Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #17

[Hari Ketujuh] Bagian Keempat

Ini pertama kalinya sampe empat bagian gini.

Ya… Satu minggu pertama emang lumayan berisi sih. Jadi mau gimana lagi.


-


Malam kembali tiba.

Cahaya bulan yang menyinari kota dengan redup. Sampai memerlukan bantuan dari lampu kota untuk meneranginya.


Aku menghentikan langkahku di pintu kamar, memandang ke arah gagangnya.


Kami sempat tersesat cukup lama karena Acheron tidak ada.

Aku juga baru tau kalau Marco sebenarnya buta arah.


Pintu ku dorong perlahan, memperlihatkan ruangan dengan lampu redup di dalamnya.

Samar terdengar suara dari TV yang menyala.


Aku berjalan pelan melewati lorong pendek sebelum kasur dan interior dari kamar menyambut.


Sampai tatapanku menangkap Hugo yang menduduki sofa di kamar, dengan Pals yang berada di tempat yang sama, yaitu laci kecil.


“...Hugo?” panggilku.


Hugo menolehkan kepala ke belakang.

“Loh, Ser? Udah selesai ekspedisinya?”


Aku menganggukan kepala sekali.

“Udah, daritadi sih. Cuma baru nyampe rumah sekarang.”


Tatapanku berpindah-pindah untuk mencari Kaizo. Sebelum kembali terhenti ke Hugo.

“Kaizo mana? Tumben ga di kamar?”


Hugo menghadapkan kepalanya ke langit-langit atap.

“Keluar rumah dia, tapi ga tau kemana.”


Ia meletakkan tangannya di atas sandaran sofa.

“Eh, Ser. Gw tau dia spesimen, tapi… Ada momen dia kayak… Lu tau lah, kehilangan kendali gitu?”


Aku berdiri diam cukup lama, juga tidak menjawab secara langsung.

“... Pernah… Kenapa emang?”


Hugo berdesis pelan cukup panjang, sambil menarik kerah baju.

“Tandanya gimana? Soalnya… Tadi dia keluar rumah kayak orang sakit gitu.”


Saat mendengar itu.

Mataku sontak membelalak cukup lebar.

Tanpa sadar tanganku juga memegang leher.

“... K-kamu… Liat dia kayak gimana?”


Hugo mengangkat bahunya.

“Ga tau, tapi pokoknya dia jalan lemes aja. Agak sempoyongan sih. Oh, iya. Sama cakar rubahnya keluar.”


Aku tidak menjawab.

Atau tidak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Satu-satunya yang terlintas ke pikiranku saat itu hanyalah…

Apa yang akan terjadi dengan orang lain saat berpapasan dengannya.


“... Bahaya ya?” tanya Hugo dengan polos.


“Bantu aku cari dia. Sekarang,” jawabku dengan cepat.


Aku berjalan cepat menuju Pals yang berada di laci, kemudian membawanya pergi bersamaku.


“Oke, bahaya keknya kalo udah gini,” gumam Hugo.


Kami berdua berjalan menyusuri lorong dari penginapan ini.

Melihat ke segala pintu kamar yang ada.


“Dia ada di lantai ketiga. Kamar nomor tiga puluh lima,” ucap Pals.


Aku menatapnya sesaat.

“Makasih, Pals,” ucapku sambil mempercepat langkah.


Kami menaiki tangga dengan cepat, sampai tiba di lantai ketiga.

Mataku langsung menangkap setiap nomor yang ada di lantai ini.

Dari nomor 10 sampai seterusnya.

Lihat selengkapnya