Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #9

[Hari Ketiga] Bagian Ketiga

Salah satu penjaga berada di hadapan kami berdua.

Kaizo menghadap ke wajah dari penjaga yang tertutup oleh pelindung.


“Selamat malam, apa ada sesuatu yang menarik perhatian kamu berdua?” ucap penjaga itu dengan nada yang sedikit terdistorsi.


“Kami hanya penasaran dengan apa yang ada di depan. Kami bukan asli dari kota ini, dan ingin melanjutkan perjalanannya,” jawab Kaizo yang terlihat tenang tanpa gerakan spontan.


Penjaga itu tidak langsung menjawab.

Tubuhnya tetap berdiri kaku. Tanpa tanda-tanda ingin bergerak.

“... Sayangnya kami sedang melakukan pencarian, maka dari itu. Jalan keluar dari kota ini harus kami tutup. Untuk memastikan agar pelaku tidak bisa melarikan diri.”


“Jadi kami tidak bisa lewat?” tanya Kaizo.


Tangan dari penjaga itu memegang pelatuk dari senjata yang dibawanya.

“Tidak, untuk beberapa hari kedepan. Maaf atas ketidaknyamanannya.”


…

Sebuah kalimat terlintas ke pikiranku, yang mungkin… Akan membantu mereka untuk mempercepat pencarian.


Aku memutuskan untuk berjalan beberapa langkah, sampai berhenti di samping Kaizo.

“Kalo bapak tau, tepatnya berapa hari?”


Penjaga itu tidak menjawab.

Tangannya kembali diletakkan ke samping kepala, dengan sedikit menunduk.


Tak butuh waktu lama, kepalanya terangkat lagi.

“Kemungkinan tiga hari, jika kami menemukannya lebih cepat. Mungkin satu hari.”


Aku menarik nafas pendek. “Kalo saya bantu, bisakan?”


Penjaga dengan senjata itu terdiam cukup lama.

Suara kekeh yang pelan keluar dari balik helm pelindungnya.

“Ini bukan sesuatu yang bisa dicari dengan mudah dan sembrono, lebih baik kalian kembali ke kota tempat kalian tinggal.”


“Emang yang bapak cari itu apa? Bom? Senjata modern? Atau hewan mitologi?” tanyaku.


Penjaga itu kembali diam sejenak, sebelum sebuah suara keluar dari balik sana, “Seorang spesimen melarikan diri saat kami sempat beristirahat di kota ini.”


“Ah, tidak. Lebih tepatnya kami baru sadar kalau spesimen yang kami tahan sudah melarikan diri saat di kota ini,” ucap Penjaga itu sekali lagi.


Badannya berbalik ke arah para penjaga lainnya di belakang.

“Saran dari saya, lebih baik kalian beristirahat terlebih dulu. Banyak trik licik yang spesimen ini mampu gunakan.”


Ia melangkah pergi menjauhi kita berdua.

“Jangan khawatir dia tidak memiliki niat untuk membunuh. Walau dia punya tujuan…”


…

Kalimat lanjutan dari penjaga itu teredam. Tidak dapat didengar karena langkahnya sendiri yang semakin jauh.


Aku menatap punggung dari penjaga itu, dengan kalimat terakhirnya yang masih berputar di kepalaku.

“... Kamu denger yang terakhir gak, Kai?” tanyaku sambil menatapnya.


Kaizo menatapku balik dengan kepala yang menggeleng.

“Tidak, aku juga tidak mendengarnya.”


Aku menghela nafas tipis.

Mataku menyorot ke tempat para penjaga itu berdiri sekali lagi.


“Kita lebih baik kembali menemui Hugo, Sera,” ucap Kaizo.


“Kenapa? Aku bisa minta Pals buat bantu kita nyari spesimen tuh,” kekehku sambil mengernyit tipis.


“Kamu akan dicurigai. Mereka adalah orang-orang dari fasilitas itu,” balas Kaizo dengan nada lebih berat.


Tanpa sadar aku mengambil nafas dengan sangat cepat, kemudian menoleh ke Kaizo.

“... Maksudnya… Mereka dari MENDA?”

Lihat selengkapnya