Hari…
Entah sudah berapa hari aku di kota Dern, ya? aku sendiri udah lupa.
-
Lagi dan lagi cahaya dari matahari menyebar dengan perlahan di kota itu.
Yang awalnya tertutup oleh bangunan tinggi. Sampai cahayanya masuk menembus jendela kamarku.
Aku menduduki kasur sambil mengeringkan sayap dengan hair dryer yang ada di kamar ini.
Suara hembusan yang keras mengisi ruangan itu, membuat ruang kosong di pikiranku terisi dengan kejadian kemarin.
Mataku terpaku menatap ke sayap putihku yang terbaring di kasur.
Membayangkan tangan dari makhluk itu yang hampir menyentuh wajahku.
Kalimat yang keluar balik jubah itu, yang Pals artikan sebagai “berikan sayapmu.”
Aku mendengar suara dari Hugo yang memanggilku. Tapi… Pelan, juga sedikit menggema.
Tapi tatapanku tetap membeku. Terombang-ambing dengan pikiran sendiri.
Sampai sebuah tangan memegang bahuku. Yang membuat tubuhku sontak menegang sejenak.
“Woi, Ser! Punya sayap jangan diliatin mulu. Iri gw,” gumam Hugo dengan keras di belakangku.
Aku mengerjap beberapa kali, kemudian mematikan hair dryer yang aku pegang.
“K-kenapa? Ada apa?”
Hugo menurunkan satu alisnya. “Kenapa? Jadi ga kita keluar? Katanya mau beliin Kaizo makan.”
Aku terdiam sebentar disitu.
Memalingkan wajah sedikit, disertai anggukan sekali.
“Jadi kok, bentar. Aku ngeringin sayapku yang satunya.”
Hugo membalikkan badannya, berhadapan ke pintu keluar.
“Yaudah, gw tungguin diluar.”
Aku tidak menjawab apapun. Sampai terdengar suara pintu terbuka dan tertutup di waktu yang berdekatan.
…
Beberapa menit berlalu tanpa jeda.
Aku beranjak dari kasur, kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Tapi langkahku sempat terhenti di lorong kecil, dengan kepala menoleh ke belakang.
“Kai, kamu disini lagi?”
Kaizo menolehkan kepala ke arahku.
“Iya, aku akan keluar ketika mereka sudah pergi. Untuk sekarang aku tidak bisa banyak membantumu.”
Aku tersenyum tipis ke arahnya.
“Gapapa, ku beliin sesuatu nanti diluar.”
“Pals, jagain dia ya?” ucapku sekali lagi ke arah Pals.
“Gimana caranya jaga dia kalau aku cuma seonggok bola kecil?” tanya Pals.
“Ga tau sih, cuma basa-basi aja aku,” balasku sambil lanjut melangkah.
Aku membuka pintu kamar dan langsung disambut dengan Hugo yang bersandar di dinding samping.
Tatapannya langsung mengarah ke diriku.
“Udah? Dandannya?”
“Dandan… Apa?” tanyaku dengan ragu.
Hugo tidak menjawab.