Haloha, hari kelima udahan.
Hampir seminggu aja, cepet juga nih.
Buat yang nanya, kemana hari keempatnya, sama kayak bagian ketiga dari hari kedua. Ga ada yang menarik sama sekali.
Kita keluar, jalan-jalan di kota dern, Beli makanan, ngobrol sama Kaizo, gitu aja seharian.
Penjaga di jalur keluar juga masih ngejaga pintu Kayak hari sebelumnya.
Jadi ya… Daripada mirip filler. Mending Skip.
Dah, enjoy hari kelimanya.
—
Sudah dua hari kami terjebak di kota dern.
Dan belum juga ada tanda-tanda para penjaga itu menemukan spesimen yang kabur. Bahkan kota juga terlihat aman saja.
Sekali lagi langit malam yang gelap dengan bintangnya terlukis di langit kota ini.
Aku dengan Hugo dan Kaizo sudah berada di kamar kami sendiri setelah melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh para warga disini.
Suasana malam yang hening.
Sangat hening, sampai pikiranku sendiri membuat suara-suara yang seharusnya tidak pernah ada.
Aku merebahkan tubuhku di kasur yang sama, lagi.
Sampai nafasku dan sayapku yang bergesekan dengan kasur terdengar jelas di telingaku.
Sejujurnya perkataan dari penjaga itu masih berputar di kepalaku.
Aku tidak tau mengapa.
Apa aku berharap dia tau sesuatu tentang Azrel?
Aku mencoba untuk memejamkan mata, berusaha untuk terlelap dalam tidur, dan menunggu beberapa hari lagi untuk jalan itu dibuka.
Tapi… Tubuhku sendiri sepertinya sudah terbiasa dengan kasurnya, yang membuatku tidak bisa terlelap secepat kemarin.
Aku mengangkat sebagian tubuhku, sampai menghadap ke depan. Sofa tempat Kaizo tertidur.
Pals juga berada di laci kecil dekat sofa itu, dengan mata yang terpejam.
Walau senyum kecilnya masih menempel di wajah.
Dengan perlahan aku menurunkan kaki ke lantai.
Berharap tidak mengeluarkan suara yang dapat membangunkan mereka.
Sampai dinginnya lantai berhasil menyentuh kakiku, sekarang giliran tubuhku yang beranjak dari kasur.
Langkahku berjalan menuju pintu depan, sampai berhadapan dengannya.
Tanganku memegang gagang, hendak menurunkan gagangnya.
“Kamu mau kemana, Sera?” ucap Pals yang terdengar cukup dekat di belakangku.
Bahuku sempat menegang sebentar, begitu juga dengan kepalaku yang sedikit kedepan saat mendengarnya.
Dengan pelan aku menoleh ke belakang. Dan Pals berada di bawah lantai dengan wajah menghadap ke diriku.
“P-Pals, dari kapan kesini?” tanyaku sambil berbisik.”
“Aku mendengar langkah yang jalan ke pintu, itu ngebuat aku terbangun,” jawabnya.
“Jadi, kamu mau kemana, Sera?” tanya Pals untuk kedua kalinya.
Aku mengeluarkan gumam rendah.
“Penasaran sama lantai diatas, pengen lihat-lihat. Ga bisa tidur aku soalnya.”