Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #11

[Hari Ke-enam] Bagian Pertama

Matahari kembali bersinar dari timur dengan cahayanya yang masuk melalui jendela dari kamar kami.


Cahayanya mendarat tepat ke wajahku, yang memaksaku untuk bangun lebih cepat dari yang seharusnya.


Aku menguap pelan, dengan salah satu sayapku menutupi mulut.

Rasanya ruangan di sekitarku berputar dengan pelan dengan pandanganku yang masih buram.

Ya… Mau bagaimana lagi. Aku baru tertidur dua jam lalu.


Kami menjalani hari seperti biasa.

Membangunkan Kaizo dan membawa Pals ke genggamanku.

Menunggu Hugo yang sudah di kamar mandi entah berapa lama.


Setelah melakukan rutinitas pagi yang biasa dilakukan para warga biasa.

Kami melangkah keluar dari penginapan.


Tatapanku langsung disambut dengan banyaknya penjaga dari MENDA yang bertebaran di kota.

Mereka berkeliling dari sisi ke sisi. Juga berhadapan dengan warga sini, yang sepertinya mereka menanyakan sesuatu tentang spesimen itu.


Puluhan Drone canggih juga berterbangan di atas mengelilingi kota ini.

Mobil asing yang terparkir kemarin malam juga masih berada di depan penginapan.


Beberapa penjaga bersenjata berjalan dengan gagah melewati kami.

Mereka bahkan tidak menolehkan kepala.


“Perasaan kemarin di jalur keluar doang dah, kok sekarang satu kota gini,” gumam Hugo.


“Kemungkinan mereka memperketat pencarian,” jawab Kaizo.


Aku tidak menjawab ocehan dari mereka berdua.

Hanya menatap datar ke depan.


Heran juga sebenarnya, padahal waktu itu berisik banget, dan mereka masih bisa tidur kayak ga terjadi apa-apa.

Penginapannya kedap suara juga engga.


Kaizo membalikkan badannya, kemudian berjalan melewati kami.

“Akan lebih baik jika aku menunggu di kamar. Kalian bisa pergi berdua.”


Aku mengerjap sekali. Sorot mataku berpindah ke belakang.

“Kai, kenapa? Bareng aja.”


“Iya tuh, takut banget, kaga mungkin mereka ngira lu spesimen,” timpal Hugo.


Kaizo menghentikan langkahnya, kemudian menggerakkan kepala ke samping.

“Kemungkinan ada penjaga yang memiliki pengalaman lebih, bisa saja dia tau soal keberadaanku sebagai subjek-49.”


“Lagipula, ada beberapa orang yang selamat dari insiden MENDA empat puluh lima tahun lalu… Jadi ada kemungkinan mereka juga disini,” ucap Kaizo sekali lagi sambil berjalan pergi.


Aku tidak mengeluarkan kalimat lagi. Hanya membiarkan Kaizo memasuki kamarnya kembali.

Lagipula apa yang dia bilang ada benarnya.


Hugo tertawa tipis. “Waspada banget. Tapi ga salah juga sih.”


Ia menolehkan kepala ke arahku.

“Jadi gimana, Sera? Mau tetep jalan bareng, berduaan? Dengan dirimu saja?”


Aku menatapnya balik.

“Boleh aja sih, sekalian beli makan buat dia.”


Hugo melipat kedua tangannya di belakang kepala.

Kakinya mulai bergerak ke depan, dan aku mengikutinya di samping dengan langkah yang seirama.


“Btw, lu ada alasan gitu ga sih? Kenapa sayap lu… Udah mah di sekitar pinggul, kebalik lagi,” tanya Hugo sambil berjalan.


Aku belum langsung menjawabnya, dan Hugo sudah membuka mulutnya lagi, “Bukannya ada apa-apa. Cuma jarang aja ada spesies manusia setengah burung yang sayapnya Abnormal gini.”


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan darinya.

Atau… Lebih baik tidak usah?


Walau begitu aku mengeluarkan tawa yang dengan cepat berhenti sekaligus senyum tipis ke arahnya.

“Aku bukan spesies burung. Kalo soal sayapku… Aku sendiri juga kurang tau kenapa. Ayahku aja heran.”


Terlihat Hugo yang mengangguk beberapa kali.

“Jadi lu spesies apaan? Elang? Atau merpati?”


“Anggap aja makhluk mitologi, dah misteri selesai ya?” jawabku.


Lihat selengkapnya