Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #19

[Hari Kedelapan] Bagian Kedua

“Kamu mau apalagi dateng kesini?” tanyaku sambil memandang ke atas.


Acheron yang berdiri di belakangku tidak langsung menjawab.

“... Kontrak kita yang kemarin belum berakhir. Kamu masih punya tugas bersama kami.”


Aku menurunkan salah satu alisku, dan kepala yang sedikit miring.

“Kamu sendiri bilang kemarin, kalo pencarian udah berakhir. Kita dah nangkep tuh makhluk kan?”


“Itu hanyalah kulit mati, atau kita sebut sebagai Subjek-29-2, digunakan olehnya untuk distraksi,” jelas Acheron.


“Kami tidak memaksamu untuk ikut, lagipula… Kamu sudah mencari target dari spesimen itu dari awal kamu datang,” ucap Acheron untuk kedua kalinya.


Ia membalikkan badan setelah mengatakan itu, dengan langkahnya yang mulai menjauh.


Tapi aku ikut beranjak dari kursi, kemudian menghentikannya.

“Tunggu dulu, kamu tau aku disini lewat mana?”


Acheron menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke samping.

“Alat pelacak. Saat kamu terbang melewati pagar, sehelai bulu terjatuh. Aku mengambilnya untuk melacakmu.”


Aku tidak memberi respons ke jawaban itu.

Melainkan ingin melontar satu pertanyaan lagi.


Tapi Acheron menyela kalimatku, dengan mengatakan,

“Kalau soal temanmu… Marco sebelumnya berada di dalam, dia kemungkinan sudah memberi tahu soal ini.”


Aku mengeluarkan decakan tipis.

Seolah dia memang tau segala yang terlintas di pikiranku.


Tanpa menunggu persetujuan dan jawaban dariku.

Ia kembali melangkah pergi.

“Ikut denganku sekarang, atau bersama Marco saat dia selesai makan siang.”


Aku disitu hanya berdiri diam menatapnya.

Sampai perlahan menghilang dari kumpulan warga dan kendaraan yang berlalu-lalang.


Tubuhku kembali duduk ke kursi, membalikkan badan menghadap ke bangunan itu.


Sampai saat ini Hugo juga tidak kunjung menampakkan dirinya.


Setelah cukup lama menunggu, wajah yang familiar akhirnya keluar dari pintu.

Walaupun… Bukan dia.


Marco berjalan mendekatiku.

Mengenakan pakaian seperti penjaga lain, bedanya hanya dia sendiri yang membuka kaca pelindung wajahnya.


Langkahnya berjalan menghampiriku, lalu berhenti di samping.

“Dia ngasih perintah lagi, Liv?”


Aku mengangkat pelan kedua bahu, sambil melirik ke arah lain.

“Gitu deh, kalimatnya sih ga ngasih perintah. Tapi nadanya ga gitu.”


Marco terkekeh sekali. “Ya, gitu lah, beban pekerjaan. Jadi gimana? Setuju?”


“Biar cepet selesai, aku setuju aja dah,” balasku sambil beranjak dari kursi.


Marco menutup kaca pelindung di wajahnya.

“Oke, aku ga bisa banyak ngobrol nanti. Maklumin lah ya, lagi kerja. Ga kayak kemarin.”


Gumaman pelan keluar dari mulutku.

Lihat selengkapnya