku mengajak Kaizo untuk masuk kedalam, sekedar beristirahat sekaligus ngeliat kota ini terakhir kali sebelum pergi jauh.
Seperti orang atau remaja pada umumnya.
Kami mengobrol santai, menanyakan Pals hal aneh, dan lainnya.
Yang ini ga usah dijelasin, ya? Bakal panjang nanti.
Saat matahari telah meninggalkan langit di kota ini. Kita berdua berjalan keluar dari alun-alun.
Saat berada diluar. Aku mengangkat tanganku yang memegang Pals.
“Pals, kasih tau dimana tempat Azrel, boleh gak?”
Pals menatap diriku dengan senyum polos yang sama.
“Tentu, lokasi dia sekarang ada di —. Ada kemungkinan dia akan pergi lagi.”
Aku ingat jelas apa yang Pals bilang sama apa yang aku jawab nanti. tapi gatau kenapa nama tempatnya malah ilang di kepalaku.
“Kapan dia pergi, Pals?” tanyaku.
“Jangan tanya aku, dia punya kehendak sendiri,” elak Pals yang katanya si paling tau.
Aku menatapnya datar.
Gimana engga? Katanya tahu segalanya.
Tatapanku berpindah ke Kaizo di belakang, lalu mengibaskan satu sayapku ke depanku sendiri.
“Kaizo, ayo, jalan lagi.”
Kaizo membungkukkan tubuhnya sedikit, seperti pengawal kerajaan saat diberi perintah.
Kita memulai perjalanan kembali, dengan kali ini giliran suasana malam yang tenang dan sunyi menemani kita.
Mobil dan motor masih saling lewat di jalanan.
Juga berpapasan dengan beberapa orang dengan pakaian rapi dan tas yang dibawa dengan satu tangan.
Kaizo berjalan di sampingku, dan ia sempat memberi sedikit keluhan.
“Sera, apa kita tidak makan? Untuk Mengumpulkan energi.”
Aku menoleh ke arahnya, sambil menggelengkan kepala.
“Kita kan tadi udah makan di alun-alun, kamu masih laper?”
Kaizo tidak menjawab pertanyaanku.
Ia sempat menggaruk bulu di kepalanya dengan pelan sambil menoleh ke jalanan.
Sepertinya ada kalimat yang ingin diucapkan namun tertahan.