Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #8

[Hari Ketiga] Bagian Kedua

Sore hari di kota itu.

Matahari yang kehilangan setengah dari wujudnya. Membuat langit biru di atas mendapatkan warna baru yang redup namun tetap terlihat hangat, sebelum nanti akan digantikan dengan gelapnya malam.


Kami bertiga kembali beristirahat di pusat kota ini.

Lebih modern dari yang sebelumnya, dengan pencahayaan yang benar-benar terang seakan ini siang hari.

Aku juga melihat ada beberapa penghuni di kota ini yang tidak sepenuhnya manusia.


Aku juga sempat menanyakan lokasi kota adnem ke Pals.

Dan jawabannya bilang kalau kita masih jauh dari sini.


Sepertinya apa yang Hugo bilang itu ada benarnya.

Lokasi berada dekat dengan pelabuhan.


Kami mendatangi salah satu tempat yang biasanya remaja-remaja sini bilang… Kafe.

Memesan minuman kemudian duduk di luar memperhatikan orang dan kendaraan melakukan aktivitas mereka.


Bagaimana aku dapat uangnya?

Sekali lagi, Hugo membantu kami disini.

Sudah ketiga kalinya.


Setelah beberapa saat, Hugo berjalan keluar dari dalam ruangan, kemudian menghampiri kita berdua.

“Tunggu aja, dah gw pesen.”


Ia menarik kursi, kemudian duduk di sana.

“Lepas aja hoodie lu tuh. Kan lu liat sendiri yang setengah hewan kaga kalian doang.”


Aku mengiyakan permintaan dari Hugo.

Lagian lebih aman juga sekarang.

Untuk melepas hoodie aku menariknya ke atas sampai benar-benar terpisah dari tubuhku.


Udara dingin di sore hari langsung merayap ke kulitku. Membuatku sempat menggigil sebentar.

Kedua sayapku akhirnya kembali ke posisi semula, juga sempat kukepakkan cepat beberapa kali.


“Bener punya sayap kebalik sama di pinggang ternyata. Gw kira bohongan,” gumam Hugo.


Aku sempat menatapnya sebentar dengan senyum canggung.

“Iya, jangan tanya kenapa loh. Udah… Setelan pabrik.”


Hugo mengeluarkan tawa kecil. “Tau kok, tau. Bukan sejenis burung, kan?”


Aku sempat mengangguk sedikit.

“Aku ga bisa terbang tinggi , sama ga bisa lama-lama, nguras tenaga soalnya.” jawabku.


Hugo kemudian menganggukkan kepalanya, tanpa menanyakan lebih jauh lagi.


Tatapan dari Hugo berpindah ke samping.

Tempat Kaizo duduk.

“Kalo lu, gimana? Ada sesuatu yang wah gak?”


Kaizo sempat diam sebelum menjawab pertanyaan itu.

Mungkin memikirkan perkataan atau darimana dia tercipta.


Matanya terpejam, kemudian menjawab, “Kalau kamu menanyakan kelebihan ku apa. Aku lebih baik tidak menjawab, karena itu terlalu mencolok.”


Hugo terkekeh tipis.

“Oke, karena lu salah satu subjek di fasilitas sana, kan?”


Aku menatapnya dengan mengernyit tipis, kemudian menyela sebelum Kaizo sempat menjawabnya, “Bentar, Hugo. Kamu kayaknya tau banyak banget deh, sebenernya tau darimana?”


Hugo kembali menatapku lagi.

Salah satu tangannya bertumpu di meja.

“Gw kan dah bilang, gw nanya bola kuning tuh. Sama gw tertarik ke manusia yang ga sepenuhnya manusia kayak kalian.”


“Yang gw maksud tertarik itu… Gw baca-baca. Dah, misteri selesai ya?” ucapnya untuk kedua kalinya.


Aku tidak menjawab atau menanyakan lagi.

Tapi dari tatapannya, memang terlihat santai dan tenang.


Sorot mataku berpindah ke Pals yang berada di meja.

“Pals, kamu ngasih tau sesuatu ke dia?”


Pals memutar tubuhnya sampai menghadap ke diriku.

“Ya, seperti yang dia bilang, Sera.”


Aku menghembuskan nafas pelan.

“Kamu ngasih tau kebanyakan…”


Perbincangan itu terjadi cukup lama.

Sampai matahari yang awalnya terlihat setengah. Kini hanya seperempat dari wujudnya yang muncul di ujung langit.


Seseorang mendatangi meja kami, dengan membawa sebuah nampan yang mungkin berisi pesanan yang dipesan oleh Hugo.


Orang itu meletakkan tiga gelas minuman dengan lembut di meja, kemudian berjalan pergi meninggalkan kami.

Lihat selengkapnya