Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #4

[Hari Pertama] Bagian Ketiga

Satu lagi bagian, abis itu kita ke hari kedua perjalananku, yey.

Gausah basa-basi lagi lah ya, biar hemat lembaran.

Aku bakal… Agak benci, sama bagian ini.


—


Setiap Kaizo berjalan selangkah demi selangkah. Aku ikut memundurkan langkah satu demi satu.

Dia maju semakin cepat. Dan aku mundur semakin cepat juga.


Aku membentangkan kedua sayapku. Untuk mengintimidasi Kaizo, dengan satu tanganku terangkat ke arahnya.

“Kai-Kaizo. Jangan buat aneh-aneh, kita ga bisa nyari bantuan disini.”


Kaizo tetap melangkah semakin dekat denganku tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Erangan tipis masih keluar darinya.


Perlahan kepala kaizo terangkat kembali. Tapi kali ini…

Tanpa peringatan apapun. Ia melompat tinggi ke udara.


Aku mengepakkan kedua sayap dengan cepat, yang membuatku terhempas ke belakang.

Dan tepat setelah itu, Kaizo mendarat keras ke aspal jalan, dengan seluruh tubuhnya membungkuk bagai rubah sungguhan.


Kedua cakarnya mencengkeram tanah dengan sangat kuat.

Retakan kecil terukir di aspal.

Tangan Kaizo terangkat kembali ke atas, dengan tubuhnya kembali berdiri tegak.

Dia hanya berdiri diam, dengan sorot mata yang tertuju ke mataku.


Aku membalikkan badan, dan tanpa berpikir panjang langsung berlari pergi meninggalkannya.

Atau setidaknya mencari tempat untuk bersembunyi.


Tapi… Baru beberapa meter aku berjalan. Sebuah hembusan angin menghembus kencang di belakang punggungku.


Saat hembusan itu berakhir… Ternyata Kaizo sudah tepat di depanku.

Sangat dekat. Jarak kita hanya sekitar satu langkah.

Kaizo membuka lebar tangannya, dan mengarahkan ke depan dengan sangat cepat.

…

Tangannya mencengkeram erat leherku. Aku tidak sempat bereaksi apapun di sana. Semua terjadi begitu cepat…


Kaizo masih mengeluarkan suara erangan khas dari mahkluk yang sudah kelaparan.

Tangannya yang mencengkram leherku semakin erat seiring detik berlalu.


Ia mengangkat tangannya, dan aku yang terjebak juga ikut terangkat.

Seberapa besar sebenarnya kekuatan orang ini…


Aku menjatuhkan Pals yang tadinya ada di genggamanku.

Merintih kesakitan dengan nafas yang mulai terjebak di leherku.

Sesekali aku memanggil namanya, berusaha untuk membuatnya sadar.

Tapi sama saja… Kesadarannya sudah terampas oleh insting liarnya.


Dalam rasa panik, aku mengangkat kedua tanganku, kemudian memegang tangan Kaizo yang mencengkeram erat bagian leherku.

Aku mendorong tangannya beberapa kali.


Bahkan dengan seluruh tenaga ku saat itu… Sama saja.

Ia tidak menunjukkan reaksi keberatan sedikitpun. Bahkan tangannya juga masih tetap erat.


“K-Kaizo… Lepas…” rintihku dengan suara yang sudah mulai pecah.


Kaizo tidak memberi tanda ingin merespons.

Tatapannya tetap saja tajam ke arahku. Bahkan tangannya semakin erat.

Leherku terasa semakin tertekan, aku sampai bisa mendengar suara tangannya yang menahan lebih kencang.


Pandangan sekitar menjadi buram, semakin lama… Semakin gelap.

Aku mengira… Mungkin itu akhir dari riwayatku.


…

Saat pandanganku mulai gelap… Aku mendengar suara dari pantulan bola yang memantul berkali-kali.


Aku dengan lemas membuka mataku, melihat Pals dengan susah payah memantulkan dirinya sendiri ke wajah Kaizo.


Kaizo melirik ke bawah.

Lihat selengkapnya