Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #13

[Hari Ke-enam] Bagian Ketiga

Aku terlelap dalam tidurku.

Sampai pikiranku kembali hidup, kemudian terbangun.


Aku membuka mataku, dan langsung melihat cahaya lampu yang menerangi kamar ini.

Dari yang tadinya matahari bersinar terang di atas kota, kini hanya gelap yang tersisa.


Aku mengucek pelan mataku, kemudian menoleh ke sekitar.



Terdengar suara TV yang menyiarkan sebuah berita.

Terlihat Kaizo juga yang duduk tegak dan kaku di sofa.


Aku memegang samping kepalaku dengan halus.

“Kaizo?”


Telinga Kaizo sempat terangkat dengan cepat, sebelum menengok ke belakangnya.

“... Sera, kamu sudah bangun?”


“Belum, sleepwalking aku. Pake nanya lagi,” gumamku dengan kesal.


Aku kembali menyapu sekitaran, dan tidak melihat sosok dari Hugo di dalam kamar.


“Hugo mana, Kai?” tanyaku.


Kaizo mematikan TV itu, kemudian beranjak dari sofa.

“Dia keliling kota, atau lebih tepatnya mencari penjaga untuk menanyakan suatu hal.”


Ia menghentikan langkahnya tepat di depanku.

Berdiri tegak, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Maaf karena aku tidak ikut denganmu, yang membuatmu terjerumus ke pencarian mereka.”


Aku yang mendengar itu sudah mendelik lebar.

Mengangkat salah satu tangan yang ku kibaskan pelan.

“E-engga, bukan salahmu. Salah spesimennya sendiri, mendadak seneng ke aku. Kenal juga enggak padahal.”


Kaizo menegakkan tubuhnya lagi.

“Aku hanya mampu memberimu satu saran… Jangan pernah lengah jika kau berada di sekitar mereka.”


Aku sempat terdiam sesaat, sebelum menjawab, “Kenapa?”


“Aku tahu, kamu sudah hidup lebih lama dariku, bahkan sejak fasilitas pertama ada. Tapi…”


…

Kaizo terdiam cukup lama.

Seolah berusaha mengeluarkan kalimat selanjutnya.

“Perspektif setiap orang berbeda. Sedikit saja lengah, kamu bisa saja menjadi korban selanjutnya.”


“Tidak ada yang bisa kau percaya dari mereka. Mau itu spesimen, ataupun orang yang bertanggung jawab,” ucap Kaizo sekali lagi dengan nada lebih berat.


Aku memiringkan tipis kepalaku.

Jelas saja, aku tidak mengerti apa yang dia bilang.

Seingatku, MENDA memang diciptakan karena manusia menginginkan apa yang hewan miliki.

Dan itu juga… Butuh persetujuan dulu ga sih?


Aku berdeham tipis beberapa kali.

“Aku ga bisa percaya kamu juga berarti.”


“Kaizo mengangguk sekali dengan mata terpejam.

“Bisa dibilang begitu, kamu juga inget dengan apa yang terjadi di kota sebelum bertemu Hugo kan?”


Lihat selengkapnya