Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #6

[Hari Kedua] Bagian Kedua

Basa basi ga nih? Ga usah lah ya, biar kamu nyaman baca ceritaku.

Asek.


—


Selama aku menyusuri gang di perumahan itu.

Tidak ada apa-apa selain warga dan aktivitas mereka.

Petunjuk, nol.

Tanda Azrel dan wajah yang familia juga nol.


Sampai langkahku tiba di ujung gang perumahan ini.

Mataku menangkap Kaizo yang tengah duduk di pinggiran pilar gang itu.


Matahari semakin naik ke atas, dan sinarnya yang menyengat tubuhku semakin panas.

Setetes keringat mengucur di keningku.


Rasanya ingin sekali melepas hoodie ini, tapi mau gimana? Sayapku bakal narik perhatian warga disini.


Langkahku keluar juga dari gang itu.

Kaizo bangkit dari tempatnya duduk.

“Apa kamu menemukan sesuatu?”


Aku menarik nafas panjang, menyandarkan tubuhku di pilar batu.

“Belum, nol besar hasilnya.”


“Apa kamu ingin istirahat dulu sebentar? Sebelum kita melanjutkan perjalanan lagi,” tawar Kaizo.


Aku menegakkan tubuhku, dan menyeka keringat yang ada menempel di kening.

“Langsung jalan aja.”


Kami menempuh jalan di pinggiran lagi.

Melewati toko lagi, melewati bangunan lagi dan orang-orang lagi.

Rasanya tanpa Pals yang berada di sisi kami… Semua yang aku lakukan hanyalah berjalan buta.


Aku sempat melirik ke belakangku.

Beberapa orang berjalan bersama kita berdua.

Tatapanku kembali lurus ke depan.


Beberapa pejalan kaki mendahului kita berdua satu persatu.

Tidak ada yang aneh memang.

Tapi… Aku kembali melirik ke belakang, dan ada satu orang lagi yang masih berjalan bersama kami, dengan langkah yang sepertinya seirama.


Mungkin kamu mengira kalau dia hanya pejalan kaki biasa.

Tapi… Aku belum menyebut ciri dari orang itu.


Ia mengenakan hoodie.

Hoodie yang sama seperti yang kulihat di lapangan tadi.

Rambutnya cukup rapi, dengan celana panjang berwarna biru gelap.


Aku mengira itu hanya kebetulan. Mungkin orang berbeda dengan pakaian yang sama.

Sorot mataku lurus kedepan lagi.


Sinar dari matahari diatas rasanya lebih menyengat dari sebelumnya.

Setiap kali kakiku bergerak ke depan rasanya semakin berat dan berat.


Keringat juga masih mengucur. Bahkan sangat deras di keningku.

Rasanya… Pandanganku juga mulai buram dan berputar-putar.


“Sera, kamu baik-baik saja?” tanya Kaizo.


Aku menghentikan langkahku dengan satu tangan yang menyeka keringat.

“Gapapa, cuma… Panas aja.”


Telingaku mengeluarkan suara dengung yang sangat nyaring.

Aku berlutut di aspal, dan satu tangan menahan diriku agar tidak ambruk ke aspal.


Aku mendengar Kaizo yang meneriaki namaku beberapa kali dengan khawatir.

Tapi aku tidak mampu merespons.


“Dia dehidrasi tuh, mending…” ucap seseorang yang entah siapa dan dimana.


Aku tidak seberapa mendengar kalimat selanjutnya.

Mataku akhirnya terpejam, dengan suara dari luar yang memudar sampai menghilang Sepenuhnya.


…

“Sera, bangun, Sera,”


Telingaku mendengar panggilan Kaizo yang berkali-kali menyebut namaku.


Perlahan mataku terbuka, dengan pandangan yang sempat buram sebentar. Sebelum kembali normal lagi.


Kaizo menatapku. Terlihat khawatir dari biasanya.


“Kalo dah bangun gitu kasih dia minum, daripada pingsan lagi nanti,” ucap seseorang.


Aku membelokkan kepalaku sampai melihat figur orang berdiri di samping Kaizo.


Orang yang sama yang mengikutiku dari belakang.

Dan mungkin… Yang menatapku di lapangan tadi.


Kaizo mengulurkan botol minuman dekat ke wajahku, membuat figur orang itu tertutup.

“Sera, ikuti kata tuan yang baik ini, dia yang bantu kita pas kamu berlutut.”


Aku tidak menjawab ucapannya, tanganku meraih botol itu dan meneguknya sedikit demi sedikit.

Sampai air di dalam botol itu habis, aku menghela nafas dengan panjang.


“Harusnya lu minum pelan-pelan, ga secepet itu,” gumam Orang dengan hoodie.

Lihat selengkapnya