Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #16

[Hari Ketujuh] Bagian Ketiga

“Maksudnya, kita bakal pake rencana cadangan. Atau B kalo di film-film,” bisik Marco.


Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan bingung.


Marco menghela nafas pelan.

“Ga dikasih tau, ya? Mana aku ga bisa jelasin lagi.”


Ia merubah posisi duduknya menjadi bersila, sembari membungkukkan tubuh.


Tapi tidak lama juga, tubuhnya kembali bersandar dengan tatapan mengarah ke atas.

“Tapi dikasih tau juga percuma. Kalo nanti ketahuan juga.”


Salah satu kakinya bergerak naik dan turun dengan cepat.

“... Singkatnya itu… Kamu boleh keliling kota ini, sendirian. Udah itu aja.”


Pikiranku otomatis memutar kalimat yang diberikan Marco. Mencari celah dan petunjuk yang ada disana.


Sampai Marco sendiri beranjak dari tempatnya duduk sambil berdeham beberapa kali.

“Aku ke toilet dulu. Agak lama tapi.”


Aku mengerjap cepat, kemudian mengangkat pandanganku.

“Bentar dulu, aku masih istirahat.”


“Istirahat aja sampe kamu bisa jalan lagi. Lama juga gapapa,” balas Marco sambil berjalan.


Tapi disaat itu juga, ia menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang.

“Itu kalo kataku sih, kalo kata Acheron sendiri…”


Ia mengangkat bahunya sambil tersenyum kecil, kemudian berjalan kembali menjauhi diriku.


Aku disitu hanya bisa duduk diam.

Masih belum mampu menggerakkan kakiku lagi.


Marco telah menghilang dari pandanganku.

Suasana kembali sepi.

Satupun penghuni di rumah ini juga tidak ada.

Entahlah, mungkin mereka bekerja.


Sampai cahaya matahari mulai tertutup dengan jalan besar yang berada di atasku.

Menciptakan tempat yang teduh untuk aku mengumpulkan tenaga lebih cepat.


Setelah beristirahat cukup lama.

Aku beranjak dari tempat duduk tadi, sembari menepuk pelan celanaku dari debu yang menempel.


Langkahku mulai menyusuri rumah yang terlihat kosong itu lagi.


Sampai menemukan tiga titik pertemuan.

Tubuhku berbelok ke arah kanan.

Sunyinya rumah, mengisi pikiranku yang kosong.


Sampai…

Aku kembali mendengar suara desiran lembut dari kain yang terkena angin.


Dengan cepat aku menolehkan kepala ke sekitar.

Melihat setiap sudut di deretan rumah disini.

Sampai melihat ke jalanan besar di atasku.


…

Tidak ada apapun.

Tapi suara desiran itu terdengar lembut dan jelas.


Dengan langkah cepat aku mengintip melalui pagar setiap rumah. Berharap mahkluk itu berada di dalam.


Sampai aku mengintip ke rumah lain untuk kelima kalinya.

Terlihat jubah putih yang berkibar di dalam rumah.


Lampu di dalam juga menyala terang, memperlihatkan makhluk itu dengan jelas.


Jubah yang sama, dengan figur manusia.

Sama seperti yang aku lihat kemarin malam.


“areS,” ucap makhluk itu dengan terbalik.


Aku… Pastinya tidak mengerti apa yang dia ucapkan.


Jubah itu berbalik, memperlihatkan sisi belakang, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


“Tunggu!” ucapku dengan keras.


Aku menggeser gerbang masuk ke kiri. Tapi gerbang itu tetap tertutup.


Langkahku kemudian mundur beberapa meter, sambil menatap pagar itu.

…

Lihat selengkapnya