Aku melewati setiap penjaga dan warga di sekitar.
Dengan penjaga bernama Acheron itu, dan penjaga di belakang. Aku seakan menjadi tahanan yang akan dibawa ke tempat terakhir yang buruk.
Terlalu kaku… Dari penginapan sampai dekat ke jalur keluar. Kita bertiga tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Yang padahal penjaga lain masih mengobrol santai dengan tatapan lurus.
Sedangkan ini? Bagai patung yang diberi nyawa tapi bukan jiwa.
Acheron membelokkan arah jalannya ke samping. Masuk ke dalam gang kecil yang tertutup dengan bangunan tinggi di kota.
Aku dengan terpaksa juga ikut berbelok, begitu juga dengan penjaga di belakang.
Kami sekali lagi melewati perumahan, yang kali ini lebih gelap namun tetap ada kehidupan.
Aku mencoba menoleh ke sekitar, sekiranya spesimen itu sudah memperhatikanku.
Sama seperti sebelumnya.
Hanya bangunan dan hewan biasa. Tanpa ada yang menatap dengan aneh ataupun entitas berjubah.
Kami tiba di salah satu sisi kota ini.
Jembatan panjang terbangun di atas memutari bangunan tinggi lainnya. begitu juga dengan suara mesin yang terdengar dekat dan semakin jauh.
Beberapa perumahan yang cukup besar juga berada di bawahnya.
Acheron menoleh ke sekitar, kemudian menoleh ke belakang.
Penjaga di belakang ku sebelumnya berjalan mendekatinya.
Sebuah perbincangan singkat terjadi di antara mereka.
Aku juga baru sadar kalau penjaga itu membawa tas cukup kecil dengan tali mengelilinginya.
Penjaga itu mengeluarkan jubah putih bersih yang telah terlipat rapi.
Acheron langsung mengambilnya tanpa keraguan.
Tatapan dari Acheron berpindah ke mataku.
“Subjek-29 harusnya akan datang. Untuk bertemu denganmu, juga untuk jubah ini.”
Ia berjalan mendekatiku.
Bahkan bisa dibilang… Sangat dekat.
“Kami akan meninggalkanmu sementara. Atau bisa dikatakan sebagai bersembunyi, tugasmu hanyalah satu.”
Tangannya yang memegang jubah itu terangkat ke depanku.
“Bawa dia datang, dan pastikan dia tidak akan curiga.”
Setelah mengucapkan itu.
Ia mendorong jubah putih itu cukup kuat, sampai menempel ke tubuhku.
Tanganku otomatis menangkapnya agar tidak terjatuh.
“Marco, kita pergi sekarang,” ucap Acheron sambil berjalan melewatiku.
Penjaga yang bernama Marco tidak menjawab apapun.
Hanya berlari pelan menghampiri Acheron.
Meninggalkanku sendiri di bagian lain kota ini.
…
Aku masih bisa ngelakuin sesuatu, kan? Ga cuma diem di tempat jadi patung.
Menit demi menit berlalu dengan lambat.
Tapi belum juga ada tanda kalau makhluk itu akan muncul.
Hanya mendengar suara mesin dari mobil, dan terkadang desisan dari truk yang lewat.
Tidak ada orang yang ku kenal selain diriku sendiri.
Aku bersandar di pagar rumah kosong dengan banner bertuliskan “dijual” tertempel di pagar sebelahku.
Aku meletakkan jubah putih yang masih terlipat itu di aspal.
Sesekali aku membayangkan bagaimana kehidupan ku selanjutnya saat bertemu dengannya.
Atau gimana kalau aku tidak pernah mencarinya, atau… Insiden empat puluh lima tahun lalu tidak pernah terjadi.