Hai, hari ketiga nih. Cepet juga ternyata.
Kalo kamu nanya hari kedua bagian tiganya dimana. Sebenernya ga ada yang menarik sih di sana.
Kita cuma jalan keluar dari kota yang aku lupa namanya, kasih Kaizo makan, sama kita ngobrol santai kayak biasa.
Perjalanan biasa, atau kalo di anime gitu namanya filler.
Udah itu aja, ga ada yang spesial. Makanya aku skip, biar ga ngabisin lembaran buku.
—
Matahari kembali memberikan cahayanya dengan kehidupan warga yang terulang lagi dari nol.
Langkah kita bertiga membawa kami ke sebuah jembatan yang bisa dikatakan… Cukup panjang untuk sekedar jembatan biasa.
Untungnya di pinggir jembatan terdapat jalan khusus untuk para pejalan kaki seperti kita.
Aku sempat melirik ke bawah sebelah kiriku.
Terlihat sungai kecil dengan arusnya yang memisahkan kota ini menjadi dua bagian.
Setelah berjalan cukup jauh, dengan keheningan canggung yang menyertai kita.
Aku sempat menghentikan langkahku di tengah jembatan. Hanya untuk mengambil nafas sebentar.
Siapa tau kejadian yang sama bakal terulang.
Kaizo yang berada di sampingku dan Hugo yang di belakang juga ikut menghentikan kaki mereka.
“Sera, kamu perlu istirahat?” tanya Kaizo.
Aku menatapnya dengan anggukan sekali.
“Iya, bentar aja kok.”
Kita berdua berdiam diri di pinggir, dengan kepalaku yang menghadap ke arah jalan.
Kendaraan berlalu lalang tanpa ada keinginan untuk berhenti ataupun melambat sedikit.
“Sera, apa boleh aku meminta sesuatu?” tanya Kaizo yang sudah berada di dekatku entah dari kapan.
Aku tersentak tipis, dengan kepala yang mengarah ke dia.
“Jangan ngagetin gitu-Minta apa emang?”
“Aku mau berbicara dengan tuan Hugo sebentar, itu saja.”
Tatapanku berubah datar saat mendengar itu, kemudian mengayunkan tangan ke arah belakang Kaizo.
“Cuma gitu make ijin segala, kalo mau ya lakuin aja.”
Kaizo tidak merespons, badannya berbalik kemudian menuju ke Hugo.
Terlihat Hugo yang memperhatikan ke pemandangan di samping kiri dengan… Cukup tajam.
Tatapanku kembali lurus ke jalanan raya, sekaligus melangkah sedikit lebih dekat ke mereka berdua.
Hanya ingin menguping apa yang bakal Kaizo katakan.
“Hugo, Boleh aku menanyakan beberapa hal kepadamu?” tanya Kaizo.
Hugo sempat diam beberapa detik sebelum ia menjawab, “Boleh, tanya apaan emang?”
“Jika tidak keberatan, bisakah kamu beritahu kami. Apa tujuanmu ikut perjalanan kita?”