Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #14

[Hari Ketujuh] Bagian Pertama

Hari ketujuh, atau minggu pertama pencarian.

Baru seminggu ninggalin rumahmu aja udah banyak banget yang kejadian.


-


Cahaya matahari lagi dan lagi bersinar, menembus dari jendela kamar kemudian menyengat ke wajahku.


Aku terbangun dalam tidur yang singkat. Lagi.

Pikiranku secara otomatis langsung merekam kejadian tadi malam, lengkap dengan percakapan dingin dari penjaga itu.


Dengan mata yang masih sayu aku menyapu ruangan, berharap ada orang yang menyambutku.


Kaizo terlelap di sofa, begitu juga dengan Pals di laci samping.

Hugo pun tidak ada di ruangan ini.

Atau… Itu yang aku pikirkan, sebelum pintu di dalam kamar kami terbuka, dengan asap samar yang keluar dari dalam.


Hugo berjalan keluar sambil mengusap rambut, kemudian wajahnya dengan handuk.


Tatapannya langsung mengarah ke diriku ketika menyampir handuk ke bahu.

“Eh, Ser. Bangun lu.”


Aku mendorong kedua tanganku kedepan, yang perlahan ku rentangkan sepanjang mungkin ke samping.

“Jam berapa sekarang…?”


Hugo mengangkat bahunya, juga memalingkan wajah sesaat ke samping.

“Gatau, disini aja jam dinding, liat aja kesana.”


“Kasih tau dimana… Aku males nyari,” balasku.


“Di atas TV, tempat Kaizo tidur.”


Aku mengarahkan pandanganku ke dinding ujung.

Jam dinding terpasang di atas sana, dengan detakan pelan yang maju kedepan setiap detiknya.


Aku memicingkan mataku. Berusaha melihat jam berapa sekarang.

…

10:57.


tiga belas menit lagi, dan aku mau tidak mau mengikuti pencarian itu.


Dengan hembusan nafas berat, aku beranjak dari kasur kemudian melangkah ke kamar mandi.


“Lu nyetujuin yang penjaga kemarin minta?” tanya Hugo.


Sebelum menjawab, aku berjalan melewatinya.

“Penjaganya bener. Subjek tuh tertarik sama aku. Ga ada pilihan lain…”


Hugo terkekeh pendek.

Terdengar seperti ejekan untukku sendiri.

“Kasian banget sih~, yaudah semangat ya. Jangan lupa nanti minta upah. Biar mereka ga nyuruh lagi.”


Aku tidak menjawab apapun. Bahkan tidak berniat untuk menjawabnya.

Pintu kamar mandi aku tutup, kemudian menyalakan air di dalam.


…

Beberapa menit berlalu.

Aku mengeringkan sayapku dengan hair dryer di penginapan ini.


Sampai dirasa sudah cukup, aku beranjak dari kasur.


Sebelum meninggalkan ruangan, aku sekali lagi menatap ke jam dinding.


Jam disana sudah menunjukkan pukul 11:10.

Waktu yang penjaga itu minta.


“Apa kamu butuh ditemani? Aku siap ikut kalau perlu,” ucap Kaizo yang menawar bantuan.


Lihat selengkapnya